• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Rehat

Nusron Wahid Paparkan 3 Hal yang Harus Disiapkan NU

Nusron Wahid Paparkan 3 Hal yang Harus Disiapkan NU
Wakil Ketua Umum PBNU, H Nusron Wahid. (Foto: NOJ/LIp)
Wakil Ketua Umum PBNU, H Nusron Wahid. (Foto: NOJ/LIp)

Malang, NU Online Jatim
Setidaknya ada 3 hal yang mendesak dilakukan Nahdlatul Ulama dalam memastikan kiprah dan khidmatnya di masa mendatang. Apalagi menjelang 1 abad ini, maka persiapan tersebut harus benar-benar menjadi perhatian.


Penegasan disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Nusron Wahid. Dirinya mengingatkan hal tersebut pada acara halal bihalal Ikatan Alumni Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang, yang dipusatkan di Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Rabu (01/06/2022). 


“Persiapan pertama melahirkan para kader ulama dan aktivis yang mempertahankan ilmal ulama atau ilmu ulama,” katanya pada acara yang disiarkan kanal Youtube Sembilan tersebut.


Langkah ini menurutnya harus mendapatkan perhatian serius karena banyak para kiai dan aktivis yang anaknya tidak mengikuti jejak orang tuanya menjadi ulama dan aktivis. 


“Untuk menjaga regenerasi ilmal ulama tadi,” tegasnya. 


Persiapan yang kedua adalah mempersiapkan kader hikmatal hukama yang diartikan sebagai pelaksana kebijakan yakni para teknokrat yang menduduki posisi strategis di tengah masyarakat. 


“Generasi teknokrat tempatnya di mana? Di kampus. Kampus harus melahirkan teknokrat, pesantren melahirkan ulama. Tapi bagaimana ulama dan teknokrat saling kerja sama,” ungkapnya. 


Persiapan yang ketiga adalah shiyasatal mulk yakni mempersiapkan kader yang berkiprah di dunia politik dan mampu memberi kemaslahatan bagi orang banyak. Di antara kunci kesuksesan semua itu menurutnya adalah disiplin dalam berorganisasi. 


Dirinya juga berpesan kepada para aktivis NU dan juga kiai untuk mempersiapkan putra-putrinya guna meneruskan kiprah di jamiiyah. Jangan sampai menurutnya, putra aktivis NU malah memiliki pandangan berbeda dan berkiprah di komunitas yang bertentangan dengan NU. 

 


“Kita itu kadang-kadang keasyikan mendidik orang, keasyikan ngurusin orang, lupa mendidik anak kita. Karena itu sekarang sudah saatnya anaknya ketua Ansor, anaknya ketua PMII, wajib jadi Ansor, wajib jadi PMII. Jangan sampai anaknya ketua NU, malah bermusuhan dengan NU,” tandasnya.


Editor:

Rehat Terbaru