• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Tapal Kuda

Gus Baha Jelaskan Rinci Hikmah Mi'raj Rasulullah

Gus Baha Jelaskan Rinci Hikmah Mi'raj Rasulullah
Poster Kajian Santri Gayeng yang mengadirkan Gus Baha. (Foto: NOJ/Hilyatul Maknunah)
Poster Kajian Santri Gayeng yang mengadirkan Gus Baha. (Foto: NOJ/Hilyatul Maknunah)

Banyuwangi, NU Online Jatim

Isra Mi’raj menjadi salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Karena dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu tentang pensyariatan shalat lima waktu, memperoleh keistimewaan dari Allah untuk melakukan perjalanan mulia bersama Malaikat Jibril, bertemu dengan nabi-nabi terdahulu, melihat surga dan neraka, juga berjumpa dengan Allah SWT.


KH Bahaudin Nur Salim yang akrab disapa Gus Baha menyebutkan, terdapat beberapa riwayat hadits yang mengabadikan kisah perjalanan Rasulullah ketika isra mi'raj, salah satunya adalah riwayat Imam Muslim dalam shahihnya yang mengisahkan pemotongan jumlah shalat dalam sehari semalam umat Islam dari lima puluh kali menjadi lima kali waktu shalat.


"Hal ini yang jarang disampaikan bahwa sebetulnya ada banyak hikmah yang terkandung dalam setiap kisah isra mi'raj nabi," kata Gus Baha mengawali ceramah tentang isra mi'raj Rasulullah secara daring melalui zoom yang dilaksanakan oleh komunitas Santri Gayeng pada Ahad (27/02/2022).


Mi'raj Rasulullah yang diartikan sebagai perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha, lanjut Gus Baha melalui beberapa tahapan dari langit pertama hingga ke tujuh. Dan pada setiap langit, Rasulullah dipertemukan dengan beberapa Nabi terdahulu dengan kisahnya masing-masing.


Pada saat peristiwa Mi’raj, Nabi Muhammad SAW. berada di Baitul Ma’mur, Allah Swt. mewajibkannya beserta umat Islam yang dipimpinnya untuk mengerjakan shalat lima puluh kali sehari-semalam. "Nabi Muhammad menerima begitu saja dan langsung bergegas, namun pada langit ke enam, Nabi Musa AS itu komplain untuk meminta keringanan," lanjut Gus Baha.


Komplain ini, lanjut Gus Baha tentu berdasar sebab umat Nabi Musa yang kuat saja tidak mampu. "Nah, apalagi umat Muhammad yang lebih lemah," lanjut Gus Baha​​​​​​​.


Menurut Gus Baha, dengan negosiasi bertahap hingga sembilan kali dan kewajiban shalat dari lima puluh kali menjadi lima kali, tentunya hal ini bisa diambil pelajaran bahwa hubungan dengan Allah Swt. tidak perlu malu.


"Allah itu suka kalau ada Hamba-Nya memohon, meminta sebagai bentuk pengakuan sebagai hamba yang lemah," pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru