• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Rehat

Kisah Ayah Mendapat Pengampunan Dosa karena Menyenangkan Buah Hati

Kisah Ayah Mendapat Pengampunan Dosa karena Menyenangkan Buah Hati
Seorang ayah akan mendapatkan kebaikan yang demikian agung kalau berupaya menyenangkan buah hatinya. (Foto: NOJ/LIp)
Seorang ayah akan mendapatkan kebaikan yang demikian agung kalau berupaya menyenangkan buah hatinya. (Foto: NOJ/LIp)

Saat hari libur seperti ini, banyak kalangan yang menjadikan kesempatan tanpa kegiatan rutin sebagai sarana memanjakan keluarga. Mengajak istri dan anak pelesir demi memastikan mereka ceria dan senang. Dan kalau ternyata tidak cukup biaya, dapat menjadikan kebersamaan di rumah sebagai sarana menyenangkan buah hati. 


Terkait ikhtiar membuat keluarga, terutama anak-anak cerita di hari libur, mengingatkan kepada kisah berikut ini. Bahwa upaya menyenangkan buah hati menjanjikan kebaikan yang dmeikian penting. Dan berikut cerita kisah sahabat yang menyenangkan anak.


Kisah ini diangkat oleh Syekh M Nawawi al-Bantani dalam kitab Qami‘ut Thughyan ala Manzhumah Syu’abil Iman (Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun), halaman 26. Hal tersebut penting disampaikan di sini sebagai tambahan bacaan agar selalu berupaya untuk membuat keluarga, terutama anak gembira. 


Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA menceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad SAW. Ia duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah yang sedang duduk bersama sahabat lainnya. Ia datang dengan maksud mengadukan persoalannya. 


“Ya Rasulullah. Aku telah berdosa. Aku mohon kautebus dosaku,” kata laki-laki tersebut memohon dengan kerendahan hati. 


“Memang apa dosamu?” tanya Rasulullah SAW. 


“Aku malu mengatakannya.” 


“Apakah kau malu mengatakannya kepadaku. Tetapi mengapa kau tidak malu kepada Allah. Padahal Dia melihatmu. Bangun! Pergilah agar api (azab) tidak menimpa kami,” kata Rasulullah meninggi. 


Laki-laki itu kemudian bangkit dan meninggalkan Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Air matanya jatuh menetes. Ia pergi dengan perasaan sia-sia dan putus asa, lalu hilang dari pandangan para sahabat. 


Malaikat Jibril AS lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ia menegur sikap Rasulullah terhadap mereka yang datang menyerahkan diri untuk penebusan dosa. 


“Wahai Muhammad Rasulullah, mengapa kau membuat laki-laki yang berdosa tadi putus asa? Padahal ia memiliki tebusan (kafarah) meski dosanya begitu banyak,” kata Jibril AS. 


"Apa kafarah yang ia miliki?” tanya Rasulullah SAW. 


“Laki-laki itu mempunyai anak kecil di rumah. Kalau ia pulang, anak kecil itu selalu menyambut ayahnya dengan gembira. Laki-laki itu memberikan makanan atau mainan yang membuatnya gembira. Jika anaknya gembira, maka itulah kafarah baginya,” kata Jibril AS. 

  

Betapa besar manfaat memanjakan keluarga terutama anak. Dengan demikian, pastikan dalam keseharian berupaya untuk membuat anak-anak gembira dan senang karena menjadi tambahan kebaikan bagi orang tua.


Editor:

Rehat Terbaru