• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 23 Februari 2024

Opini

Kontekstualisasi Keilmuan Berbasis Integrasi-Interkoneksi dalam Pagar Nusa

Kontekstualisasi Keilmuan Berbasis Integrasi-Interkoneksi dalam Pagar Nusa
Kontekstualisasi Keilmuan Berbasis Integrasi-Interkoneksi dalam Pagar Nusa. (Foto: NOJ/ DTk)
Kontekstualisasi Keilmuan Berbasis Integrasi-Interkoneksi dalam Pagar Nusa. (Foto: NOJ/ DTk)

Oleh: Nur Muhammad Ikhsanun*)

Menjadi kader Nahdlatul Ulama (NU) adalah sesuatu yang cukup dapat dibanggakan, tentu saja tanpa rasa ‘ujub. Terlebih menjadi mahasiswa kampus Islam negeri sekaligus kader organisasi kemasyarakatan Islam terbesar dunia. Hal demikian yang membuat hati tergerak untuk memberikan sumbangsih pemikiran sebagaimana dalam pembahasan kali ini. Semoga dengannya dapat memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.


Nahdlatul Ulama merupakan organisasi kemasyarakatan Islam yang selama ini selalu menggerakkan dan mengenalkan moderasi beragama. Islam yang rahmatan lil alamin bukanlah Islam yang ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Dalam artian, posisi NU sendiri merupakan pasak yang mengokohkan cita-cita para ulama yang telah memperjuangkan negara Indonesia berdiri berdasarkan Pancasila. Dalam laman resmi nu.or.id, disebutkan pada Oktober 2021 Survei Poltracking Indonesia menyebutkan bahwa 41,9 % responden secara terbuka mengaku terafiliasi atau merasa sebagai Nahdliyin secara kultural. Bukti bahwa pasak yang ada sebenarnya sudah cukup kokoh, hanya perlu perawatan agar menjadi kader –walaupun secara kultural– yang memahami arah gerak organisasi.


Penulis saat ini merupakan salah satu mahasiswa ‘tua’ kampus Islam negeri di Yogyakarta, yakni UIN Sunan Kalijaga. Yang kebetulan pula menjadi salah satu anggota Pagar Nusa, badan otonom NU yang mengurusi pencak silat. Hal yang ingin penulis sampaikan adalah bagaimana mengupas kekhasan model pendidikan yang sejalan antara UIN Sunan Kalijaga dan Pagar Nusa. Selain menarik, tentu saja pemikiran nilai-nilai Islam dalam keilmuan kampus masih cukup relevan untuk ditelaah.


UIN Sunan Kalijaga merupakan salah satu pionir yang mengenalkan konsep pembelajaran integrasi-interkoneksi ilmu. Dikotomi keilmuan, atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan, yakni ilmu agama dan ilmu umum. Hal tersebut merupakan titik tolak lahirnya konsep integrasi-interkoneksi. Penulis meminjam konsep tersebut untuk membuktikan bahwa terdapat satu tempat yang telah menerapkan integrasi-interkoneksi keilmuan, yakni Pagar Nusa.


Dalam konsep Islam, sejatinya semua ilmu yang ada di dunia adalah milik Allah SWT yang diturunkan untuk manusia sebagai khalifah fil ardh’. Maka selayaknya terdapat kritik atas pemisahan keilmuan yang nyata-nyata mengesampingkan satu sama lain yang pada muaranya dimungkinkan mengenyampingkan peran Tuhan Yang Maha Esa. Pagar Nusa sebagai salah satu wadah pencak silat yang mengorganisir perguruan pencak silat yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama telah membuktikan konsep integrasi-interkoneksi keilmuan dapat berjalan baik. Dua hal yang saling berhubungan dalam Pagar Nusa, pencak silat dan Islam ala Ahlusunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.


Pencak silat merupakan salah satu tradisi bela diri yang sering dikatakan sebagai warisan budaya nenek moyang. Pencak silat sangat berkaitan dengan hal-hal fisik dengan olah jurus baik serangan, hindaran, pernafasan, dan lainnya. Sedangkan, nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama ialah Islam yang bercorak Ahlusssunnah wal Jamaah, yang jika dijabarkan secara sederhana ialah ajaran Islam yang dalam bidang akidah mengikuti Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam bidang fiqh mengikuti satu dari empat imam madzhab yakni Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Yang terakhir, dalam bidang tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi.


Dua komponen tersebut merupakan bukti faktual integrasi-interkoneksi keilmuan yang paling nyata dalam tradisi bela diri modern. Seorang pendekar Pagar Nusa selain tangkas dan mahir dalam hal tehnik pencak silat, juga dilengkapi dengan benteng rohani yang cukup kuat, yakni religiusitas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.


Pola pendidikan kader Pagar Nusa sudah cukup tertata dengan berbagai materi, baik fisik, lisan, maupun mental ideologi yang secara bertahap dibentuk untuk menjadikan pendekar yang ber-NU secara kaffah. Terlebih menurut hemat penulis, kader Pagar Nusa yang mengenyam pendidikan tinggi harus menjadi agen penggerak dalam proses-proses yang mendukung terbentuknya kondisi masyarakat Islam yang moderat dan rukun. Dengan bekal integrasi-interkoneksi keilmuan dua komponen pokok di atas seharusnya mampu untuk mengambil peran dalam setiap kegiatan di masyarakat.


Apabila penulis menyebut ‘Kader Pendekar Aswaja Kampus’ tidak sekadar agent of change bahkan dapat menjadi agent of control. Era yang dihadapi saat ini, adalah era dimana sosial media dapat menjadi bola liar yang tak terkendali untuk memecah masyarakat menjadi dua kubu yang berseteru. Konflik horizontal antar masyarakat seringkali terjadi hanya karena satu percikan berita maupun statement liar yang dilempar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengadu domba satu sama lain. Maka ‘Kader Pendekar Aswaja Kampus’ harus mengambil bagian sebagai kontrol sosial media walaupun hanya dengan sedikit peran kecil, mulai dari mengenalkan kebiasaan tabayyun (klarifikasi) terhadap suatu hal yang rancu maupun bersikap waspada terhadap segala sesuatu yang membahayakan kerukunan umat beragama.


Akhirnya, kampus sebagai laboratorium pendidikan haruslah bijaksana terhadap keilmuan, dan sebaiknya semua institusi pendidikan di segala level sebaiknya menggunakan konsep integrasi-interkoneksi dalam segala hal yang berkaitan dengan keilmuan yang dikelola. Sehingga tidak melupakan religiusitas sebagai sebuah bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa.


*) Nur Muhammad Ikhsanun, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pengurus PC PSNU Pagar Nusa Kota Yogyakarta.


Opini Terbaru