• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Nusiana

Humor Gus Dur soal Mamnu’ Dukhul bagi Jamaah Haji

Humor Gus Dur soal Mamnu’ Dukhul bagi Jamaah Haji
Gus Dur menceritakan kisah lucu jamaah haji dari Indonesia soal tulisan mamnu' dukhul. (Foto: NOJ/NU Network)
Gus Dur menceritakan kisah lucu jamaah haji dari Indonesia soal tulisan mamnu' dukhul. (Foto: NOJ/NU Network)

Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid adalah sosok kaya humor. Termasuk menyangkut jamaah haji dari Tanah Air. Bahkan cerita bernada guyonannya disampaikan kepada Fahd bin Abdul Aziz al-Saud saat menjadi raja Arab Saudi. Dan itu adalah peristiwa langka karena sang raja terpingkal-pingkal.


Menurut Gus Dur, bahasa Arab yang digunakan jamaah haji Indonesia menggunakan bahasa Arab yang terdapat di kitab klasik atau kuno. Dan itu berbeda dengan bahasa Arab modern yang dipakai di Arab Saudi.


“Oh ya, contohnya apa?,” tanya Fahd dengan serius.


Gus Dur kemudian menceritakan bahwa ada seorang kiai dari Indonesia bersama pembantunya pergi haji. Setelah menaruh barang-barangnya mereka keluar asrama. Di samping asrama jalan satu arah. Karena posisi kiai dan pembantunya masuk dari arah depan, mereka membaca plang bertuliskan “No Entry (tidak boleh masuk)” sedang bahasa Arabnya ditulis “Mamnu’u Dhkhul”. Itu artinya tidak boleh masuk dari depan.


Lalu kiai tersebut menggerutu kepada pembantunya setelah membaca “mamnu’ dukhul” tersebut. Baginya, bahasa tersebut sangat tidak pantas dan tidak akan mungkin dilakukan jamaah haji dari mana pun.



Kiai tersebut menggerutu karena “dhukhul” dalam kitab kuno bermakna hubungan seksual antara suami dan istri. Oleh sebab itu, kiai itu heran di tempat itu ada bacaan dilarang “dhukhul”.


“Orang sini keterlaluan,” ujar kiai itu.


“Kenapa?,” tanya pembantu kiai itu dengan wajah heran


“Masak ‘begitu’ (hubungan badan) kok di jalan,” kata kiai itu.


Mendengar cerita itu, kata Gus Dur, Raja Fahd tertawa terpingkal-pingkal.


Setelah kembali ke Jakarta, sepekan kemudian Gus Dur mengaku mendapatkan surat dari seorang warga negara Arab Saudi yang bertuliskan: “Terima kasih Anda telah membuka mulutnya raja kami,” karena semenjak jadi raja Fahd tidak pernah membuka mulut, apalagi tertawa terpingkal usai mendengar cerita dari Gus Dur tersebut. 


Editor:

Nusiana Terbaru