• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Nusiana

Cerita Kiai Ajak Santri Main Catur, Antara Senang dan Tegang

Cerita Kiai Ajak Santri Main Catur, Antara Senang dan Tegang
Kiai Ashfiya’ tampak serius bermain catur dengan para santri (Foto: NOJ/ Haafidh NS Yusuf)
Kiai Ashfiya’ tampak serius bermain catur dengan para santri (Foto: NOJ/ Haafidh NS Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim

Saat libur sekolah tiba biasanya para santri menganggur alias tidak ada aktivitas pembelajaran di Pondok. Tak jarang banyak santri yang memanfaatkan waktu liburnya untuk bermain ataupun bersenda gurau dengan teman-temannya di teras kamar masing-masing.


Berbeda dengan Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang nahdlatul Ulama (PCNU) Nganjuk sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kampungbaru, KH M Ashfiya' Hamida Mujahid yang justru mengajak santri-santri bermain catur disaat waktu senggang untuk sekedar penyegaran.


“Saya sering mengajak para santri bermain catur. Tentu dilakukan pada waktu senggang, tidak ada musyawarah, atau masa libur sekolah,” tutur Kiai Ashfiya saat dihubungi NU Online Jatim, Sabtu (03/09/2022).


Disampaikan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri tersebut, bukan tanpa alasan dirinya mengajak  para santri bermain catur. Tujuanya permainan tersebut adalah memberikan penyegaran setelah berhari-hari belajar agar pikiran rilex dan semangat kembali dalam mendalami ilmu agama.


Kiai Ashfiya’ mempunyai prinsip dalam mendidik santri, yakni dengan mengutamakan disiplin namun diimbangi beragam aktivitas reaktualisasi yang dilakukan bersama-sama.


“Biasanya dalam belajar para santri kita tertibkan supaya disiplin, sehingga mungkin ada santri yang memiliki rasa takut kepada pengasuh. Nah, dengan mengajak santri bermain rasa takutnya jadi hilang berganti kegembiraan dan keceriaan,” jelasnya.


“Meski demkian, masih ada santri yang canggung atau bahkan tegang atau sungkan saat saya ajak bermain. Namun mereka tetap profesional dalam bermain. Dalam bahasa tasawuf antara Khauf dan Raja’ harus seimbang,” sambung Kiai Ashfiya’.


Ia berpesan kepada generasi muda Nahdlatul Ulama agar istiqamah dalam belajar. Menurutnya, tantangan zaman semakin hari semakin kompleks, tentu hal itu berbeda dengan tantangan zaman sekarang.


“Ingat, jangan hanya belajar sesuai perkembangan saja, prinsip yang pokok adalah ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,  baru ilmu-ilmu yang lain. Manusia adalah anak zaman, kalau tidak bisa mengikuti maka akan terlindas dengan zaman itu sendiri,” pungkasnya.


Editor:

Nusiana Terbaru