• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Mei 2022

Parlemen

DPRD Jatim Dukung Permendikbud PPKS di Perguruan Tinggi

DPRD Jatim Dukung Permendikbud PPKS di Perguruan Tinggi
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hikmah Bafaqih. (Foto: NOJ/A Toriq A)
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hikmah Bafaqih. (Foto: NOJ/A Toriq A)

Surabaya, NU Online Jatim

Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Hikmah Bafaqih dukung munculnya Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi.

 

Hikmah katakan, munculnya Permendikbud ini sebagai angin segar bagi perguruan tinggi dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual di lingkungan kampus.

 

"Kita sambut dengan gembira lah ada regulasi selevel permen yang kemudian di khususkan didedikasikan untuk mencegah dan menangani kekerasan seksual di kampus," kata Hikmah saat dikonfirmasi, Kamis (17/11/2021).

 

Anggota dari Fraksi PKB ini menuturkan, maraknya kekerasan seksual yang terjadi di kampus rata-rata bukan dilakukan oleh orang lain, namun dilakukan oleh orang di sekitarnya. Seperti pasangan dan teman dekatnya.

 

Ketidak seimbangan kuasa pria atas perempuan sering kali menjadi alasan si perempuan pasrah terhadap perilaku pelecehan seksual ini. Wanita kadang terhegomoni sehingga secara tidak sadar terbawa mengikuti arus yang mengarah kepada seks bebas. Kondisi tersebut sangat merugikan bagi si wanita, sebab korban terbanyak kekerasan seksual ini datang dari kaum perempuan.

 

"Lebih banyak justru karena relasi yang terbangun. Dari pasangan yang berpacaran yang tidak seimbang. Kekerasan dalam pacaran, salah satunya terwujudnya kekerasan seksual. Itu yang terbanyak menurut saya. Tidak dihormatinya tubuh perempuan itu dilakukan oleh pasang, mengatasnamakan cinta dan kemudian melakukan pemaksaan. Itu sebetulnya sudah Kekerasan menurut saya," kata politisi dari Malang itu.

 

Tidak hanya itu, faktor lain yang menjadi ujung pangkal maraknya kekerasan seksual ini adalah dekadensi moral pemuda saat ini. Bahkan kondisi tersebut terjadi merata di lingkungan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi, baik di kampus umum ataupun kampus berbasis agama.

 

"Ketaatan akan norma agama dan norma sosial akan semakin luntur ini semakin turun maka pola relasi dan pola berpacaran mahasiswa di kampus  berani begitu tidak pandang bulu. Siapapun, mau aktivis atau bukan aktivis," ujarnya.

 

Demi mengurangi kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus, Ketua Perempuan Bangsa Jatim ini berharap para mahasiswa kini sadar akan kekerasan seksual. Dimulai dari kesadaran menghargai diri sendiri, sehingga orang lainpun ikut menghargainya.

 

"Demikian juga cowok menjaga kehormatannya dengan perilaku selayaknya," katanya.

 

Lebih dari itu, ia juga berharap Permendikbud tersebut, benar-benar menghantam pelaku pelecehan seksual tidak hanya ketika terjadinya momentum saja. Namun konsisten dalam mengentaskan perilaku tidak mengenakkan ini, sebab jika ditelisik lebih dalam, kekerasan seksual yang tidak terekspos jauh lebih tinggi dibandingkan yag terekspos.

 

"Semoga permendikbud ini benar-benar menggigit, ini kayak fenomena gunung es," katanya.


Parlemen Terbaru