• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Pendidikan

Begini Pesan Psikolog UIN Malang Ketika Tidak Lolos SNMPTN

Begini Pesan Psikolog UIN Malang Ketika Tidak Lolos SNMPTN
Ilustrasi pengumuman SNMPTN dari salah satu siswa yang belum lolos. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)
Ilustrasi pengumuman SNMPTN dari salah satu siswa yang belum lolos. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)

Malang, NU Online Jatim
Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) baru saja diumumkan. Ada yang berhasil lolos dan tidak sedikit yang belum beruntung di pilihan kampus.

 

Kaprodi Magister Psikologi UIN Maliki Malang, Dr Mohammad Mahpur mengatakan, bagi yang belum berhasil harus optimis, karena jalan dan nasib orang sendiri-sendiri. Tidak perlu membandingkan satu sama lain antara teman yang lolos dan tidak lolos.

 

"Jangan sampai kemudian menjadi beban, stres atau masalah psikologis seperti putus asa dan lain sebagainya. Kalau kita meyakini bahwa masa depan terbaik bagi kita, maka sebenarnya itu bukan sebuah kegagalan," katanya kepada NU Online Jatim, Rabu (30/03/2022).

 

Menurutnya, kegagalan kalau orang mempercayainya berarti termasuk orang yang kalah. Sehingga siswa yang belum lolos harus tetap optimis dan tetap kreatif, lalu masa depan yang menentukan adalah pikiran dan kesiapan untuk berbeda dengan orang lain.

 

"Sehingga kita lihat kembali bagi yang tidak lolos itu kemampuan kita dimana, jangan sampai kemudian kehilangan arah. Menurut saya setiap orang punya jalan, kesempatan, dan perbedaan jalur pendidikan tidak menjadikan orang kemudian kehilangan masa depan," ungkapnya.

 

Pria yang juga Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang ini mengaku siswa yang sudah lulus dan masuk perguruan tinggi itu adalah calon remaja akhir menuju dewasa awal, sehingga harus tetap menyeimbangkan pikiran.

 

"Menurut saya yang sering dialami adalah stres, tekanan psikologis atau ngambek, putus asa. Kemudian ada istilah yo wis (ya sudah) aku tidak diterima disini," urainya.

 

Mahpur memaparkan, ada beberapa siswa yang menarik diri untuk tetap berpikiran, tetapi yang banyak ditemui juga adalah mengambil pilihan yang tidak menjadi impiannya, mematikan impian itu yang barangkali bisa meyakinkan. Disisi lain juga ada tekanan-tekanan dari dalam diri siswa terlalu besar dan tidak bisa mengembalikan emosi.

 

"Kemudian larut ada tekanan dari luar, misalnya orang tua atau keluarga dekat. Sehingga tekanan dari luar itu yang kemudian juga anak-anak mengalami tekanan psikologis," paparnya.

 

Pria Lulusan Doktoral Psikologi UGM menjelaskan, cara mengatasi kondisi psikis tersebut dengan mencoba kalau dari sisi dalam diri harus secepatnya mengubah cara berfikir dan menyeimbangkan emosinya.

 

"Mereka bisa menjadi contoh meskipun mereka tidak sesuai dengan impiannya mereka tetap bisa sukses. Lihatlah orang orang sukses, baca cerita, buku akan ketemu dinamika, pengalaman hidupnya bagaimana mereka bisa mengelola kegagalan," jelasnya.

 

Penasihat Gusdurian Malang ini mencontohkan beberapa tokoh inspiratif seperti pengusaha Bob Sadino, Menteri Kelautan, Susi Susanti dan seterusnya. Bukan orang yang memiliki background pendidikan tinggi, tetapi dengan keuletan dan kegigihan.

 

"Yang penting kegigihan, optimisme, dan kerja keras. Gagal tapi kita siap belok kiri, atau masih ada kesempatan pasti ada sesuatu yang manfaat. Kalau ketiga tidak tercapai ya ikhlasin saja bahwa ini memang yang terbaik untuk kita," pungkasnya.


Pendidikan Terbaru