• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 30 Juni 2022

Opini

Paradigma Islam Nusantara sebagai Manhaj Emas Berbangsa dan Bernegara

Paradigma Islam Nusantara sebagai Manhaj Emas Berbangsa dan Bernegara
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Oleh: M Putera Yuniar Avicenna ​​​​​​*

Tipologi Islam Nusantara sudah terbentuk sejak lama di wilayah Nusantara. Sebuah model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam dengan mempertimbangkan tradisi atau budaya lokal.
 

Islam Nusantara merupakan suatu “genius lokal Nusantara”, Islam yang ramah budaya dan bertumbuh-kembang di tanah air Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika juga Islam yang santun, moderat, toleran, menjaga kerukunan dan menghargai perbedaan.
 

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa masuknya Islam di Nusantara berbeda dengan wilayah lain. Tersebarnya Islam di Nusantara tidak dengan konflik senjata atau ekspansi, namun dengan pendekatan budaya, pendekatan peradaban dan pendekatan akhlaq.    
 

Perjumpaan Islam dengan tradisi lokal Nusantara tersebut menjadi penyebab utama proses penyesuaian. Islam yang hadir dengan pendekatan yang damai mempengaruhi akulturasi budaya antara budaya lokal dengan Islam dan mewujudkan budaya baru (local genius) baik fisik maupun non fisik. Budaya itu kemudian menjadi ciri khas budaya masyarakat Islam Nusantara khususnya Indonesia.
 

Wilayah Nusantara memiliki sejumlah keunikan yang berbeda dengan keunikan di negeri-negeri lain, mulai keunikan geografis, sosial politik dan tradisi peradaban. Keunikan-keunikan ini membentuk karakter dan warna Islam Nusantara yang khas dan berbeda dengan Islam di Timur Tengah.
 

Islam Nusantara merupakan Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu member solusi terhadap masalah-masalah bangsa dan negara. Islam Nusantara itu memperhitungkan Historiografi local dalam proses islamisasi, sehingga melihat Nusantara dengan berbagai keunikannya membuat karakter Islam Nusantara ini menjadi moderat. Yang lebih fleksibel dalam menghadapi tantangan, khususnya di Indonesia.
 

KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Islam Nusantara sama sekali bukan madzhab baru, bukan firqoh baru dan bukan aliran baru, dia adalah khosois dan mumayyizat. Islam Nusantara melebur dengan budaya Nusantara yang sesuai dengan syara’.
 

Islam Nusantara adalah Islam yang beradab dan santun sebagai warisan ahlussunnah wal jamaah dari para WaliSongo. Inilah nikmat yang diberikan kepada kita yang belum tentu diwariskan kebagian negara Islam lain.

 

Islam di Indonesia sebagai contoh

Kesejukan, kerukunan dan kedamaian masyarakat muslim di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lampau hingga sekarang ini. Kerukunan antar umat beragama sangatlah terjaga, dan tidak tertarik untuk mengikuti fenomena-fenomena tindakan radikal, kekerasan dan perang saudara seperti Timur Tengah yang meresahkan dunia.
 

Seperti konflik Iraq yang telah menewaskan jutaan korban, konflik perang saudara di negara Islam Afganistan yang sudah larut 40 tahun. Konflik yaman yang telah terjadi sejak akhir 2014 hingga menyebabkan sekitar 20 juta orang (dua pertiga dari populasi Yaman) bergantung pada bantuan kemanusiaan dan sekitar dua juta anak mengalami kekurangan gizi akut. Dan konflik-konflik berdarah sesame muslim lainnya yang sedang terjadi di Timur Tengah.
 

Keunikan lainnya adalah Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia walaupun secara politik dan ideologis Indonesia bukanlah negara Islam, dan juga Indonesia sebagai negara yang harmonis walaupun dengan warna-warni suku dan agama.
 

Selain itu masyarakat Indonesia sangatlah menjaga situs-situs lokal, seperti Candi Borobudur yang merupakan candi terbesar di dunia dan masih kokoh berdiri di tengah masyarakat mayoritas Muslim. Berbeda dengan realita yang terjadi di Arab, bahkan situs-situs penting peradaban Islam sendiri, seperti makam Sayyidah Khodijah dibiarkan begitu. Serta tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sekarang menjadi perpustakaan kecil.
 

Di samping itu, umat Islam Indonesia memiliki modal tambahan karena telah memiliki pengalaman berdemokrasi. Indonesia telah berhasil menerapkan demokrasi jauh mendahului negara-negara Muslim lainnya, baik dari segi waktu maupun kualitas.
 

Maka mereka lebih dahulu terlatih bersikap terbuka, toleran, berinteraksi dengan pluralisme agama maupun budaya, dan menggunakan pendekatan cultural dalam mengembangkan ajaran-ajaran Islam, disbanding dengan umat Islam dari Negara-negara Muslim lainnya di kawasan manapun di dunia ini.
 

Selain itu Indonesia adalah negara Pancasila, yang merupakan hasil ijtihad (takhrij al-manath) para pendiri bangsa Indonesia. Pancasila hanya ada di Indonesia, tidak ada di negara-negara lain.
 

Kesaktiannya sudah tidak diragukan lagi. Ia dianggap paling relevan untuk menyatukan seluruh bangsa yang menganut agama yang berbeda-beda. Dengan perkataan lain, Pancasila adalah semen yang merekatkan seluruh warga negara yang berbeda latar belakang agama, budaya, bahasa, etnis, dan suku. Dasar negara yang menciptakan masyarakat yang menjunjung persatuan, keharmonisan dan toleransi.
 

Itulah di antara berbagai potensi yang dimiliki umat Islam Indonesia sebagai modal besar dalam menampilkan keberislaman yang penuh kedamaian, keharmonisan dan kesejukan bagi umat Islam di seluruh dunia maupun umat-umat lainnya.
 

Model dan karakter Islam seperti itu yang kemudian dipromosikan oleh NU sebagai manhaj dan gugatan untuk mengubah pandangan dan persepsi dunia yang terlanjur salah terhadap Islam.
 

Maka, Islam Nusantara merupakan identitas dan karakter Islam ditinjau dari segi kawasan, yang tentu berbeda dengan karakter Islam di wilayah lainnya seperti Islam di Barat atau Timur Tengah.
 

Islam Nusantara ini merupakan model pemikiran, pemahaman dan ekspresi pengamalan ajaran-ajaran Islam melalui pendekatan kultural, sehingga mencerminkan identitas Islam yang bernuansa metodologis.
 

Islam Nusantara ini merefleksikan pemikiran, pemahaman, dan pengamalan Islam yang moderat, inklusif, toleran, cinta damai, menyejukkan, mengayomi dan menghargai keberagaman (kebinekaan).
 

 

Sehingga keberadaan Islam Nusantara tersebut bisa sebagai antithesis terhadap tindakan-tindakan radikal yang mengatasnamakan Islam, juga sebagai contoh untuk bangsa-bangsa lain khususnya Timur Tengah yang saat ini sedang tergenang di dalam genangan masalah dan konflik yang tak kunjung selesai.
 

*) Penulis adalah Mahasiswa Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Bangil, Pasuruan dan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, Jogoroto, Jombang.


Editor:

Opini Terbaru