• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Metropolis

Ngaji Binnur: Santri Harus Bangun Pola Pikir Digital

Ngaji Binnur: Santri Harus Bangun Pola Pikir Digital
Ilustrasi santri melek digital. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi santri melek digital. (Foto: Istimewa)

Mojokerto, NU Online Jatim
Era digital sudah tidak bisa dihindari, oleh karenanya santri sebagai generasi penerus hendaknya terus berupaya untuk membangun pola piker digital. Hal tersebut disampaikan Redaktur NU Online Jatim, Romza dalam kegiatan Bincang NU Online Jatim Ramadhan atau Binnur yang mengusung tema ‘Potensi Santri di Era Digital’ pada Kamis (21/04/2022).


Disampaikan, bahwa mindset atau pola pikir santri hendaknya mulai diubah. Santri yang masih berpikir era lama seyogyanya diubah ke gaya baru. Persoalan pola pikir ini penting agar memiliki kesadaran yang baik untuk masa mendatang.


“Santri itu tidak pernah kaget dalam proses adaptasi. Sudah biasa diajarkan di kalangan kita mengambil era baru yang baik dan mempertahankan era lama yang masih baik,” katanya.


Menurutnya, secara umum yang harus dipahami seorang santri pertama ialah penguasaan teknologi informasi. Jadi, pembelajaran terkait ilmu-ilmu agama penting diketahui dengan dibarengi dengan pengetahuan berbasis teknologi. Saat ini, santri selayaknya menjadi penggerak dan tidak hanya jadi penikmat.


“Kalau hanya menikmati saja, susah ada di depan. Kita punya potensi pengetahuan, makanya harus belajar teknologi informasi yang lebih detail. Contohnya, Ainun Najib dari Gresik yang dibanggakan oleh Presiden Jokowi terkait teknologi digitalnya,” terangnya.


Kedua, tidak lupa bahwa di era saat ini semuanya harus diubah ke serba digital. Semisal di sektor ekonomi yang mulai memanfaatkan teknologi dan diberi nama digitalpreneur. Ketiga, pesantren terjun ke industri digital.


“Bukan hanya wirausaha, tapi layanan di luar itu. Contohnya game online kalau dimaksimalkan dengan baik dapat menghasilkan uang. Bahkan, pemerintah sudah mengakui bahwa sektor itu profesional,” ungkapnya.


Menurut Romza, kelebihan dari tekonolgi digital sendiri yakni serba dimudahkan, termasuk dalam hal interaksi dengan setiap seseorang. Sementara kekurangannya ialah media sosial yang tidak terbatas ruang waktu bisa dengan mudah membuat konten. Bahkan, dapat memprovokasi hingga munculnya hoaks.


“Info provokatif dan hoaks tersebut merupakan bagian dari tantangan di era digital ini. Untuk menghindarinya harus tabayun dengan mencari informasi pembanding dari sumber yang kredibel,” tandasnya.


Metropolis Terbaru