• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 7 Agustus 2022

Tokoh

Cara Mbah Hamid Melawan Tekanan Orde Baru

Cara Mbah Hamid Melawan Tekanan Orde Baru
Mbah Hamid dikenal sebagai waliyullah. (Foto: NOJ/istimewa)
Mbah Hamid dikenal sebagai waliyullah. (Foto: NOJ/istimewa)

Ini cerita disampaikan Rais Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sumberrejo, Purwosari, Pasuruan, Mustofa. Hal itu disampaikan dari gurunya, Kiai Abdullah Syafi'i Pakis Sawi saat menyampaikan di pengajian umum. Kiai Abdullah tidak lain teman sejawat Kiai Hamid kala nyantri di Mbah Maksum Lasem, dan mendapat kabar saat bertemu di kediaman Kiai Hamid. Tulisan disampaikan Ayung Notonegoro, pegiat literasi di Banyuwangi.  

 

Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto benar-benar menancapkan cengkraman kekuasaan terhadap semua lini. Seusai pemilihan umum atau Pemilu 1971, misalnya, Orde Baru memfusikan partai-partai menjadi dua saja. Plus Golongan Karya atau Golkar yang tidak mau disebut partai, namun berperan sebagai partai.

 

Semua partai Islam dilebur dalam Partai Persatuan Pembangunan atau PPP. Sedangkan selain itu, partai nasionalis dan non-Muslim, menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

 

Tak berhenti sampai di situ, Orde Baru terus mengebiri dan merepresi aktivitas politik kala. Nahdlatul Ulama yang sebelumnya menjadi partai dan lantas melebur ke PPP merasakan hal yang amat perih pada masa-masa itu. Terutama menjelang Pemilu 1977.

  

Banyak kiai NU di kampung-kampung dipaksa untuk memilih Golkar. Para pengasuh pesantren tersebut, dipanggil baik di Komando Rayon Militer atau Koramil maupun Kodim (Komando Daerah Militer). Sesuai dengan tingkat pengaruh sang kiai.

 

Hampir merata semua tokoh NU mengalami hal itu. Termasuk almagfurlah KH Abdul Hamid Pasuruan. Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah tersebut menyebut tahun-tahun itu, sebagai tahun ‘Innalillah’. Sebuah ucapan kala mendengar berita buruk, seperti kematian. Suatu istilah yang melambangkan betapa buruknya masa-masa itu.

  

Suatu ketika, Kiai Hamid dipanggil oleh Kodim. Di markas tentara itu, Kiai Hamid diperintah untuk menandatangani berkas untuk memberikan dukungannya kepada Golkar. Dipinjamilah pena untuk menandatangani surat tersebut. Namun sayang, saat Kiai Hamid menggoreskannya di surat itu, seketika pena itu tidak mengeluarkan tinta.

 

Begitu terus hingga ganti pena beberapa kali. Tak ada yang mempan. Sampai akhirnya tentara itu jengah dan suruh menggantinya dengan cap jempol.

 

"Pakai cap jempol saja, kiai," ujar salah satu tentara.

 

Kiai Hamid pun menuruti. Namun keanehan terjadi. Saat jempol waliyullah itu menempelkan jempolnya pada surat dukungan tersebut, yang membekas bukanlah sidik jarinya. Akan tetapi yang membekas justru lambang kakbah di kertas itu. Lambang yang menjadi logo PPP.

 

Seketika itu, para tentara melepaskan kiai yang kharismatik tersebut.

  

Dan hari ini, haul ke-39 KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar digelar dengan beragam acara sejak Ahad (25/10/2020) yakni Maulid al-Habsy. Juga temu alumni (IKSAS dan HIMMMAH)  pagi di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah (Jalan Patiunus 25 Krampyangan, Bugul Kidul, Pasuruan). Serta khatmil Qur’an bil hifdzi khusus untuk santri dan alumni. 

 

Sedangkan Senin (26/10/2020) acaranya adalah majlis haul di Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan (Jalan KH Abdul Hamid VIII/14 Kota Pasuruan), serta malamnya, lailatul hadrah di pesantren setempat.

 

Imbauan dari panitia, karena dalam suasana pandemi Covid-19, maka diberlakukan protokol kesehatan. Jamaah diharuskan memakai masker, menjaga jarak dan sering cuci tangan dengan hand sanitizer yang dibawa sendiri.    

 

Juga hendaknya diantisipasi karena kerap turun hujan untuk membawa payung atau jas hujan. Tentu juga alas yang tidak mudah basah.
 


Editor:

Tokoh Terbaru