• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Pustaka

Membincang Hermeneutika di Tangan Kaum Propaganda

Membincang Hermeneutika di Tangan Kaum Propaganda
Buku ‘Ushul Fikih versus Hermeneutika, Membaca Islam dari Kanada dan Amerika’. (Foto: Istimewa)
Buku ‘Ushul Fikih versus Hermeneutika, Membaca Islam dari Kanada dan Amerika’. (Foto: Istimewa)

Buku ‘Ushul Fikih versus Hermeneutika, Membaca Islam dari Kanada dan Amerika’ yang ditulis Profesor Yudian Wahyudi ini saat masih mengambara mencari ilmu selama lima belas tahun di Kanada dan Amerika pada rentang waktu 1991-2005.

 

Yudian mengambil judul ini guna menunjukkan kelemahan ganda sebagian dosen-dosen studi Islam. Menurut Yudian, mereka mengkritik ushul fikih tetapi sebenarnya mereka belum paham akan ushul fikih itu sendiri. Kedua, mereka membela hermeneutika tetapi hanya dengan argumen-argumen yang dangkal.

 

Melalui buku ini kita dapat melihat sosok Yudian memang sejak dulu tipikal orang yang ‘ceplas-ceplos’ dengan gagasannya. Seperti dalam pengantar buku ini, Yudian mengatakan tiga cendikiawan seniornya; Harun Nasution, Nurcholish Majid, dan Rasyidi, secara lugas dikatakan tidak ada yang mendalami ushul fikih.

 

“Harun ahli teologi Abduh, Nurcholish ahli kalam ibnu Taimiyah, Rasyidi ahli kebatinan Jawa,” demikian tulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu.

 

Meski hanya setebal 138 halaman, namun pembahasan dalam buku ini sangat padat penuh daging. Filsafat Islam, peradaban fikih, pola baru relasi Islam dan Barat merupakan tema besar yang dibahas mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

 

Dalam bab awal, Yudian mengapresiasi akan keberanian kaum salaf untuk belajar kepada orang lain. Dibuktikan dalam sejarah Filsafat Islam, yang dikatakan Yudian memang benar adanya. Sebagai penguat pemikiran Yudian yang mengapresisi kaum salaf ini, dapat pula dibaca buku ‘Pengantar Filsafat Islam’ karya Guru Besar UIN Sunan Gunan Djati Bandung Juhaya S Praja.

 

Di situ dipaparkan cikal bakal tumbuhnya filsafat Islam yang diawali dengan keterbukaan filsuf pertama dalam dunia Islam Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī membayar orang-orang untuk bersama-sama dengan dirinya menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani ke bahasa Arab. Inilah yang mengawali tumbuhnya peradaban Islam di masa Dinasti Abbasiyah.

 

Pada pembahasan selanjutnya, dalam tulisan dengan judul besar ‘Mengindonesiakan Fikih Indonesia’ sangat nampak bahwa Yudian risih dengan penerapan fikih di Indonesia yang mengadopsi Timur Tengah. Padahal, Indonesia mempunyai 'urf atau kebiasaan tersendiri. Pemikiran seperti Yudian dalam hal ini kemudian  diterjemahkan dengan istilah ‘Islam Nusantara’.

 

Hidup dalam lingkungan bule di Barat membuat Yudian melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga sendiri bahwa Barat tidak semata-mata memusuhi Islam. Yudian melihat masih banyak yang tidak termakan propaganda yang menyudutkan Islam. Seperti penulis-penulis antologi Secrets of Islam.

 

Dalam buku ini diluruskanlah anggapan-anggapan yang salah terkait agama yang dianut 1,2 miliar manusia. Seperti posisi Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, keaslian Al-Qur’an, hingga kedudukan perempuan dalam Islam, disuguhkan dengan pembahasan yang ringan tetapi sangat menarik. Selamat membaca!

 

Identitas Buku

Judul Buku: Ushul Fikih versus Hermeneutika; Membaca Islam dari Kanada dan Amerika

Penulis: Yudian Wahyudi, Ph.D

Tahun Terbit: 2006

Penerbit: Nawesea Press

ISBN: 979-25-8580-8

Peresensi: Boy Ardiansyah, Guru Madrasah & Mahasiswa Pascasarjana IAI KH Abdul Chalim Pacet, Mojokerto.


Pustaka Terbaru