• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Pustaka

Belajar Teori Pendidikan kepada Mbah Hasyim

Belajar Teori Pendidikan kepada Mbah Hasyim
Sampul buku 'Berguru ke Sang Kiai'. (Foto: NOJ/ Haafiidh NS Yusuf)
Sampul buku 'Berguru ke Sang Kiai'. (Foto: NOJ/ Haafiidh NS Yusuf)

Dalam Islam, seorang ulama diyakini sebagai pewaris para Nabi (Waratsatul Anbiya). Sebagai pewaris Nabi, ia bertugas melanjutkan fungsi Nabi sebagai  pendakwah untuk menyeru manusia kepada (menyembah) Allah (QS.33:46). 

 

Dua warisan pokok dari Nabi yang harus dijaga oleh ulama adalah (melestarikan ajaran) Al-Quran dan Hadits. Ulama, dengan demikian, merupakan seorang ahli untuk mendidik dan mengajarkan nilai-nilai keislaman yang dari sumbernya.

 

Menelusuri lebih jauh tentang peran ulama dalam proses perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia, maka akan tercatat beberapa tokoh penting. Di antaranya ialah KH M Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim dari Jombang.

 

Mbah Hasyim merupakan sosok ulama yang masyhur di telinga umat Islam, khususnya di Indonesia. Santri KH Muhammad Kholil Bangkalan ini juga dikenal sebagai tokoh ulama pemikir dan pejuang. Hal itu diwujudkannya dengan mendirikan organisasi besar Nahdlatul Ulama serta menjadi pahlawan nasional.

 

Tidak hanya itu, ketokohan Kiai Hasyim juga terletak pada perjuangannya menjadi pembaharu dunia pendidikan Islam. Melalui Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikannya, Mbah Hasyim banyak mengadposi pendidikan Islam klasik yang mengedepankan aspek-aspek normatif dan pembentukan karakter di samping ilmu pengetahuan. Sehingga dapat melahirkan pemahaman yang sempurna terhadap ajaran-ajaran Islam.

 

Gambaran pemikiran Mbah Hasyim itu dapat kita baca secara mendalam dalam buku ‘Berguru ke Sang Kiai’ karya Mukani. Buku ini ditulis berdasakan tesis penulis berjudul ‘Pemikiran Pendidikan KH M Hasyim Asy’ari dan Relevansinya dengan Alternaitif Solusi Problematika Pendidikan Indonesia pada Masa Sekarang’. Hasil penelitian penulis ini diujikan pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya tanggal 31 Agustus 2005 silam.

 

Mbah Hasyim menyebutkan, proses menuntut ilmu hendaknya murid terhindar dari unsur-unsur materialisme, seperti kekayaan, jabatan, popularitas, dan sebagainya. Selain memperbanyak belajar, murid juga harus memperbanyak ibadah dan doa untuk kelancaran, keberkahan serta kemanfaatan ilmu yang diperoleh (Hal. 113).

 

Menurut Kiai Hasyim, sedikit sekali orang yang mendapatkan ilmu secara sempurna kecuali orang-orang yang memiliki sifat faqir, qanaah dan berpaling dari dunia dan harta benda yang fana. (Hal. 114).

 

Buku karya Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Pondok Pesantren Krempyang Nganjuk ini adalah bagian dari sudut pandang yang menarik untuk dibaca dalam rangka menambah asupan nutrisi khazanah ilmu keislaman, khususnya tentang pemikiran perspektif Mbah Hasyim. Hal itu karena penulis mampu menghadirkan kembali pemikiran yang komprehensif dari Mbah hasyim. Tentu, dengan merujuk seluruh karya yang telah ditulis, dan tidak hanya bertumpu pada Kitab Adabul Alim wal Muta’allim, sebagaimana karya dan penelitian yang sudah ada selama ini.

 

Dengan hadirnya buku ini, referensi tentang konsep pendidikan ideal dari founding fathers Indonesia yaitu Mbah Hasyim, dapat tersampaikan kepada para pelaku dan pemerhati dunia pendidikan. Besar harapan akan diikuti pula kajian-kajian serupa tentang pemikiran pendidikan dari tokoh-tokoh asli Indonesia.

 

Identitas Buku

Judul: Berguru Ke Sang Kiai
Penulis: Mukani
Penerbit: Kalimedia
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 271 Halaman
ISBN: 978-602-6827-08-01
Peresensi: Haafidh Nur Siddiq Yusuf (Sekretaris Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Nganjuk).


Pustaka Terbaru