• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Pustaka

Tips Pengasuhan Anak di Era Modern

Tips Pengasuhan Anak di Era Modern
Buku 'Susah Senang Bersama Si Buah Hati'. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Buku 'Susah Senang Bersama Si Buah Hati'. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Di era modern, banyak orang tua berhasil menyediakan kebutuhan lahiriyah pada anak-anaknya dengan membelikan pakaian bagus, makanan bergizi, uang jajan yang cukup, atau HP kekinian. Bahkan, orang tua rela membelikan motor buat anaknya yang di bawah umur karena iri dengan tetangga ketika melihat anak tetangga dengan gagah mengendarai motor. 


Fenomena lainnya, kesibukan orang tua tidak jarang menjadi penyebab dikorbankannya kebutuhan anak dari aspek batin dan emosi. Anak hanya akan besar dengan ketersediaan kebutuhan lahir. Padahal kebutuhan lahir yang cukup tak bisa menggantikan kasih sayang orang tua, terutama ketika anak didera masalah.


A Dardiri Zubairi dalam buku ini menjelaskan bahwa ada empat pilar penting dalam membangun kasih sayang, yaitu rasa aman, rasa ingin dihargai, diterima apa adanya, dan dikenali emosinya.


Dengan demikian, mengasuh anak di zaman sekarang tidaklah mudah. Orang tua harus memiliki wawasan psikologi yang mendalam agar tidak salah asah dan asuh. Oleh karena itu, A Dardiri Zubairi selaku penulis memberikan pendekatan psikologis yang lugas dan sederhana dalam memperlakukan anak hingga tumbuh dengan baik dan berkarakter sesuai dengan tugas perkembangannya.


Penulis menyusun buku ini berdasarkan pengalamannya yang diramu dengan ilmu, kematangan religi, ketajaman intuisi, serta disajikan secara sederhana dan mudah. Sehingga memberi inspirasi bagi orang tua agar bisa mengasuh dan mendidik anak sejak dini.


Di dalam buku tersebut, A Dardiri Zubairi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep tersebut meracik dengan apik tentang strategi dan peran keluarga dalam pendidikan karakter, yang faktanya memang banyak dipengaruhi oleh interaksi dan edukasi yang terjadi dalam proses pengasuhan.


Menurutnya, pengasuhan tidak lepas dari pasemon kearifan Madura, aeng ta’ aghili ka olo (air sungai tak mengalir ke hulu tetapi mengalir ke hilir). Sedikit banyak karakter baik dan jelek anak merupakan hasil pola asuh orang tuanya.


Ketika anak berusia 15 tahun misalnya, dan ia selalu menampilkan karakter jelek dalam merespon sesuatu, terlebih mendarah daging, menjalari batin, pikiran, cara pandang, segenap perilaku dan tindakannya, orang Madura menyebutnya "bhebatek" atau tabiat, merupakan akronim “dari bheba sampe’ otek” (dari bawah sampai otak). Maksudnya, jika berkarakter baik, maka dari ujung kaki hingga otak akan menampilkan kesantunan. Jika jelek, maka sebaliknya negatif.


Selain itu, penulis juga terpancing membedah persoalan bahasa Ibu atau bahasa Madura, karena anak-anak terkadang menggunakan bahasa nasional, sementara orang tua tidak peduli terhadap bahasa anak yang logatnya kasar. Dari problem tersebut, dewan masyaikh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura itu menegaskan bahwa salah satu yang mempertahankan bahasa ibu adalah pesantren. Itu dikarenakan bahasa ibu masih menjadi bahasa resmi pengajian kitab kuning dan dipraktikkan dalam pengalaman keseharian kiai-santri di pesantren.


Dari berbagai problem yang dialami oleh orang tua, buku yang diterbitkan oleh Cantrik Pustaka bisa menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang tua dan kritik bagi kaum laki-laki yang masih berpikir bahwa tugas mereka tak lain hanya bekerja. Soal anak diserahkan pada ibunya. Kumpulan inspirasi ini akan memberikan jawaban untuk ayah dan ibu dalam membesarkan anak-anaknya.


Dalam buku ini terdapat 58 tema seputar mengasuh anak, semuanya merupakan pengalaman penulis yang terlibat langsung dalam mengurus, mendidik, dan mengarahkan anaknya, serta hasil sharing bersama ibu-ibu di desanya dan hasil refleksi terhadap persoalan anak. Dari hasil itulah penulis memberikan sistematika dalam daftar isi yang terbagi menjadi tiga, yaitu 21 hasil refleksi, 18 inspirasi dan 19 metode.


Solusi yang diberikan oleh penulis sangat beragam, tergantung kepada pokok permasalahannya. Contoh kecilnya adalah langkah orang tua saat menghadapi anak yang sudah menginjak usia dewasa masih tergantung kepada orangtuanya, antara lain: sadari bahwa anak tak selamanya berkumpul; sadari bahwa orang tua bisa sakit dan meninggalkan anak lebih dahulu karena takdir; hindari menempatkan anak sebagai raja; berilah anak tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sendiri dalam keluarga; dorong anak menyelesaikan masalahnya sendiri; kurangi ketergantungan dengan mengambil jarak dari masalahnya; dan komunikasikan kepada gurunya.


Selanjutnya cara sederhana mendidik anak jujur, yaitu: pengelolaan uang jajan anak harus melalui satu pintu; untuk menguji kejujuran, bisa menaruh uang receh di sembarang tempat di dalam rumah; memberi uang jajan lebih dari biasanya; tiga cara sebelumnya harus dijangkarkan pada keteladanan langsung dari orang tua; dan lakukan dengan konsisten, sabar dan tegas


Terakhirnya, A Dardiri Zubairi memberikan tips dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan anak. Guna menguji kekuatan, maka langkah orang tua yang harus disikapi antara lain, sudah disiplin shalat dan baca doa pendek, bisa mengaji, membedakan hak milik pribadi dan orang lain, membaca dan menulis, suka menabung, mandi sendiri dan sejenisnya, berbagi dengan orang lain, hormat pada orang lain, tidak boros, atau selalu bertanya.


Di bidang kelemahan, antara lain suka menonton TV, menunda-nunda pekerjaan, suka cari perhatian, suka membantah, kadang cenderung mau benar sendiri, tak bisa merawat barang, harus diingatkan seperti merapikan kamar butuh diingatkan berkali-kali, suka pamer.

 

Identitas Buku

Judul: Susah Senang Bersama Si Buah Hati
Penulis: A Dardiri Zubairi
Editor: Salman Rusydie Anwar
Penerbit: Cantrik Pustaka
Tahun Terbit: Mei 2016
Tebal: 254 halaman
ISBN: 978-602-74047-3-1
Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama
(LTNNU) Sumenep


Pustaka Terbaru