• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Keislaman

7 Peristiwa Penting saat 10 Muharram atau Hari Asyura

7 Peristiwa Penting saat 10 Muharram atau Hari Asyura
Terdapat sejumlah peristiwa penting saat 10 Muharram atau hari Asyura.
Terdapat sejumlah peristiwa penting saat 10 Muharram atau hari Asyura.

Penjelasan soal keutamaan bulan Muharram sudah disampaikan di beberapa artikel sebelumnya. Dan saat ini umat Islam telah memasuki 10 Muharram 1444 H. Dan perlu diketahui bahwa ada sejumlah kejadian penting di tanggal 10 Muharram atau Asyura tersebut.


Perlu diketahui bahwa 10 Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu. Di antaranya disebutkan sebagai berikut: 


1. Nabi Adam Alaihis Salam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan diterima. 
2. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan. 
3. Selamatnya Nabi Ibrahim Alaihis Salam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar. 
4. Nabi Yusuf Alaihis Salam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah. 
5. Nabi Yunus Alaihis Salam selamat, keluar dari perut ikan hiu. 
6. Nabi Ayyub Alaihis Salam disembuhkan Allah dari penyakitnya. 
7. Nabi Musa Alaihis Salam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Kala itu bersama umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka. 


Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari 10 Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga. 


Sayyidah Aisyah, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menyatakan bahwa Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi SAW menetapkan: 


   مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ 


Artinya: Barang siapa yang menghendaki berpuasa Asyura, puasalah. Dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya. (HR Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)   


Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:   


هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ


Artinya: Allah telah melepaskan Musa dan umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah. Nabi bersabda: Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka. Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga. (HR Bukhari; No: 1865  dan Muslim, No: 1910)   


Abu Musa al-Asy’ari mengatakan: 


   كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ  


Artinya: Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu. (HR Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)   


Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Umat isloam hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya.


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tujuan mulia di atas adalah: 


1. Mengerjakan puasa sunah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. 


Keutamaan puasa pada hari ini di antaranya disebutkan dalam hadits Nabi: 


   سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ


Artinya: Nabi Shallallahu Aalaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura dan menjawab: Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu. (HR Muslim, No: 1977)    


Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan: 


   أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ


Artinya: Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam. Dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram. (HR Nasa’i, No: 1614)   


2. Mengerjakan Puasa Tasu’a 


Puasa ini juga disebut puasa sunah hari kesembilan di bulan Muharram. Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:


   حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)


Artinya: Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda: Tahun depan insyaallah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan. Kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan, Rasulullah SAW wafat. (HR Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).   


Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.   


3. Memperbanyak sedekah 
Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.


Mengenai hal ini Rasulullah bersabda: 


   مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ  


Artinya: Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya. (HR Baihaqi, No: 3795)   


Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para nabi dan rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan akidah islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah Subhanahu Wa Taala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahwa peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan.

  

Semua peristiwa dan kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.


Keislaman Terbaru