• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Tapal Kuda

Kecintaan Kiai Moh Hasan Genggong kepada NU

Kecintaan Kiai Moh Hasan Genggong kepada NU
KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah saat Haul ke-69 KH Moh Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin. (Foto: NOJ/ Risma Savhira)
KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah saat Haul ke-69 KH Moh Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin. (Foto: NOJ/ Risma Savhira)

Probolinggo, NU Online Jatim
KH Moh Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian NU di Tuban atas permintaan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Sejarah tersebut tercatat dalam buku yang dimiliki oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.


Kecintaan KH Moh Hasan kepada NU tidak diragukan lagi, sampai beliau berwasiat kepada seluruh muhibbinnya agar tidak marah kepada NU. Wasiat tersebut diceritakan oleh Gus Mohammad Haris pada Haul ke-69 KH Moh Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Kamis (12/05/2022).


“KH Moh Hasan pernah berkata bahwa jangan pernah marah kepada NU. Karena saat itu momen di mana NU mulai mengarah menjadi partai politik, sehingga warga NU banyak yang marah dan mengeluh kepada KH Moh Hasan,” katanya.


Menurut Gus Haris, alasan dibalik pesan KH Moh Hasan tersebut karena NU merupakan jamiyah yang diridhai oleh Allah.


“NU adalah jamiyah yang diridhai Allah, maka KH Moh Hasan menyerukan bahwa siapapun yang takdzim kepada beliau jangan pernah marah kepada NU apapun yang terjadi,” tambahnya.


Pada kesempatan yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah mengungkapkan, bahwa NU adalah kendaraan yang isinya adalah ilmu dan manhaj para ulama salaf. Maka tidak heran jika KH Moh Hasan berkata jika NU adalah organisasi yang diridhai Allah.


“Kendaraan ini isinya tidak boleh diubah. Maka KH Achmad Shiddiq dawuh bahwa NU bukan hanya sekadar organisasi namun juga pegangan hidup di dunia dan akhirat,” terangnya.


Ketua PWNU Jawa Timur periode 2008-2018 itu menuturkan, jika NU ingin tetap berwibawa maka harus sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan.


“Karena NU adalah kendaraan yang isinya ilmu dan manhaj para ulama, maka NU diibaratkan seperti kereta. Harus ada rel, masinis, kondektur, jam keberangkatan dan jam tibanya harus jelas. Maka bagaimana NU berjalan sesuai jalurnya, jika ini dipegang maka NU selamat. Karena yang memiliki NU adalah para auliya', kita hanya penerus perjuangan beliau,” tuturnya.


Tapal Kuda Terbaru