• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 7 Februari 2023

Rehat

Nandur, Cara Dakwah Pangeran Katandur Sumenep Kenalkan Islam pada Warga

Nandur, Cara Dakwah Pangeran Katandur Sumenep Kenalkan Islam pada Warga
Makam Pangeran Katandur di Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Makam Pangeran Katandur di Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Jika berkunjung ke Kecamatan Kota, Sumenep, ada pasar yang sejak dulu hingga sekarang tak pernah sepi dari pengunjung, namanya Pasar Bangkal.

 

Di balik ketenaran pasar di Desa Bangkal itu, terdapat makam waliyullah yang dikenal sebagai Pangeran Katandur. Nama lengkapnya adalah As-sayyid al-Habib as-Syekh Ahmad Baidhawi bin Shaleh al-Badawi al-Husaini atau Pangeran Katandur bin Panembahan Pakaos bin Sunan Kudus.

 

Secara bahasa, Katandur diambil dari kata Nandur dalam bahasa Jawa yang artinya bercocok tanam atau menanam. Julukan itu disematkan lantaran getol berdakwah di bidang pertanian. Artinya, sambil bercocok tanam bersama warga, ia menyebarkan Islam secara berangsur-angsur.

 

Dikisahkan oleh Habibi seorang peziarah asal Lumajang yang sudah bermukim di kawasan tersebut sejak tahun 2018 hingga sekarang, lahan tanah yang berkapur cenderung tidak subur, sehingga banyak tanah dibiarkan begitu saja. Dampak dari itu semua, ketahanan pangan warga sangat lemah.

 

Saking sulitnya makan dan kondisi masyarakat yang kelaparan, akhirnya Pengeran Katandur membantunya untuk bercocok tanam dengan pendekatan spiritual. Alhasil, banyak lahan warga tumbuh subur. Bahkan ia bisa memberi makan pada masyarakat yang jumlahnya banyak.

 

Salah satu karamahnya adalah saat menanam di pagi hari, sore harinya sudah berbuah dan sudah bisa dipanen. Mengetahui hal itu, banyak masyarakat yang berbondong-bondong sowan kepadanya. Tanpa ragu, ia mengenalkan syariat pada warga.

 

Konon, nama Desa Parsanga di Kecamatan Kota, dinukil dari kisah Pangeran Katandur yang menanam Parseh Sasangha' (menanam buah nyiur sebanyak sembilan). Di saat berbuah, buahnya sering dipetik dengan jumlah yang banyak dan tak pernah habis.

 

Keunikan Asta Katandur

Jika berkunjung ke sana, tampak di depan pintu gambar payung yang berwarna hijau dan keemasan. Gambar itu sebuah simbol pengayoman. Kata Habibi, jika istiqamah nyekar atau peziarah berada di kompleks pemakaman ini, seakan-akan dipayungi. Terbukti, suasana di lokasi pemakaman sangat sejuk dan tak terdengar kebisingan.

 

Diketahui, simbol payung itu bermula ada seorang ulama yang alim, istiqamah ziarah ke makam Pangeran Katandur. Kalimat-kalimat thayyibah, istighfar, shalawat nabi yang dibacanya menjadi perantara mendapat payung ghaib. Hanya saja tidak dibuka oleh beliau. Wallahu a'lam bishawab.

 

Saat pengunjung masuk ke dalam, makam Pangeran Katandur diapit oleh dua makam. Baik di sebelah kanan dan kiri. Konon, makam itu tidak ada jenazahnya, melainkan peninggalan-peninggalannya, seperti keris, pakaian, dan lainnya.

 

Menurut cerita rakyat, Pangeran Katandur suka membaca surah Al-Ikhlas. Kediamannya ada di Pranggan. Sedangkan tempat meditasinya di gua Payudan Guluk-Guluk dan menjadi tempat bertapa para wali-wali Sumenep, sebut saja Potre Koneng dan lainnya.

 

Keturunan Katandur

Cucu mendiang Sunan Kudus yang hidup di abad ke-18 itu memiliki 3 putra yang berjuluk Kiai Khatib Pranggan, Kiai Khatib Paddusan, dan Kiai Khatib Sendang. Kemungkinan gelar khatib diambil dari pemberi khutbah Jum'at. Namun dalam struktur pemerintahan, penyebutan khatib disandangkan pada penghulu.

 

Berbeda dengan Bhuju Ghumok di sebelah timur lapangan terbang Trunojoyo Sumenep (Kiai Ali Barangbang, penyebar ilmu tasawuf), ia putra dari Kiai Khatib Paddusan bin Sayyid Baidhawi.

 

Mayoritas keturunan Pangeran Katandur alim di bidang agama dan membentuk peradaban Islam, serta menjadi sanad keilmuan para raja atau pemimpin setelahnya.


Rehat Terbaru