• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Pendidikan

Mahasiswa Unisma Jalin Kontribusi Sosial di Pedalaman Merauke Papua Selatan

Mahasiswa Unisma Jalin Kontribusi Sosial di Pedalaman Merauke Papua Selatan
Kontribusi sosial oleh mahasiswa Unisma. (Foto: NOJ/TimesIndonesia)
Kontribusi sosial oleh mahasiswa Unisma. (Foto: NOJ/TimesIndonesia)

Malang, NU Online Jatim

Mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka 2 yang berasal dari Universitas Islam Malang (Unisma) telah melakukan kegiatan kontribusi sosial bersama beberapa mahasiswa lainnya di wilayah pedalaman Merauke, Papua Selatan pada Selasa, (16/01/2024).


Kontribusi sosial ialah kegiatan wajib dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka 2 yang diselenggarakan oleh Kemendikbud dan diikuti oleh berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Kontribusi sosial ini bertujuan untuk meningkatkan rasa kemanusiaan mahasiswa terhadap lingkungan sosial daerah sekitarnya.


Salah satu sudut Merauke yang menampilkan anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan adalah di kawasan Jalan Onggatmit (Wenirkay). Kawasan ini merupakan tempat bermukimnya masyarakat Orang Asli Papua (OAP), khususnya dari daerah Asmat. Jumlah KK pada kawasan ini kurang lebih sebanyak 15 KK.


Di kawasan ini, sebagian besar anak-anaknya tidak bersekolah. Kesulitan hidup untuk mencari uang merupakan penyebab hingga anak-anak di sini tidak bersekolah. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat miris jika dibandingkan dengan perkembangan Kota Merauke saat ini.


Namun begitu, ada sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Jehova Jireh. PKBM ini telah beroperasi sejak 2020 dan fokus pada masyarakat OAP di kawasan Wenirkay tersebut. PKBM ini mendampingi masyarakat di sana dalam bidang pendidikan.


Dalam bidang pendidikan, PKBM ini mengajarkan anak-anak dari umur 7 hingga 15 tahun dalam belajar, terutama baca tulis. Tidak hanya anak-anak, orang tua yang belum bisa baca tulis pun menjadi sasaran pengabdian mereka.


Pengajar di sana adalah seorang guru dan juga seorang mama yang memiliki kemampuan baca tulis yang cukup. Mereka pun harus mengajar kurang lebih 50 anak setiap dua kali dalam seminggu. Kesulitan yang dialami para pengajar tersebut adalah sulit mengajar anak-anak yang jumlahnya cukup banyak dengan berbagai karakter.


Oleh karena itu, terkadang pembelajaran yang dilakukan tidak berjalan maksimal. Hal kedua yang menjadi masalah adalah kurangnya fasilitas, baik itu tempat belajar dan juga perlengkapan belajar seperti papan tulis dan alat tulis.


Selama ini pembelajaran dilakukan di rumah seorang warga, yaitu mama yang mengajar tersebut, dengan ukuran rumah yang cukup kecil. Kurang memadainya ruangan belajar ini, menjadi salah satu penyebab tidak berjalannya pembelajaran dengan baik.


Selain itu, mereka hanya memiliki sebuah papan tulis kecil berukuran 60 x 90 cm untuk belajar. Anak-anak OAP disana pun memiliki alat tulis yang sangat terbatas.


Dari permasalahan yang diuraikan, dapat diketahui bahwa masalah yang dihadapi oleh PKBM Jehova Jireh adalah kurangnya pengajar/pendidik dan juga fasilitas yang kurang memadai untuk menunjang proses pembelajaran.


Pendidikan Terbaru