• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 4 Desember 2022

Tapal Kuda

Nahdliyin di Lumajang Diceritakan Belas Kasih Rasul pada Orang Munafik

Nahdliyin di Lumajang Diceritakan Belas Kasih Rasul pada Orang Munafik
Rais PBNU KH Ahmad Sadid Jauhari. (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)
Rais PBNU KH Ahmad Sadid Jauhari. (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim

Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Sadid Jauhari menyampaikan, bahwa Rasulullah SAW merupakan makhluk yang memiliki sifat belas kasih yang cukup besar. Tidak hanya kepada manusia, melainkan kepada semua makhluk termasuk tumbuh-tumbuhan, hewan bahkan kepada musuhnya sendiri seperti setan dan orang munafik.

 

Penegasan tersebut disampaikan saat ceramah pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU yang diadakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang, Rabu (16/02/2021) malam. Kegiatan tersebut dipusatkan di Pendopo Arya Wiraraja Lumajang.

 

Diceritakan, Rasulullah pernah menangkap setan dan diikat pada tiang Masjid Nabawi. Namun setelah itu Rasulullah kasihan kepadanya dan dilepaskan ikatan tersebut sebelum banyak anak-anak penduduk Madinah melempari setan dengan batu.

 

"Selain itu, Rasulullah tidak ingin menyaingi Nabi Sulaiman yang dapat menaklukkan setan karena doanya kepada Allah agar diberikan kerajaan yang tidak pernah dimiliki orang-orang sebelum dan sesudahnya," ujarnya.

 

Lebih lanjut, Kiai Sadid menuturkan, Abdullah bin Ubay bin Salul seorang dedengkot orang-orang munafik yang suka berbuat onar saat itu juga pernah merasakan betapa besar kasih sayang Rasulullah kepadanya. Rasulullah yang hampir saja bercerai dengan Sayyidah Aisyah karena ulah Abdullah bin Ubay ini tak pernah menaruh dendam.

 

"Saat orang munafik ini sakaratul maut, anaknya datang kepada Rasulullah dan meminta sorban beliau untuk dijadikan kafannya dan meminta Rasulullah juga menshalatinya. Rasulullah tidak menolak, sorbannya diberikan dan siap menshalati orang munafik ini," imbuh Pengasuh Pondok Pesantren Assunniyyah Kencong Jember tersebut.

 

Tahu akan hal itu, Umar bin Khattab menanyakan ketidaksetujuannya karena disebutkan Allah tidak akan mengampuni orang munafik meskipun dimintakan ampun sebanyak 70 kali. Namun, Rasulullah tetap datang ke rumah duka seraya menjawab, jika Allah tidak mengampuni orang munafik meskipun dimintakan ampun 70 kali, maka Rasulullah akan melebihkan dari hitungan 70 permintaan ampunan.

 

"Namun Rasulullah mengurungkan shalatnya karena Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu Allah pada Surat At-Taubah ayat 84 tentang larangan menshalati orang munafik dan memberi tahukan ini kepada anak Abdullah bin Ubay," lanjut Kiai Sadid.

 

Kiai Sadid mengungkapkan, bagian kasih sayang kepada setan inilah yang diambil oleh Jibril saat beberapa kali membedah dada Rasulullah termasuk saat hendak Isra' Mi'raj. Bukan membersihkan dosa atau kotoran, karena golongan Aswaja berkeyakinan jika Rasulullah bersih dari dosa.

 

"Maka betapa pentingnya Akhlakul karimah seperti banyak dicontohkan Rasulullah, sehingga disebutkan jika jika kebanyakan penyebab seseorang masuk surga adalah bagusnya akhlak," pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru