Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Adakah Dalil Puasa di Bulan Sya’ban?

Adakah Dalil Puasa di Bulan Sya’ban?
Puasa di bulan Sya'ban juga disarankan. (Foto: NOJ/HRo)
Puasa di bulan Sya'ban juga disarankan. (Foto: NOJ/HRo)

Pada bulan Sya’ban diperintahkan kepada kita untuk memperbanyak puasa sunah, lebih banyak dari bulan-bulan yang lain. Mengenai puasa sunah yang dilakukan oleh Nabi SAW, diriwayatkan Aisyah RA bahwa suatu saat Nabi Muhammad terus berpuasa sunah, sehingga kami berpandangan bahwa beliau tidak pernah berbuka (tidak berpuasa sunah).

 

Selanjutnya beliau juga menjelaskan bahwa Nabi biasa berbuka (tidak melaksanakan puasa sunah) sehingga kami berpandangan bahwa beliau tidak pernah berpuasa sunah.  Selanjutnya beliau mengatakan bahwa aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadlan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah, selain di bulan Sya’ban.  

 

Artikel diambil dariPuasa Sunnah di Bulan Sya'ban

 

Dari hadits ini, dapat dipahami bahwa Nabi SAW biasa melaksanakan puasa sunah dan biasa juga meninggalkannya. Namun demikian, puasa sunah yang paling banyak dilakukan Nabi adalah di bulan Sya’ban.

 

Lengkapnya hadits tersebut sebagai berikut:

 

 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

 

Artinya: Dari Aisyah RA ia menuturkan: Rasulullah SAW biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadlan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban. (HR Bukhari, 1833, Muslim 1956).

 

 

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah juga ditegaskan demikian banyaknya Nabi melaksanakan puasa di bulan Sya’ban, bahkan disebutkan sebulan penuh. Haditsnya secara lengkap sebagai berikut:

 

 عن عائشة رضي الله عنها قالت: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ 

 

Artinya: Belum pernah Nabi SAW berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Syaban. Terkadang beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (HR Bukhari Muslim).

 

Ummu Salamah meriwayatkan hadits yang menguatkan hadits kedua yang diriwayatkan oleh Aisyah RA bahwa Nabi SAW belum pernah berpuasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadlan. (HR Nasai). 

 

Hadits dari Ummu Salamah yang kedua, juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah berpuasa terus menerus selama dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadlan.  

 

Secara lengkap teks hadits riwayat Ummu Salamah adalah sebagai berikut:

 

 مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

 

Artinya: Saya belum pernah melihat Nabi SAW berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadlan. (HR An Nasa’i, 1078, Abu Daud, 2056, At Turmudzi, 2176).

 

 عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

 

Artinya: Bahwa Nabi SAW belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadlan. (HR An Nasa’i, 1273).

 

 

Dari semua keterangan hadits-hadits di atas dapat disimpulkan:

 

(1) sangat baik melaksanakan puasa sunah sebanyak-banyaknya di bulan Sya’ban, tetapi tidak sebulan penuh.

 

(2) melaksanakan puasa sunah di bulan Sya’ban secara penuh dan disambung dengan Ramadlan.

 

(3) bagi mereka yang belum merutinkan puasa sunah di bulan Sya’ban hendaklah menghindari puasa-puasa sunah satu atau dua hari menjelang memasuki Ramadlan.

 

Mengenai hal ini Nabi bersabda:

 

  لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

 

Artinya: Jangan kamu dahului Ramadlan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang mempuasakan puasa tertentu, maka ia boleh meneruskan puasanya. (Hadits Shahih, riwayat Bukhari: 1781 dan Muslim: 1812. teks hadits riwayat al-Bukhari).

 

Demikian uraian singkat ini, semoga bermanfaat. Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dan kekhilafan, sekaligus mohon masukan untuk diperbaiki.

 

Wallahu a’lam. 

Iklan promosi NU Online Jatim