• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Tapal Kuda

Wakil Rais NU Lumajang Jelaskan Manfaat Dakwah dengan Hikmah

Wakil Rais NU Lumajang Jelaskan Manfaat Dakwah dengan Hikmah
Wakil Rais PCNU Lumajang, KH Mahrus Ali (pegang mik). (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)
Wakil Rais PCNU Lumajang, KH Mahrus Ali (pegang mik). (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang, KH Mahrus Ali menjelaskan manfaat berdakwah dengan hikmah atau bijaksana sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nahl ayat 125.


Penjelasan itu disampaikan Kiai Mahrus saat mauidzah hasanah dalam acara halal bihalal yang diadakan Pimpinan Cabang (PC) Jam'iyyatul Qurra' wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Lumajang. Kegiatan dipusatkan di MI Nurul Islam 02 Sememu Kecamatan Pasirian Lumajang, Ahad (15/05/2022).


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Lumajang tersebut menjelaskan, posisi dakwah dengan hikmah harus didahulukan. Hal itu sesuai dengan perintah Allah yang meletakkan hikmah di posisi utama dibanding cara dakwah lainnya.


"Hikmah didahulukan baru mauidzah, jangan dibalik, tapi harus bijak dulu," jelas Kiai Mahrus.


Kiai Mahrus menceritakan, dulu ada seorang yang kaya raya hendak menunaikan ibadah kurban dengan sapi yang diniatkan untuk delapan keluarganya. Sapi ini pun dibawanya ke salah seorang tokoh agama. Namun kurban tersebut oleh tokoh itu dianggap tidak sah karena seharusnya satu sapi untuk tujuh orang.


"Padahal dia orang awam, akhirnya ya tidak jadi kurban. Begitu dibawa ke kiai NU yang bijak, dia mengutarakan seperti di atas, dan kiai NU ini menyuruh untuk memanggil delapan orang yang menjadi tujuan kurban," kisah Kiai Mahrus.


Kiai Mahrus melanjutkan, setelah delapan orang keluarganya datang, Kiai NU ini menanyai satu persatu orang-orang tersebut. Dan akhirnya pertanyaan sampai pada urutan kedelapan yang tidak lain seorang anak kecil, yaitu cucu dari orang tersebut.


"Kata kiai NU, ini siapa, orang kaya itu menjawab jika dia adalah cucunya. Si kiai dengan bijak menjelaskan anak kecil ini tidak bisa naik sapi karena kekecilan, perlu ada bancikan atau pancikan untuk naik," terus Kiai Mahrus.


Maka, kata Kiai Mahrus, Kiai NU ini menyuruh orang kaya tadi untuk membeli kambing sebagai injakan cucunya menaiki sapi. Akhirnya tanpa pikir panjang orang kaya ini langsung membeli kambing atas penjelasan sang kiai bijak ini.


"Itulah orang bijak, tidak semerta-merta menyalahkan orang lain. Akhirnya selain mendapat kurban sapi, juga mendapat kurban satu kambing," tandasnya.


Tapal Kuda Terbaru