• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Opini

Milenial sebagai Garda Terdepan Penebar Islam Wasathiyah

Milenial sebagai Garda Terdepan Penebar Islam Wasathiyah
Kalangan milenial hendaknya mendapat asupan Islam wasathiyah. (Foto: NOJ/INd)
Kalangan milenial hendaknya mendapat asupan Islam wasathiyah. (Foto: NOJ/INd)

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan memiliki 17.504 pulau. Dengan luas daratan yang besar dan luas, serta dihuni oleh 261,6 juta jiwa penduduk. Maka tidak dapat dipungkiri memiliki potensi sumber daya alam (SDA) sangat besar. Namun yang menjadi tolok ukur suatu negara bukan hanya dilihat dari faktor tersebut, melainkan juga sumber daya manusia (SDM). Dimana potensi ini adalah aset yang harus dikembangkan kemampuan dan kompetensinya dalam menjalankan roda kemajuan suatu bangsa.

 

Berbicara SDM, tentunya sangat lekat dengan penerus perjuangan bangsa yang tidak lain adalah generasi milenial. Mereka merupakan stakeholder dan agent of change suatu bangsa. Karena tanpa adanya campur tangan mereka, maka pergerakan suatu bangsa akan pasif. Generasi milenial harus siap mendedikasikan diri untuk bangsa dan negara. Di tangan merekalah letak baik buruknya suatu bangsa. Dalam artian, jika generasi milenialnya baik (berakhlak terpuji), maka baiklah bangsa itu. Sebaliknya jika generasi milenialnya buruk, maka bangsa tersebut tinggal menunggu datangnya kerusakan.

 

Soekarno pernah berkata: Beri aku 10 pemuda, maka akan aku guncangkan dunia. Melihat dari pesan tersebut, sang proklamator mengakui bahwa eksistensi dan keaktifan pemuda sangat menentukan masa depan negeri. Generasi milenial dalam posisi ini diakui sebagai aset yang bernilai besar bagi bangsa, sudah selayaknya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat.

 

Melihat Ancaman

Akhir-akhir ini dinamika umat Islam di Tanah Air sedang ramai dengan munculnya paham impor yang tidak sesuai dengan karakteristik bangsa. Sejumlah paham baru ini perlu diwaspadai karena cenderung bukan mempererat dan menguntungkan, namun justru memporak-porandakan. Karena menawarkan fenomena Islami seperti khilafah yaitu menjadi muslim kaffah dan jargon Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yaitu kembali kepada Al-Qur’an, namun di samping itu terdapat tujuan tertentu yang disembunyikan. Kelompok ini mengembangkan seperangkat ajaran berbeda dengan Islam mayoritas yang dipraktikkan umat Islam. Penyebarannya terjadi di semua strata sosial, mulai dari kalangan umum, institusi pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Yang sangat mengejutkan beberapa kasus korban penyebaran paham tersebut banyak dari kalangan mahasiswa dan alumni perguruan tinggi ternama. Padahal mereka yang memiliki pendidikan mumpuni kelak akan membangun bangsa, justru malah menjadi sasaran utamanya.

 

Sejumlah warga di Sumatera Utara pada tahun 2011 mengaku kehilangan anaknya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Salah satu warga bernama Khudri mengaku kehilangan sang anak,  Deyulanti sejak tahun 2009. Yang bersangkutan merupakan alumni Universitas Sumatera Utara dan menghilang sejak mengikuti sebuah kelompok pengajian di kampusnya. Khudri menduga Deyulanti menghilang karena terbawa paham yang menyesatkan. Pada tahun 2009 Khudri pernah mendapat kabar bahwa anaknya berada di Aceh. Namun setelah ditelusuri selalu dipersulit untuk bertemu anaknya, padahal bukti berupa kartu tanda penduduk jelas-jelas diketahui. MUI Sumatera Utara menyebutkan kemungkinan aliran tersebut bernama Alhaq dan Alhijrah, namun jika dilihat dari cara perekrutannya aliran tersebut mirip dengan NII atau Negara Islam Indonesia yang berpaham bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kafir. Biasanya perekrutan dilakukan dengan pendekatan melalui diskusi di kafe, warung kopi, dan tempat yang biasa anak muda kunjungi.

 

Dari kasus yang terjadi di atas, penyebaran paham tentu akan mengancam keselamatan generasi umat Islam pada masa sekarang dan yang akan datang. Penyebaran paham inbi menimbulkan dampak berbahaya, antara lain meresahkan masyarakat secara luas, orang tua yang kehilangan anggota keluarga, merugikan diri sendiri bagi pengikutnya.

 

Melihat dampak bahaya yang ditimbulkan dari paham tersebut, maka masyarakat terutama mahasiswan dan akademisi yang menjadi sasaran utama penyebaran alran sesat perlu membentengi diri agar terjaga dan terlindungi dari berbagai pengaruh aliran yang dapat merugikan diri mereka, agama, bangsa, dan negara.

 

Generasi Muda Masa Kini

Perkembangan zaman memang telah mengubah banyak hal, termasuk generasi muda. Di satu sisi, dinamika zaman dengan segala kecanggihannya membawa kemudahan, seperti dalam mengakses berita antar wilayah, bertransaksi, hingga pelayanan jasa yang serba instan. Di sisi lain justru mengakibatkan dampak negatif, antara lain adalah pengikisan moral dan kurangnya pemahaman tentang agama.

 

Generasi muda sejak dahulu selalu menjadi salah satu kekuatan negara. Di zaman Rasulullah, pemuda tampil dengan berani dan gagah berjihad di medan perang. Dalam konteks hari ini juga diperlukan pemuda berkualitas dan memiliki kompetensi mumpuni dalam menghadapi kompetisi antarmanusia di era modernisasi. Di tangan merekalah nasib baik buruknya suatu negara. Jika generasi mudanya baik dan berkualitas, negara akan menjadi maju. Jika sebaliknya, maka tinggal menunggu kehancurannya saja.

 

Generasi muda adalah aset bangsa yang harus dijaga dan dirawat dengan baik, mengingat karakteristik yang rentan terhadap arus globalisasi. Jika dilihat melalui perspektif agama, tentu Islam sudah menaruh perhatian khusus terhadap generasi muda seperti pada surat an-Nisa ayat 9: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

 

Menurut Muhammad Quraish Shihab, ayat di atas berpesan kepada wali dari anak-anak agar takut akan keadaan anak-anak setelah sepeninggalnya di masa yang akan datang. Kata lemah dari terjemahan di atas dapat diartikan dengan generasi-generasi yang lemah agama, pendidikan, akhlak, atau ekonomi. Oleh sebab itu perlunya mempersiapkan bekal bagi generasi penerus agar mampu mengembangkan potensi diri di masa mendatang.

 

Perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia beserta transformasi-transformasinya telah memunculkan sebuah realitas baru. Lahirnya internet yang dipicu ekspansi teknologi komunikasi telah meruntuhkan jarak-jarak spasial dan sosial yang akhirnya melipatgandakan kebimbangan tersebut. Generasi muda saat ini sangat merasakan dampak nyata dari ekspansi teknologi komunikasi. Mereka yang lahir di antara kurun waktu 25 tahun terakhir pasti memiliki kedekatan yang sangat erat dengan dominasi budaya digital yang menyebarkan pola hidup konsumtif dan serba instan. Generasi ini sering menyederhanakan kehidupan dunia nyata yang begitu kompleks ke dalam layar smartphone yang dapat diklik dengan mudah untuk mendapatkan apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan. Kebimbangan dengan mudah menghampiri generasi muda ketika dunia virtual yang dibayangkan tidak sesuai dengan kehidupan nyata yang begitu kompleks. Selain itu mereka lebih banyak menggunakan akal untuk meredam kebimbangan.

 

Keberhasilan aliran Islam menyimpang dalam mengintervensi generasi muda berkaitan erat dengan problem struktural dan ketidakpastian masa depan. Karena faktanya mereka merupakan bagian dari kaum muda yang baru keluar dari zona nyaman dan yang saat ini sedang berhadapan dengan kompetisi yang semakin ketat untuk mendapatkan pekerjaan. Ketersediaan lapangan kerja yag menipis menyebabkan tingginya angka pengangguran di kalangan mereka. Selain itu banyak mengalami disorientasi hidup, frustasi dalam segi perekonomian, dan ketika tidak mampu lagi menghadapi kenyataan hidup yang serba sulit. Keresahan bertambah ketika dihadapkan isu pergaulan bebas, narkoba, kegalauan atas agama, dan kenakalan lain. Maka banyak yang tidak siap menerima kenyataan dan frustasi.

 

Pada April 2017 tersebar video viral di media sosial. Pasalnya di tayangan tersebut menunjukkan sejumlah mahasiswa yang melakukan sumpah terkait khilafah islamiyah. Video menggambarkan ribuan mahasiswa Insitut Pertanian Bogor (IPB) bersumpah menegakkan syariat Islam di Indonesia. Memang akhir-akhir ini banyak aliran yang digemari generasi muda di kampus. Di perguruan tinggi pencetak sarjana andal ini para aktivis aliran menyimpang aktif merekrut sejumlah kader untuk berkhidmat.

 

Dalam situasi yang tidak pasti ini generasi muda harus berhadapan langsung dengan ideologi islamis yang menawarkan solusi atas permasalahan dan harapan tentang perubahan. Dibangun atas prinsip yang menekankan pentingnya semangat kembali kepada dasar yang baku dan keteladanan orang terdahulu, ideologi islamis berusaha membuat jarak antara agama dan dunia terbuka yang digambarkan dengan penuh dosa syirik, bid’ah, dan kafir. Kegagalan melakukan hal tersebut dipandang sebagai hal utama yang bertanggung jawab atas keterpurukan generasi muda dengan dominasi globalisasi, modernisasi, dan budaya Barat. Ideologi islamis memiliki daya tarik tersendiri karena mampu menawarkan solusi yang dianggap praktis untuk mengatasi berbagai persoalan kekinian.

 

Karakter Wasathiyah

Al-Ashfahaniy mendefinisikan wasathan dengan swa’un yaitu tengah-tengah di antara dua batas, atas dengan keadilan, yang tengah-tengah, standar, atau biasa-biasa saja. Wasathan juga bermakna menjaga diri dari sikap ifrath dan tafrith. Ibnu Katsir mendefinisikan wasathan sebagai adil.

 

Pendapat lain dikemukakan oleh Muchlis M Hanafi yang memaknai wasathan dengan moderat sebagai metode berpikir, berinteraksi, dan berperilaku secara tawazun (seimbang) dalam menyikapi dua keadaan, sehingga ditemukan sikap yang sesuai dengan prinsip Islam dan tradisi masyarakat, yaitu seimbang dalam akidah, akhlak, dan ibadah.

 

Sementara itu Muhammad Ali memaknai Islam moderat sebagai those who do not share the hard line visions and actions yakni Islam moderat di Indonesia dapat merujuk pada komunitas Islam yang menekankan pada perilaku normal (tawassut) di dalam mengimplementasikan ajaran agama yang ditegakkan. Seperti toleran terhadap perbedaan pendapat, menghindari kekerasan, memprioritaskan pemikiran, dan dialog strateginya.

 

Dari pengertian di atas, wasathiyah adalah sebuah kondisi dimana seseorang selalu menghindarkan dari sesuatu yang ekstrem dan berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah. Makna ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 143. Bahwa Allah menjadikan umat Islam sebagai pemeluk pilihan dan pertengahan. Dan mereka bukan orang yang berlebihan dalam berpendapat dan tidak terlalu mengekang diri.

 

Umat juga menjadi umat yang berada di posisi paling depan karena mempunyai sikap pertengahan di dalam segala bentuk urusan. Kenyataan ini sekaligus merupakan tanda kesempurnaan yang tak dapat dibandingkan lantaran sikap memberikan hak secara proporsional, dan tidak ada satu hak pun yang umat Islam lewatkan. Kewajiban terhadap Tuhan, terhadap diri sendiri, sanak famili dan orang lain semuanya dipenuhi oleh umat Islam.

 

Nabi Muhammad SAW juga menyatakan bahwa sebaik-baik persoalan adalah yang ada di tengah (khairul umur awsathuha). Tentu saja posisi pertengahan tersebut tidak boleh menyimpang dari prinsip kebenaran (al-haq) dan keadilan (aladalah). Posisi tengahan tidak berarti keragu-raguan, tetapi keyakinan yang rasional, pemersatu, pengislah, jauh dari ekstremisme yang membabi buta dan radikalisme yang membabat modal sosial dan kultural.

 

Dalam konteks pemikiran keislaman di Indonesia, karakter wasathiyah memiliki lima karakteristik sebagai berikut: Pertama, ideologi non kekerasan dalam menakwahkan Islam. Kedua, mengadopsi pola kehidupan modern yang sesuai akidah dengan seluruh derivasinya, seperti teknologi, sains, demokrasi, HAM, dan lain sebagainya. Ketiga, penggunaan pemikiran rasional dalam mendekati dan memahami ajaran Islam. Keempat, menggunakan pendektan kontekstual dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam. Kelima, penggunaan ijtihad dalam menetapkan hukum Islam (istimbat). Namun demikian, kelima karakteristik tersebut dapat diperluas menjadi beberapa karakteristik lagi seperti toleransi, harmoni, dan kerja sama antarumat beragama.

 

Menjadi seseorang yang berkarakter moderat bukan berarti menjauh dari agama, tetapi juga tidak menghina keyakinan orang lain. Sikap seperti ini bermunculan seiring dengan derasnya arus globalisasi. Orang seperti itu selalu merasa hanya dirinya yang paling benar dan menilai orang lain sebagai kafir, salah, dan sebagainya. Karakter seperti itu yang saat ini merongrong kesatuan dan persatuan umat.

 

Karakter moderat mendorong agar seseorang mampu menerima dan menyikapi perbedaan. Manusia tidak bisa menghindari perbedaan yang ada, yang bisa dilakukan adalah belajar menempatkan diri untuk bisa menerima perbedaan karena kehendak Allah yang tidak bisa diubah dan dihapuskan.

 

Allah menjadikan manusia bersuku dan berkabilah agar saling mengenal dan menolong dalam kemaslahatan yang beragam. Maka dapat diartikan perbedaan yang ada seharusnya dapat menjadikan manusia menjadi lebih bersatu dan kuat dalam menghadapi kehidupan. Karena dengan adanya perbedaan bisa saling bersinergi satu sama lain. Jika persatuan terwujud dengan baik, maka tidak mustahil dunia akan damai dan tentram.

 

Aktualisasi Karakter Wasathiyah

Membangun karakter moderat tidak akan berhasil jika hanya pemahaman melalui teori, tetapi perlunya diimplementasikan pada kehidupan. Juga tidak hanya mencakup wilayah keagamaan, namun seluruh aspek kehidupan. Di antara karakter moderat yang dapat diimpelementasikan dalam:

 

Moderat Berakidah

Moderat dalam berakidah dapat diartikan dengan tidak kaku dan tidak menyepelekan akidah. Hal tersebut sesuai dengan karakter umat terbaik yaitu adil dan pertengahan. Akidah Islam juga jauh dari akidah yang dimurkai Allah, seperti pada surah al-Fatihah khususnya ayat 7. Bahwa makna dari ayat tersebut, Islam adalah akidah yang mengikuti orang yang telah diberi nikmat. Hal itu juga tergambar dalam surah an-Nisa ayat 69 yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

 

Moderat dalam Pemikiran dan Gerakan

Hal ini dapat diwujudkan dalam peran sebagai khalifah sebagaimana diamanahkan Allah pertama kali kepada Nabi Adam pada surah al-Baqarah ayat 30. Bahwa dalam ayat tersebut Allah menjelaskan ketetapan untuk menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai khalifah di bumi.

 

Inni ja’ilun filardli khalifah bahwa sesungguhnya Allah hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Ketika menyampaikan hal tersebut kepada malaikat, mereka bertanya apakah Allah akan menjadikan di muka bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Sedangkan para malaikat selalu bertasbih dengan memuji dan memahasucikan-Nya. Para malaikat berpandangan bahwa manusia yang diciptakan Allah sebagai khalifah akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Kemudian Allah berfirman: Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Artinya di balik ketetapan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah terdapat hikmah yang tersembunyi.

 

Ayat selanjutnya dijelaskan bahwa Allah mengajarkan sejumlah nama kepada Nabi Adam. Ini bermakna mengajarkan kepada Adam seluruh nama. Nama-nama yang dimaksud adalah Allah mengajarkan pengetahuan tentang karakteristik, sifat, dan fungsi dari benda yang ada di muka bumi, di mana manusia mendapat tugas sebagai khalifah.

 

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa yang mengajar Nabi Adam adalah Allah. Jika dikaitkan dalam konteks hari ini, pentingnya belajar sesuai dengan tafsir di atas yaitu harus ada guru yang nyata dan jelas.

 

Yang terjadi belakangan ini dengan berkembangan teknologi, masyarakat sering belajar hanya dengan menggunakan internet, padahal tidak diketahui dengan jelas siapa yang mengajar dan tidak sesuai dengan konsep Al-Qur’an. Karena hal tersebut menyebabkan kesesatan dalam berpikir. Selain itu sebagai khalifah, manusia harus terus belajar agar dapat memakmurkan dunia.

 

Moderat dalam Ajaran

Kewajiban dalam Islam tidaklah sulit dan memberatkan, juga tidak betentangan dengan tuntutan hidup manusia. Moderat dalam ajaran agama Islam tercermin dalam kaidah fiqh Islam sebagai berikut. Dari mulai al-musyaqqah ajlibut taysir (kesulitan yang menuntut adanya kemudahan). Contohnya, seseorang yang tidak bisa shalat dengan berdiri diperbolehkan untuk duduk, kemudian jika tidak bisa diperbolehkan berbaring, dan seterusnya. Kemudian jika seseorang dalam keadaan sakit atau dalam keadaan kemarau berkepanjangan sehingga tidak ada air untuk berwudlu maka diperbolehkan menggunakan debu atau tayamum.

 

Ada juga kaidah adldladuratu tubihul mahdlurat bahwa keadaan darurat yang menyebabkan diperbolehkannya hal yang terlarang. Contohnya, disilakan makan bangkai jika dalam keadaan sangat lapar dan tidak ada makanan lain. Juga diperbolehkan mengonsumsi barang haram jika tidak ada obat lain untuk menyembuhkan penyakit.

 

Demikian juga dengan irtikabu khaffi adldarurain yakni dalam keadaan terpaksa, boleh melakukan perkara yang mudaratnya paling ringan. Contohnya jika ada perempuan meninggal dalam keadaan hamil sementara kehidupan bayi masih bisa diharapkan, maka boleh untuk mengeluarkan bayi dengan cara membelah perut.

 

Moderat dalam Pembaharuan dan Ijtihad

Sikap moderat dalam pembaharuan dan ijtihad dapat direfleksikan dengan berpegang teguh kepada kaidah yang dahulu, namun tetap mengambil hal baru yang relevan dengan zaman demi kemaslahatan umat. Dalam perkembangan Islam, berkarakter moderat sebenarnya tidak sulit untuk mencari rujukannya. Di Indonesia, masyarakat dapat meneladani karakter para penyebar Islam di pulau Jawa yang dikenal dengan Walisongo.

 

Catatan Akhir

Dewasa ini generasi muda sering salah mengartikan kemudahan berteknologi. Mereka menyimpulkan kehidupan dunia nyata yang begitu kompleks ke dalam dunia virtual yang serba mudah. Tidak jarang mengalami kegalauan karena dunia virtual yang digemari tidak sesuai dengan dunia nyata. Kegalauan ini menjadi berlipat ketika dihadapkan dengan permasalahan isu agama karena ingin serba cepat dan mudah.

 

Berbagai kelompok agama yang tidak jelas mendatangi generasi muda dengan menawarkan solusi atas berbagai permasalahan. Dalam situasi yang gamang, mereka harus membentengi diri dengan karakter moderat untuk diimplementasikan dalam kehidupan. Yakni ajaran Islam secara moderat mengedepankan dakwah secara damai, ramah, dan toleran. Karena pada dasarnya manusia diarahkan untuk berada di garis lurus tanpa pernah berlaku yang keras baik terhadap sesama muslim maupun non-muslim.

 

Gambaran moderat juga terdapat pada diri Rasulullah yang tidak pernah mengusik penganut ajaran lain, berbuat zalim maupun sikap lain. Bahkan lebih dari itu, selalu mengajak para sahabat selalu bersikap baik kepada orang lain.

 

Risma Savhira D L adalah Pengurus Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur Periode 2020-2025.


Editor:

Opini Terbaru