• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 1 Juli 2022

Matraman

Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Legendaris Mendidik Kiai-kiai Masyhur

Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Legendaris Mendidik Kiai-kiai Masyhur
Lokasi masjid peninggalan KH Ahmad Sholeh pendiri Pesantren Gongdanglegi. (Foto : NOJ/ M Nazar afandi)
Lokasi masjid peninggalan KH Ahmad Sholeh pendiri Pesantren Gongdanglegi. (Foto : NOJ/ M Nazar afandi)

Nganjuk, NU Online Jatim
Nadhiyin perlu mengetahui keberadaan pesantren legendaris yang pernah mendidik kiai-kiai termasyhur di Kabupaten Nganjuk maupun Kediri. Pesantren legendaris tersebut dikenal dengan ‘Pesantren Gondanglegi’ Nganjuk.
 

Pendiri Pesantren Gongdanglegi itu adalah KH Ahmad Sholeh bin Ashfiya’ dari Lamongan. Ia merupakan santri dan menantu KH Ahmad Sholeh Nur pengasuh Pesantren Langitan Tuban.
 

Lokasi pesantren yang legendaris itu berada di perbatasan wilayah Nganjuk dan Kediri.
 

Meski pesantren itu kini hilang, namun jejaknya tetap terjaga karena telah mendidik tokoh kiai termasyhur atau terkenal di Indonesia.
 

Konon, di antaranya adalah KH Abdul Karim pendiri Pondok pesantren (Ponpes) Lirboyo, KH Achmad Djazuli Utsman pendiri Ponpes Al-Falah Ploso Kediri dan Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri.
 

“Cerita dari mbah-mbah dulu, memang kalau Mbah Kiai Ahmad Sholeh itu mondok di Langitan,” ujar Muhammad Arif Setiawan (44) Ketua Ranting Nahdhatul Ulama (NU) Desa Gondanglegi, Jumat (08/04/2022).
 

Sebelumnya, Gus Arif menceritakan, Kiai Ahmad Sholeh mendapat perintah dari Kiai Sholeh Langitan untuk mengikuti sayembara memberantas perampok di Karesidenan Kediri hingga Kawedanan Warujayeng.
 

Dahulu, kata dia, di sepanjang Jalan Gondanglegi hingga Mrican Kediri terkenal sebagai wilayah angker dan banyak perampok. Setiap ada pedagang yang melewatinya bisa mati.
 

Alhasil Kiai Ahmad Sholeh berhasil menumpas para perampok itu. “Karena Mbah Kiai Sholeh itu pendekar, welas dan ngalim. Ketika sampai sini perampok ditumpas semua, takluk dan pada nyantri kepadanya,” ungkapnya.
 

Ia mengatakan, Kiai Ahmad Sholeh diberikan tanah perdikan dari Kediri. Selanjutnya tanah itu dibangun menjadi tempat untuk aktifitas ibadah berupa Masjid pertama di wilayah setempat.
 

Masyarakat mengenali sosoknya sebagai kiai mashyur pada bidang Al-Qur’an. Sehingga banyak orang dari berbagai daerah yang belajar kepada Kiai Ahmad Sholeh.
 

“Karena banyak santri, akhirnya jadi Pesantren Gondanglegi. Termasuk satu di antara yang nyantri itu Mbah Manab Lirboyo, Mbah Djazuli Ploso, Mbah Ihsan Jampes,” pungkasnya.
 

Wakil Ketua Lakpesdam NU Nganjuk, Burhan Abdul Lathief membenarkan cerita tersebut. Gus Burhan mengungkapkan bahwa Kiai Ahmad Sholeh wafat pada tahun 1925.
 

“Pesantren Gondanglegi itu dulu populer, santrinya ribuan, dan legendaris. Bahkan pernah ada santri dari Kasunanan Solo (Surakarta),” ujar Gus Burhan.
 

“Sepeninggalnya, santri semakin surut. Pesantren kebakaran pada zaman Belanda, hingga rusak parah,” ungkap penulis buku dari sunan bonang hingga NU Prambon ini.
 

Para santrinya dianjurkan belajar kepada menantunya bernama Kiai Imam Mustadjab pendiri Ponpes Gedongsari Prambon.
 

“Pada Tahun 1955, pesantren Gondanglegi terkena banjir dari aliran Sungai Brantas. Banyak pemukiman, termasuk gothatkan pesantren itu hanyut,” imbuhnya.
 

Menurut dia, kini sisa peninggalan Pesantren Gondanglegi adalah Masjid dengan empat tiang kayu jati.
 

Masjid itu bernama ‘Masjid Al-Falah’ di Dusun Gawangsari, Desa Gongdanglegi, Kecamatan Prambon, Nganjuk.


Editor:

Matraman Terbaru