• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 26 Mei 2022

Tokoh

Gus Dur: Satu Rumah Seribu Pintu (Bagian 2)

Gus Dur: Satu Rumah Seribu Pintu (Bagian 2)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, satu rumah seribu pintu. (Foto: Istimewa)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, satu rumah seribu pintu. (Foto: Istimewa)

Untuk mengkaji Gus Dur bisa melalui dua hal. Dari jalur resmi: artikel dan ceramahnya yang merupakan tumpahan isi pikirannya; dan dari jalur non-resmi. Yang kedua bisa ditelusuri dari riwayat mereka yang pernah berinteraksi dengannya sebagai sahabat, juga--tak kalah penting-- lawan-lawannya.


Yang pertama sifatnya formal. Jumlahnya melimpah. Yang kedua informal, karena lebih manusiawi dan lebih banyak yang belum terungkap di publik. Oleh sebab itu perlu digali lebih dalam. Karena biasanya terserak pada cerita tutur, atau berceceran di berbagai kolom. Misalnya, dari salah satu kolom KH Husein Muhammad dan KH A Musthofa Bisri, kita tahu sosok Gus Dur memilik watak al-istar: mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan pribadinya. Ini banyak, sekali lagi, banyak yang belum terekspos. 


Dari tulisan Syu'bah Asa, kita tahu betapa genunin gaya Gus Dur saat berpikir dan menuangkannya dalam tulisan di Majalah Tempo, berikut sisi perfeksionisnya. Soal bobot artikel, Gus Dur tipikal perfeksionis.


Foto-foto masa muda Gus Dur lebih menampilkan sosok yang berpenampilan "acak-adut", "nggak mbois", dan terkesan cuek. Tapi soal isi tulisan, bisa dijamin, sosok ini tipikal perfeksionis. Terstruktur rapi, memanjakan pembaca, berlimpah referensi, dan argumentasinya kokoh. Menunjukkan sosok yang kaya pengalaman, sudut pandang yang orisinil, dan menyimpan magma gagasan yang sewaktu-waktu menyembur: di dalam kendaraan, di rumah, kantor PBNU, hingga saat singgah di rumah shohibul bait usai ngisi pengajian. 
 


Dari berbagai artikel yang ditulis, biasanya di akhir, Gus Dur mencantumkan dimana posisi geografisnya saat menulis. Dari situ, kita bisa melihat betapa mobilitas sosok ini. Di satu tanggal, tertulis Jakarta, Padang, Surabaya; di lain waktu bisa New York, Barcelona, atau Gaza. Penanda lokasi yang asyik, karena jika dilihat dari kronologi waktu, betapa zig-zag-nya alur perjalananan. Bukan perjalanan rea-reo, liburan, tapi selalu ada misi; keagamaan, kenegaraan, dan kemanusiaan. Selebihnya ke-NU-an. Karena Gus Dur adalah pribadi yang sangat telaten mendatangi jamaah Nahdliyin di desa-desa.


Hanya, karena mobilitasnya yang tinggi, Gus Dur memiliki kelemahan menganga. Sosok ini pada akhirnya tidak sempat menulis buku secara utuh nan sistematis, sebagaimana ciri intelektual lain. Dia hanya sampai pada "perajin artikel". Tapi tentu saja kelemahan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak kualitas pemikirannya. Karena Gus Dur bukan asyik di menara gading, duduk merenung-menuliskan gagasan hingga tuntas dalam satu tubuh utuh. Dia pengelana, tidak enak duduk berdiam, dan memilih berkeliling. Justru karena itu, tulisannya prolifik. Berdasarkan apa yang baru dialami, dicocokkan dengan referensi yang ada, direnungkan, diambil kesimpulan. Tanpa justifikasi. Enak, betul!


Sisi kelemahan lain ada pada diri sebagian para followers-nya, yang kesana kemari mengerek nama Gus Dur. Pengagum Gus Dur seringkali tejerembab dalam seremonial yang menihilkan aspek tawazun alias keseimbangan untuk "menimbang" Gus Dur sendiri.


Dalam wilayah pluralisme, ada yang sebagian kecil dari mereka "menyamakan semua agama". Padahal, sebatas pengetahuan saya, Gus Dur tidak pernah bilang semua agama sama. Yang dilakukan Gus Dur adalah mencari titik temu antar agama tanpa harus menyamakannya. Yang dilakukan adalah memperjuangkan jaminan kebebasan beragama bagi semua warga NKRI, tanpa diskriminasi, sebagaimana dijamin konstitusi. 
 


Dalam beberapa ceramah di hadapan kiai dan juga warga Nahdliyin di pedesaan, Gus Dur tegas menolak "menyamakan semua agama". Gus Dur menghormati pilihan beragama orang lain, tanpa terjebak pada konteks "mencampuradukan" atau membuat "adonan" baru.


Soal pergaulan lintas iman ini, pernah saya diundang oleh komunitas pengagum Gus Dur. Acara dalam rangka haulnya. Digelar di halaman gereja pada malam hari. Saya diminta bicara soal pluralisme ala Gus Dur. Saya menolak, sudah terlalu banyak yang bicara soal pluralisme atas nama Gus Dur, kadang tepat, kadang "kebablasan" dan ceroboh. Solusinya? Saya mau datang dan bicara, asalkan topiknya terserah saya. Panitia oke. 


Akhirnya, saya ngomong ngalor ngidul tentang perjalanan spiritual Gus Dur: ritus sebagai sarjana kuburan alias "sarkub" yang dia jalani sejak belia dengan mendatangi makam kekasih-Nya dengan berjalan kaki, juga kegemarannya mendatangi makam wali saat di Mesir dan Irak; juga para guru-guru intelektual dan spiritualnya di masa muda hingga akhir hayatnya, termasuk kepercayaan dirinya bergaul dengan para pemuka agama lain tanpa terjebak pada ritual formalitas "relasi antar agama".

***

Pengalamannya di Timur Tengah telah mengajarkan pentingnya nasionalisme yang didampingi nilai-nilai Islam, begitu pula sebaliknya. Tanpa harus memisahkan atau pun menggabungkan keduanya. 


Corak pemikiran Gus Dur, hemat saya lebih simbiotik dalam konteks ini. Ketika belajar di Irak, dia berteman akrab dengan seorang Yahudi, yang darinya dia banyak mendapatkan penjelasan dari sumbernya, bukan "Fathul Jare" alias konon. Ketika di Jerman dan Belanda, Gus Dur juga banyak berinteraksi dengan kaum pribumi, yang membuatnya lebih bisa menghargai interaksi manusiawi lintas bangsa. Termasuk, manakala dia bekerja di binatu yang dikelola keturunan Tionghoa, saat dia berada di Belanda. Persentuhan manusiawi ini yang membuat sudut pandangnya kaya raya dalam melihat permasalahan.
 


Soal pergaulannya yang lintas etnis dan bangsa, kita sudah mafhum. Yang menarik lagi, Gus Dur bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya dengan topik apapun yang nyambung. Dengan para kiai dan habaib, tentu saja sinyalnya nyambung. Dengan para warga Nahdliyin di desa, alih-alih menggunakan bahasa Indonesia yang intelek, Gus Dur memilih menggunakan bahasa Jawa halus saat berceramah, dengan sisipan diksi-diksi warga desa, dan juga tebaran joke. Dengan kalangan akademisi, tak perlu saya uraikan betapa mempesona uraiannya atas satu topik. Tak perlu saya jelaskan, karena sudah banyak kesaksian. Dengan kalangan pinggiran yang "tersingkirkan" dan terancam, Gus Dur juga memposisikan diri sebagai bapak pelindung.


Mendiskusikan sosok ini memang tidak pernah habis. Ibaratnya, Gus Dur adalah satu rumah dengan seribu pintu untuk memasukinya. Terbuka dan tidak pilih-pilih. Membicarakannya dari sudut pandang apapun selalu menarik.


Bahkan, ketika KH Said Aqil Siraj dan KH Yahya Cholil Staquf diwawancarai NU Online menjelang muktamar NU kemarin, tentang siapa yang mempengaruhi dirinya, keduanya--dalam momen terpisah-- menjawab mantab: Gus Dur.
 


Mengapa dia selalu menarik dan magnetik? Mungkin jawabannya bisa ditemukan dalam percakapan antara Mbak Alissa Qotrunnada dengan ayahnya, pada suatu ketika:


“Nak, hidup Bapak itu pertama untuk Islam, kedua untuk Indonesia, ketiga untuk NU, baru yang keempat untuk kalian…”


Jawaban yang membuat saya merinding.


Wallahu A'lam Bishshawab


Tokoh Terbaru