• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 24 Juni 2024

Pustaka

KH Sholeh Darat, Guru Para Tokoh Bangsa dan Pahlawan Nasional

KH Sholeh Darat, Guru Para Tokoh Bangsa dan Pahlawan Nasional
Buku KH Muhammad Sholeh Darat Al-Samarani. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)
Buku KH Muhammad Sholeh Darat Al-Samarani. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)

Siapa yang tidak kenal dengan Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, ataupun RA Kartini. Ketiganya adalah tokoh bangsa yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Namun masih belum banyak yang tahu bahwa ketiga tokoh hebat di atas adalah memiliki guru yang sama, yakni KH Muhammad Sholeh Darat Al-Samarani.

 

Amirul Ulum, alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, telah menulis buku biografi KH Sholeh Darat dengan judul ‘KH Muhammad Sholeh Darat Al-Samarani’. Buku ini diberi pengantar oleh KH Ahmad Wafi MZ, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar sekaligus putra KH Maimoen Zubair.

 

Dalam buku ini diceritakan secara gamblang garis keturunan, riwayat pendidikan, mendirikan pesantren, membangun rumah tangga, belajar di Haramain, hingga seputar karya-karya kitab KH Sholeh Darat. Pemikir besar biasanya lahir dari guru besar, hidup di lingkungan atau berteman dengan orang besar dan melahirkan murid besar.

 

Dari buku ini diceritakan, KH Sholeh Darat lahir tahun 1235 H yang di tahun yang sama lahir pula KH Moh Kholil bin Abdul Latif Al-Bangkalani. Salah satu pendapat mengatakan KH Sholeh Darat lahir di Semarang sebagaimana disebut dalam mukadimah tafsir kitab Faidhu al-Rahman fi Tarjemati Tafsiri Maliki al-Dayyan. Sementara garis keturunan KH Sholeh Darat menurut Habib Lutfi bin Yahya masih keturunan Sunan Kudus.

 

KH Sholeh Darat belajar dari ayahnya yakni Kiai Umar, kemudian belajar ke Kiai Muhammad Syahid (Pati), Kiai Muhammad Sholeh (Kudus), Kiai Ishaq (Kudus), Kiai Abdillah Muhammad al-Hadi ibn Baiquni (Semarang), Kiai Alim (Purworejo), hingga Kiai Zahid, Kiai Syada, dan Kiai Dardak dari Semang Barat.

 

Dengan penuh perjuangan, KH Sholeh Darat dengan ayahnya berangkat ke Haramain untuk haji dan belajar. Kala itu untuk berangkat haji memerlukan perjuangan yang berat karena Belanda mempersulit orang Nusantara berangkat ke Haramain. Sampai di Haramain, KH Sholeh Darat mendapat ujian berat karena sang ayah wafat.

 

Di Haramain pun KH Sholeh Darat belajar kepada Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad ibn Sulaiman Hasbullah, Syeikh Ahmad al-Nakhrawi al-Misri al-Makki, Syeikh Muhammad Sholeh Zawawi al-Makki, Syeikh Abdus Shomad al-Palimbani, dan Syeikh Jamal al-Hanafi.

 

Ketika pulang ke Nusantara, KH Sholeh Darat menjadi guru bantu di Pesantren Salatiyang, Purworejo. KH Sholeh Darat kemudian mengajar di mushala yang didirikan oleh mertuanya, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Darat. Terkait keberadaan Pesantren Darat ini ada beberapa data, ada yang menyebutkan hanya mushala dan yang ikut ngaji hanya santri kalong dari beberapa daerah.

 

KH Sholeh Darat cukup produktif dalam menulis kitab. Di antaranya adalah Syarah Al-Hikam, Kitab Munjiyat, Kitab Fasholatan, Kitab al-Burdah.

 

Identitas Buku:

Judul buku: KH Sholeh Darat al-Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara
Penulis: Amirul Ulum
Penerbit: Global Press
Tahun terbit: 2020
Tebal: 254 halaman
ISBN: 978-602-60177-0-3
Peresensi: Boy Ardiansyah, Guru MI Miftahul Ulum Balongmacekan dan SMP Unggulan Al-Hidayah, Kecamatan Tarik, Sidoarjo.


Pustaka Terbaru