• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 4 Maret 2024

Jujugan

Dulu Tempat Sampah, Pantai Matahari Disulap Jadi Spot Mancing

Dulu Tempat Sampah, Pantai Matahari Disulap Jadi Spot Mancing
Pantai Matahari. (Foto: NOJ/Firdausi)
Pantai Matahari. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Kepala Desa Lobuk Mohammad Saleh mengatakan, sebelum menjadi objek wisata dan Spot Pancing, dulunya pantai Matahari muaranya sampah. Saat angin datang dari arah barat, banyak sampah dari desa sebelah menumpuk di pantai ini.

 

Pernyataan ini disampaikan saat memberi sambutan di acara Warga NU Menanam 1.000 Mangrove yang merupakan rankaian kegiatan Hari Santri 2023 yang dihelat oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Sabtu (07/10/2023) di Pantai Matahari Desa Lobuk, Bluto, Sumenep.

 

Di saat Pemerintah Desa (Pemdes) Lobuk dinobatkan sebagai desa mandiri, pihaknya mendapat bantuan dari Provinsi Jatim dengan anggaran Rp 100 juta untuk mengelola potensi yang ada di desa. Berhubung yang paling dominan potensi pesisir, maka dicarilah lokasi yang sekiranya bisa memberikan yang terbaik bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

 

“Selama 3 hari kami mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) di Malang. Kemudian menghasilkan kesimpulan bahwa kami dituntut untuk mengeksplor potensi desa untuk dijadikan tempat yang unik dan inovatif. Dari sinilah dibuatlah spot pancing yang satu-satunya ada di lokasi pantai,” ujarnya.

 

Sebelum penggarapan, kata dia, ia merangkul perangkat desa, mulai dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dan elemen yang lainnya untuk menyulap pantai yang kotor dengan sampah menjadi spot pancing. Menurutnya, seluruh masyarakat Desa Lobuk harus mendukung. Tidak semata-mata ingin mendapatkan profit, tapi bagaimana masyarakat peduli terhadap lingkungan atau memiliki rasa kepemilikan yang tinggi.

 

“Alhamdulillah, pasir yang awalnya tak terlihat lantaran tumpukan sampah, sekarang terlihat putih dan bersih. Ini masih 20 persen dari grand desain yang kita rencanakan. Mohon dukungannya dari semua pihak agar Pantai Matahari menjadi destinasi wisata terbaik,” pintanya.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini menegaskan bahwa Pantai Matahari bukan milik kepala desa, tetapi murni milik warga. Ia mengutarakan, jabatan Kades hanya sebentar. Siapa pun pemimpin yang terpilih nanti, pantai ini harus dijaga. Bahkan semua warga harus terlibat dalam merawat objek wisata ini.

 

“Masyayikh NU mengimbau agar warga ikut terlibat secara langsung membersihkan sampah di Pantai Matahari tanpa pamrih dan bayaran. Mudah-mudahan ini terwujud,” ucapnya.

 

Selain itu, ia melaporkan bahwa ada pihak ketiga yang setiap tahun bekerja sama dengan Pemdes untuk mengembangkan objek wisata ini lebih baik. Bantuan dari 2 perusahaan ini, ia jadikan lapak bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berjualan di pantai Matahari.

 

Atas bimbingan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep, Desa Lobuk diberi penghargaan dari Gubernur Jatim sebagai Desa Berseri Pratama. Ia berharap tahun berikutnya bisa naik ke tingkat madya dan mandiri.

 

Saleh mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang memberikan bantuan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Dirinya meyakini bahwa ikhtiar yang mereka lakukan memiliki maksud lain, yakni memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengelola dan mendaur ulang sampah.

 

“Sebagaimana yang viral di media sosial, Ekopesantren Annuqayah Lubangsa Guluk-Guluk bagian inovasi dan pengelolaan sampah yang patut kita contoh. Jadi, santri memiliki potensi besar dalam penyelamatan lingkungan. Kami akan belajar ke sana untuk mengelola sampah dan bisa meningkatkan nilai ekonomi warga,” tuturnya.

 

Keunggulan Pantai Matahari

Mohammad Saleh menjelaskan, dinamakan Pantai Matahari karena pengunjung akan melihat langsung matahari, baik saat sunrise (matahari terbit) atau saat sunset (matahari tenggelam). Siapa pun yang berkunjung ke lokasi ini, pengunjung akan melihat keindahan laut dan perahu yang berjejer di pantai.

 

Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, pihaknya menyediakan gazebo yang sering dijadikan spot memancing ikan. Ditambah lagi jembatan kayu yang memanjang ini, sering dijadikan spot foto oleh pengunjung saat pagi hari dan sore hari.

 

“Bagi warga yang ingin berkunjung ke Pantai Matahari, jaraknya sekitar 18 kilometer dari Kota Sumenep ke lokasi. Diperkirakan 30 menit sampai ke lokasi,” tandasnya.


Jujugan Terbaru