• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 17 Agustus 2022

Parlemen

Memperkuat Nilai Kemanusiaan dengan Berbagi saat Ramadhan

Memperkuat Nilai Kemanusiaan dengan Berbagi saat Ramadhan
Gus Atho' di acara Binnur NO Online Jatim. (Foto: NOJ/A Habiburrohman)
Gus Atho' di acara Binnur NO Online Jatim. (Foto: NOJ/A Habiburrohman)

Surabaya, NU Online Jatim
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat dan maghfirah. Di bulan Ramadhan ini, manusia diajarkan untuk berlaku peduli terhadap orang lain di sekitar yang membutuhkan bantuan. Hal tersebut disampaikan Gus Ahmad Athoillah, anggota Komisi B DPRD Jawa Timur asal Jombang saat Bincang NU Online Jawa Timur Ramadhan atau Binnur, Sabtu (23/04/2022).


"Di bulan Ramadhan menusia dituntut untuk memiliki rasa sosial yang tinggi. Sebab, manusia dilatih untuk lapar dan haus sebagaimana yang dirasakan sejumlah orang yang hidup kekurangan," ujarnya dalam acara yang dipandu Risma Savhira kru NU Online Jatim itu.


Ia menyebutkan, bahwa dirinya teringat dengan guyonan 'berani mati, takut lapar' yang kerap didengungkan kalangan Nahdliyin. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa ketakutan terhadap rasa lapar lebih mengkhawatirkan dari pada kematian. 


"Karena lapar itu akar masalah. Dari rasa lapar terkadang membuat suasana marah dan berimbas ke hal-hal lainnya," imbuhnya.


Selain itu, bulan Ramadhan juga melatih seseorang untuk berbagi dengan sesama dalam meningkatkan kepedulian sosial. Salah satu contohnya ialah pembagian takjil atau makanan lainnya, termasuk saat sahur.


"Ini merupakan hal yang jarang dilakukan di luar bulan Ramadhan. Dan, saat Ramadhan semuanya berlomba-lomba untuk berbagi dengan sesama," katanya.


Disebutkan, bahwa ada sebuah hadits yang menjelaskan, bahwa seseorang yang memberi takjil kepada oranh yang berpuasa akan mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa. 


Semangat yang timbul ini menurut Gus Atho',  sapaan akrabnya, termasuk nilai-nilai sosial agar semangat berbagi dengan orang lain. "Dengan begini, pada dasarnya nilai-nilai kemanusiaan sudah hadir," ungkapnya. 


Kepedulian tersebut, lanjut Gus Atho', merupakan bentuk lain dari sikap toleransi. Sebab, saat berbagi takjil tidak memandang siapa dan agamanya. Akan tetapi mengedepankan spirit kepedulian untuk mendapatkan ridha Allah SWT.


"Yang dilakukan spiritnya berbagi, dengan siapa pun. Entah dia golongan yang mampu atau tidak mampu. Entah pula ia beragama islam atau pun tidak," tuturnya. 


"Jadi sebenarnya kita memberi takjil itu posisi kita memanusiakan manusia. Sehingga apa yang diberikan kepada orang lain tidak memandang siapa penerimanya," pungkasnya.


Parlemen Terbaru