• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 7 Desember 2022

Tokoh

Abu al-Qasim al-Qusyayri, Sang Penghimpun Nilai-nilai Syariat dan Hakikat

Abu al-Qasim al-Qusyayri, Sang Penghimpun Nilai-nilai Syariat dan Hakikat
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Abu Al-Qasim al-Qusyayri, begitulah sosok sufi ini dikenal di kalangan umat Islam. Nama lengkapnya adalah Abd Al-Karim ibn Hawazin ibn Abd Al-Malik ibn Talhah ibn Muhammad. Nama Al-Qusyayriberasal dari leluhurnya jalur ayah, Bani Qusyayri. Sedangkan dari jalur ibu, Abu Al-Qasim al-Qusyayrimemiliki garis keturunan yang berporos pada marga Sulami.
 

Al-Qusyayriberkata bahwa dirinya dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal tahun 376 Hijriyah/986 Masehi di kota Ustawa. Keterangan ini merujuk pada pengenalan penyusun buku terjemah Al-Risalah Al-Qusyayriyyah (Jakarta: Pustaka Amani, 2007, hlm 3).
 

Sejak kecil, Al-Qusyayri yang yatim berada di bawah bimbingan dan pengajaran Abu Al-Qasim Al-Yamani, seorang sufi sekaligus sahabat dekat Bani Qusyayri. Pada masa itu, jajaran pemerintahan tidak memihak pada kepentingan rakyat dan membebankan pajak dengan jumlah banyak. Sehingga Al-Qusyayri bercita-cita untuk menjadi pegawai pemerintahan yang mengelola pajak dan memutuskan pergi menuju Naisabur untuk belajar ilmu hitung.
 

Atas izin Allah, Al-Qusyayri yang sampai di kota Naisabur dipertemukan dengan seorang sufi bernama Abu Ali Al-Hasan ibn Ali Al-Naisaburi yang akrab disapa dengan Abu Ali Al-Daqqaq. Semenjak pertemuan tersebut, Al-Qusyayri kemudian berbalik arah dan memutuskan untuk menekuni ilmu agama. Kala itu pula al-Qusyayri menemukan keindahan dalam pengetahuan spiritual dan memilih tasawuf sebagai jalan yang ditempuh hingga akhir hayat.
 

Pendidikan, pemikiran, dan perjuangan tasawuf
Selain menjadi seorang sufi, Abu Al-Qasim al-Qusyayri juga menguasai ilmu selain bidang tasawuf. Al-Qusyayri merupakan penghafal hadits yang kuat, menekuni ilmu fikih beraliran Syafi’i, dan setia dalam menganut madzhab teologi Ahl Al-Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, Al-Qusyayri juga dikenal dengan gelar Al-Jami’ Bayna Al-Syari’ah wa Al-Haqiqah (penghimpun antara nilai-nilai syari’at dan hakikat).
 

Al-Qusyayri merasakan keprihatinan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang mengikuti tasawuf secara taklid. Mereka mempraktikkan ajaran tasawuf dengan kekeliruan. Di antara penyimpangan tasawuf yang terjadi pada masa itu adalah ungkapan-ungkapan syatahat (ucapan ganjil kaum sufi dalam mengungkapkan penghayatan mereka terhadap keesaan Allah) yang mereka lontarkan. Mereka juga gemar mengenakan pakaian orang miskin, padahal tindakan mereka bertentangan dengan wujud pakaian itu.
 

Keresahan ini kemudian dituangkan al-Qusyayri dalam karya monumental yang berjudul al-Risalah (judulnya kemudian dinisbatkan pada nama beliau, al-Risalah al-Qusyayriyyah). Kitab ini memaparkan secara lugas bahwa para sufi tidak seharusnya keluar dari dua pijakan dasar Al-Qur’an dan Hadits. Sudah seyogyanya mereka mengikuti tradisi beragama generasi salaf yang saleh dalam iman, akidah, dan perilaku mereka.
 

Seiring berjalannya waktu, popularitas al-Qusyayri menyebar hingga tak terhitung jumlah murid dan pengikutnya. Namun ibarat pepatah “semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpanya”.
 

Al-Qusyayri menjumpai banyak cobaan. Penguasa baru Dinasti Seljuk di bawah pimpinan Perdana Menteri Al-Kunduri menetapkan kebijakan yang seakan menyudutkan al-Qusyayri dan penganut Madzhab Asy’ari Syafi’i lainnya. al-Qusyayri tampil membela dan menentang tuduhan al-Kunduri yang menyebut mereka penganut aliran Syi’ah Rawafid dan pembuat Bid’ah.
 

Cobaan ini bertambah berat ketika datang fitnah keji dari kelompok Mu’tazilah dan Hambali. Mereka melancarkan propaganda fitnah dusta kepada orang terdekat hingga murid al-Qusyayri. Sayangnya, rencana ini berhasil mencerai-beraikan murid al-Qusyayridan membuat orang-orang mulai menyingkir darinya. Pengajian dan majelis dzikir yang didirikan terpaksa harus dibubarkan. al-Qusyayri mengalami cobaan yang begitu berat dengan berbagai ragam cacian, siksaan, hingga pengusiran pada tahun 440 Hijriyah/1048 Masehi.
 

Setelah lima belas tahun masa pengusiran yang dialami al-Qusyayri, ia akhirnya dapat kembali ke Naisabur ketika tampuk kekhalifahan diambil alih oleh Abu Syuja’. Saat itu banyak pengikut dan murid al-Qusyayri yang berdatangan membanjiri majelis yang kembali diadakan. al-Qusyayri menghabiskan sisa usianya di sana dan meninggal dunia pada Ahad, 16 Rabiul Akhir 465 Hijriyah/1073 Masehi dalam usia 87 tahun. Jasad al-Qusyayri disemayamkan di samping makam Sang Guru, Syaikh Abu Ali Al-Daqqaq.
 

Karya-karya
Al-Imam al-Qusyayri adalah seorang ulama yang menguasai berbagai ilmu. Karyanya banyak mengupas tentang permasalahan tasawuf dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Dalam pembukaan terjemah kitab al-Risalah al-Qusyayriyyah, dijelaskan bahwa karya dan karangan yang dituntaskan oleh al-Qusyayri berjumlah 29 buah. (Jakarta: Pustaka Amani, 2007, hlm 12-14).
 

Di antara kitab-kitab tersebut terdapat Balaghah al-Maqasid fi al-Tasawwuf, al-Taysir fi ‘Ilm Al-Tafsir, dan yang paling populer adalah kitab al-Risalat al-Qusyayriyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf.
 

Tertulis dalam buku Ensiklopedia Tasawuf jilid 2, kitab Al-Risalah ini ditulis oleh al-Qusyayripada tahun 438 Hijriyah/1046 Masehi. Kemasyhuran al-Qusyayri pun sangat dipengaruhi oleh kitab yang terkadang disebut dengan al-Risalah al-Sufiyyah ini. (Bandung: Angkasa, 2008, hlm 1027). Menurut al-Qusyayri, kitab ini ditujukan pada kaum sufi yang menyimpang, tentang bagaimana pengikut thariqah seharusnya bersikap dan berperilaku.
 

al-Qusyayri sebenarnya menulis al-Risalah dalam lima pasal. Namun, dalam rangka mengikuti kaidah penulisan buku ilmiah modern, editor al-Risalah menyusun kembali sistematika penyajian al-Risalah menjadi; pendahuluan sebagai permulaan pembahasan, kemudian pasal tentang dasar-dasar tauhid menurut kaum sufi, istilah istilah tasawuf, penjelasan maqamat kaum sufi dan berbagai persoalan keruhanian, karamah, dan terakhir tentang konsep-konsep tasawuf.
 

Pengaruh al-Qusyayri terhadap tokoh sufi lainnya
Abu Waba Al-Ghanimi At-Taftazani memaparkan bahwa al-Qusyayrimemiliki posisi yang krusial dalam perkembangan tasawuf abad ke-5. Selama hidup, al-Qusyayri sangat peduli untuk menjelaskan keharmonisan antara sufisme dan syari’ah. al-Qusyayri terus menerus berkutat dalam pengajaran hadisjuga mengelola duwayrah, tempatnya melatih dan mengajarkan tasawuf menggunakan karyanya sendiri.
 

Kitab monumental al-Risalah juga banyak mempengaruhi pemikiran dan literatur para sufi. Banyak karya besar dalam dunia tasawuf yang berhutang budi kepada al-Risalah. Misalnya, Kasyf al-Mahjub karangan al-Hujwiri yang ditulis dalam bahasa Persia. Demikian juga Magnum Opus al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din.
 

Sebagain besar anekdot di dalamnya juga dicantumkan dalam Tazkirat Al-Awliya' karya Farid al-Din al-Attar. Bahkan beberapa bagian dalam Minhaj al-Fugara’ karya sufi Mawlawi Turki dan komentator Matsnawi Ismail Ankaravi diduga bersumber dari al-Risalah. Wallahu A’lam bi Al-Shawab

Penulis: Vina Sa'adatul Athiyyah


Editor:

Tokoh Terbaru