• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Tapal Kuda

Mengenal Gus Haris Genggong, Suka Berdakwah Lewat Musik

Mengenal Gus Haris Genggong, Suka Berdakwah Lewat Musik
KH Muhammad Haris Damanhuri Genggong suka berdakwah lewat musik. (Foto: NOJ/ Siti Nurhaliza)
KH Muhammad Haris Damanhuri Genggong suka berdakwah lewat musik. (Foto: NOJ/ Siti Nurhaliza)

Probolinggo, NU Online Jatim
KH Muhammad Haris Damanhuri merupakan salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Di pesantren, Gus Haris menjabat Ketua Biro Kepesantrenan dan mengelola bidang kesehatan. Ia juga dikenal sebagai sosok pendakwah lewat musik.


Gus Haris merupakan putra pertama dari Almarhum KH Damanhuri Romli dan Nyai Hj Diana Sosilowati. Sejak kecil ia bersekolah di pesantren milik kakeknya, yakni KH Romli Tamim Pesantren Darul Ulum, Jombang.


Kehidupan di pesantren ini dijalani sampai lulus SMA pada tahun 1992. Selepas dari SMA, Gus Haris melanjutkan pendidikannya di Semarang. Kemudian berlanjut menempuh perguruan tinggi di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.


Sebagai seorang lulusan kedokteran, pasca menempuh pendidikan ia tidak langsung pulang ke Probolinggo. Melainkan menetap selama setahun sambil lalu membuka praktik dokter umum di Semarang.


Gus Haris merupakan sosok yang unik. Pasalnya ia dikenal sebagai seorang pendakwah melalui jenis musik. Hobi bernyanyi tersebut baru dimulai berkisar lima tahunan yang lalu, tepatnya pada tahun 2018.


Saat itu, ia menciptakan lagu pertamanya berjudul Malaikatku. Lagu ini berkisah tentang ibundanya yang sakit. “Saat itu terciptalah lagu Malaikatku. Baru itu saya mau menyanyikan lagu,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Rabu (05/10/2022).


Bagi Gus Haris, bernyanyi sekaligus berdakwah adalah hal yang menjadi hobbi. Sehingga tak jarang bila dalam sejumlah lagunya ia kerap memasukkan unsur pesan-pesan agama yang terkandung dalam hadits dan Al-Qur'an.


“Saya dengan musik ini mencoba memberikan syiar agama dengan lirik yang tersirat. Mungkin orang butuh mencerna terlebih dahulu, tapi saya melihat ini sesuatu yang berbeda. Kita juga coba masuk ke dunia milenial, mulai aransemen, musik, bahkan liriknya,” katanya.


Hingga saat ini, Gus Haris telah menerbitkan satu album yang berisi sembilan lagu. Dirinya berharap lagu-lagu yang telah dibuat bisa diterima oleh masyarakat luas.


Di sisi lain, Gus Haris menyampaikan inovasi terbaru yang dikembangkan di Pesantren Zainul Hasan Genggong salah satunya adalah ‘Santri Ramah Anak’. Hal ini merupakan bentuk pengabdian kalangan pesantren yang belakangan ini kerap mendapat sorotan.


Gagasan tersebut muncul menyikapi maraknya kejadian tentang bullying dan perundungan yang terjadi belakangan ini. Oleh karena itu, Gus Haris tidak ingin kasus-kasus seperti itu terjadi kembali di pondok lain.


“Kami tidak sendiri. Kami juga berkolaborasi dengan beberapa lapisan, mulai dari mahasiswa psikologi di Surabaya, tenaga pendidik, bahkan orang tua," jelasnya.


Di akhir obrolan, Gus Haris berpesan kepada generasi milenial agar tidak pernah takut untuk bergerak maju. Sebab menurutnya, santri boleh menjadi apa saja dan peka terhadap tantangan zaman.


‘Kita harus semangat untuk meraih cita-cita. Basicly seorang santri harus tetap dijaga dimana pun berada. Asasnya adalah asas manfaat kepada orang lain, bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri," pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru