• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Pustaka

Refleksi Pemikiran Ijtihad Islam Nusantara

Refleksi Pemikiran Ijtihad Islam Nusantara
Buku 'Ijtihad Islam Nusantara, Refleksi Pemikiran & Kontekstualisasi Ajaran Islam di Era Globalisasi & Liberalisme Informasi'. (Foto: Ist)
Buku 'Ijtihad Islam Nusantara, Refleksi Pemikiran & Kontekstualisasi Ajaran Islam di Era Globalisasi & Liberalisme Informasi'. (Foto: Ist)

Istilah Islam Nusantara yang menjadi tema besar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang masih menjadi perbincangan publik. Banyak kalangan yang mendukung (baca: pro), dan sebagian lainnya menolak atau kontra. Sejumlah tokoh nasional pun banyak yang menulis terkait Islam Nusantara. Seperti Ahmad Baso, Nasharuddin Umar, Masdar Farid Mas’udi, Yahya Cholil Staquf, Said Aqil Siroj, dan lainnya. 


Hal senada juga dilakukan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Abd A’la. Ia juga menerbitkan kumpulan artikelnya dengan judul ‘Ijtihad Islam Nusantara, Refleksi Pemikiran & Kontekstualisasi Ajaran Islam di Era Globalisasi & Liberalisme Informasi’. Buku ini memiliki titik tumpu pada aspek pemikiran Islam.


Buku ini merupakan kumpulan makalah yang telah dimuat di jurnal dan telah di presentasikan di berbagai seminar. Petualangan intelektual Kiai asal Sumenep, Madura ini menemukan titik labuh pada keberagaman yang disebut Islam Nusantara. 


Berdasarkan sejarah berkembangnya Islam di bumi pertiwi, Kiai A’la meyakini bahwa keberagaman merupakan model yang paling sesuai untuk Indonesia. Bahkan Kiai A’la menyebuutkan dalam bukunya, bahwa metode, manhaj dan lain sebagainya pada Islam Nusantara sangat mungkin dikembangkan di negara-negara lain.


Terkait liberalisasi informasi, Kiai A’la mengajak untuk tidak hanya merespons informasi, tetapi juga selalu mengkritisi informasi tersebut. Ia juga mengajak kader NU untuk membangun informasi alternatif untuk dijadikan rujukan masyarakat. (Hal 18).


Sementara soal jihad, Kiai A’la menegaskan dalam bukunya bahwa saat ini yang terpenting adalah jihad melawan kemiskinan. Ia menyarankan umat Islam untuk segera merumuskan strategi yang tepat dan menentukan langkah sistematis. Dalam konteks ini, keberadaan civil-society yang kokoh merupakan pijakan yang niscaya untuk terus diperjuangkan. Sebab, melalui masyarakat sipil umat Islam dituntut mengembangkan ekonomi berkelanjutan dan berdampak nyata pada pemberdayaan masyarakat. (Hal 61).


Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep ini juga mengulas titik temu antara neo-modernisme dan post-tradisionalisme. Menurutnya, meskipun kedua kelompok ini memiliki perbedaan di tataran mikro, namun secara subtansi keduanya nyaris tidak memiliki perbedaan signifikan di tataran wacana, isu, dan gerakan makro yang dikembangkan. 


Kiai A’la kemudian memberi contoh bahwa kedua kelompok itu memiliki kepedulian yang sama terkait pengembangan civil society terutama dalam konteks Indonesia saat ini. (Hal 142).


Tulisan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya  ini terdiri dari dua belas kempulan makalah yang cukup berat pembahasannya. Untuk memahami buku ini, pembaca harus pula membaca buku-buku pemikir Islam kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muhammad Abed A-Jabiri, atau pun Mohammed Arkoun. Beratnya materi dalam buku ini menjadi kurang membumi jika dibaca oleh masyarakat awam. Dan inilah yang menjadi titik lemah buku ini, dengan tanpa menafikan kelebihannya.
 

Identitas Buku

Judul: Ijtihad Islam Nusantara, Refleksi Pemikiran & Kontekstualisasi Ajaran Islam di Era Globalisasi & Liberalisme Informasi
Penulis: Prof Dr KH Abd A’la, M.Ag
Penerbit: LTNNU Jatim dan Muara Progresif
Tahun terbit: Tahun 2018
Tebal: 189 Halaman
ISBN: 978-602-50207-8-0
Peresensi: Boy Ardiansyah (Guru Madrasah dan Mahasiswa Pascasarjana Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet, Mojokerto).


Pustaka Terbaru