• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 26 Mei 2022

Pustaka

Memastikan Kumpulan Fragmen Sejarah NU

Memastikan Kumpulan Fragmen Sejarah NU
Buku 'Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara'. (Foto: Istimewa)
Buku 'Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara'. (Foto: Istimewa)

Sebagai organisasi besar yang lahir pada masa pergerakan nasional, sekaligus kelanjutan dan kristalisasi dari budaya Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) tampil sebagai organisasi pergerakan yang sangat berpengaruh hingga saat ini. Kiprah perjuangan NU telah banyak ditulis, tetapi tulisan yang ada secara umum belum mampu mencakup dan belum berhasil mengupas secara tuntas sejarah NU yang utuh dalam lintasan zaman.

 

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Compass menyajikan tarih NU kepada masyarakat, khususnya Nahdliyin. Pasalnya banyak orang di luar NU mencibir, memfitnah, mengklaim berdasarkan data yang tidak valid atau tidak berbasis data. Buku yang ditulis oleh KH Abd Mun’im Dz ini meluruskan narasi sejarah, memperlihatkan problema yang menimpa pada sebuah bangsa. Tidak hanya pada ranah histografi, melainkan pada basis epistemologi guna menjustifikasi kebenaran narasi sejarah.

 

Terkait isu dan pembalikan sejarah, penulis membuktikan secara empiris bahwa NU selalu hadir membela eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman kelompok-kelompok yang ingin memaksakan kehendak dan penyeragaman. Baik mengatasnamakan agama atau pun ideologi ekstrem.

 

Dalam dasawarsa ini, pemaksaan kehendak dan hasrat untuk penyeragaman sudah menjadi menu dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang terjadi pada masa lampu atau pun masa kini. Tulisan yang tertuang dalam buku tersebut telah menceritakan serangkaian catatan peristiwa besar nasional yang wajib diketahui oleh khalayak. Hal ini terbukti dalam sejarah bahwa kelompok yang memaksakan kehendak tercatat beberapa kali memberontak dan mengkhianati cita-cita faunding father Indonesia.

 

Jika catatan penting tersebut tidak digali, maka seperangkat data, kesaksian, wasiat dan peristiwa yang dirahasiakan terus digoreng hingga menyudutkan NU. Adapun sisi positifnya adalah peristiwa yang dirahasiakan tersebut tidak lenyap dimakan usia dan menjadi petanda bahwa NU selalu mengembangkan epistemologi Nusantara serta mengajak masyarakat agar kembali pada jati diri bangsa.

 

Dengan mempertontonakn potongan-potongan fragmen sejarah, pembaca dapat mengetahui bahwa terdapat tantangan besar yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia. Salah satunya adalah ancaman terhadap eksistensi kebhinnekaan bangsa yang saat ini semakin nyata di depan mata. Hanya saja, sebagian warga masih kurang melek pada sejarah yang tertimbun usia.

 

Penggagas Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU) itu menegaskan dalam buku ini, NU berada di garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sehingga goresan emas ini menjadi motivasi bagi warga NU untuk melanjutkan perjuangan dalam konteks kekinian. 

 

Dengan menampakkan percikan-percikan sejarah NU, pembaca dapat memahami dengan jernih arah dan konsistensi jamiyah peta politik kebangsaan NU. Juga menemukan mozaik peran santri dan kiai yang luar biasa dan penuh dedikasi bagi agama, bangsa dan negara. Hanya saja, masih banyak yang tidak tercatat dan belum masuk dalam kurikulum sejarah dalam proses pendidikan. 

 

Kiai Mun’im juga membedah sejarah perjuangan NU dengan memberikan interest tertentu, sehingga fakta-fakta autentik yang sering terlupakan atau terabaikan bisa digali oleh kader NU. Sebagaimana disampaikan dalam korasan enam yang menyatakan, perlawanan ulama dan santri pada penjajah menjadi saksi sejarah bahwa peran NU dalam mendirikan NKRI benar-benar nyata. NU dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor menjadi garda terdepan dan benteng terakhir bagi utuhnya kedaulatan NKRI. Sangatlah wajar dalam korasan tersebut menyatakan, menjaga keutuhan NKRI adalah panggilan iman, karena ulama-ulama NU telah menyatakan "cinta tanah air sebagaian dari iman". 

 

Dengan memberikan fragmen-fragmen sejarah kepoloporan NU lewat tujuh korasan, bisa menyuntikkan energi positif kepada generasi muda NU untuk percaya diri dan terus berbuat, serta tak pernah lelah mencintai Indonesia. Misalnya mempertahankan identitas santri, yakni memakai kopiah dan sarung. Karena kopiah merupakan bentuk kezuhudan seseorang dan melazimkan kopiah sebagai bentuk dakwah Islam Wasathiyah sebagaimana dilakukan oleh Sunan Giri. 

 

Tradisi memakai kopiah juga ditegaskan dalam kitab Ta’limul Muta’allim karangan Syekh Al-Zarnuji yang menekankan memakai tutup kepala dalam kehidupan. Berbeda dengan sarung yang menjadi pembela tradisi dan pembeda serta santri tidak ikut pada mode yang mengurucut pada hal-hal kurang etis. 

 

Guna memperdalam informasi, ketujuh korasan penting yang dikupas oleh penulis bisa dikaji dan dianalisis agar pembaca menjaga kebhinnekaan NKRI, serta mengetahui peran para wali dan ulama saat berdakwah di Nusantara. Adapun ketujuah korasan itu antara lain, Relevansi Fragmen: Tengara Sejarah NU, Gerakan Organisasi: Khidmah bukan Perayaan, Strategi Budaya NU, Dinamika Sosial Politik, Memperhebat Perkembangan Ekonomi, Memperkuat Peran Kebangsaan, dan Penggerak Politik Kenegaraan.

 

Identitas Buku

Judul: Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara
Penulis: Abdul Mun’im Dz
Editor: Aprillia Koeshendraty
Penerbit: Pustaka Compass
Tahun Terbit: Februari 2017
Tebal: 413 halaman
ISBN: 978-602-60537-2-5
Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep.


Pustaka Terbaru