• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Keislaman

Berikut Bacaan Setelah Shalat Berdasarkan Hadits Nabi

Berikut Bacaan Setelah Shalat Berdasarkan Hadits Nabi
Banyak bacaan zikir usai shalat yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. (Foto: NOJ/Ic)
Banyak bacaan zikir usai shalat yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. (Foto: NOJ/Ic)

Syekh Muyiddin an-Nawawi (w. 676 H) dalam al-Azkar menyatakan bahwa para ulama sepakat tentang kesunnahan berzikir setelah shalat. Rasulullah pernah ditanya tentang doa yang lebih diharapkan terkabulkan, dan Rasulullah menjawab, berdoa di malam akhir, dan selepas melaksanakan shalat wajib lima waktu.

 

Dalam hadits sahih Bukhari Muslim dinyatakan: Sesungguhnya mengeraskan suara zikir ketika manusia telah merampungkan shalat wajib adalah tradisi yang telah ada pada masa Rasulullah Muhammad SAW.

 

Dengan demikian, etikanya selepas shalat tidak langsung keluar dari masjid atau tempat shalat, tapi hendaknya kita merutinkan istighfar dan bacaan zikir lainnya.

 

Tuntunan Bacaan

Bagaimanakah tuntunan zikir dan doa dari Nabi Muhammad SAW selepas shalat? Petunjuk adakalanya dari kebiasaan yang diriwayatkan para sahabat, dan adakalanya dari arahan Rasulullah kepada para sahabatnya. Sehingga dengan demikian, adalah baik untuk mengikuti kebiasaan zikir dan doa Rasulullah, maupun mengikuti zikir dan doa dari para sahabat. Tuntunan Rasulullah terkait zikir dan doa bersifat variatif, dan fleksibel. Sehingga, kita bisa memvariasikan, dan hal itu tak mengapa.

 

Sehingga, baik pula, dengan membaca zikir dan doa yang diamalkan oleh para ulama, misalnya yang banyak kita dengar dan diamalkan kaum muslimin di Nusantara.

 

Kaum muslimin di Tanah Air selepas shalat, biasa beristighfar. Hal ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

 

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَان رَسُولُ الله ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا، وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

 

Artinya: Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata: Apabila Rasulullah SAW selesai dari shalatnya (shalat fardhu), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan:

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

Artinya: Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Maha suci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

 

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

 

Artinya: Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

 

Faedahnya, sesiapa yang membaca zikir tersebut, maka dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan (HR. Muslim no. 597).

 

Rasulullah SAW bersabda:

.

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الجَنَّةِ اِلاَّ اَنْ يَمُوْتَ

.

Artinya: Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian. (HR An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44).

 

 Kemudian membaca

 

سُبْحَانَ اللهِ (33

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33

 

اَللهُ أَكْبَرُ (33

 

Artinya: Maha Suci Allah (33x), Segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x).

 

Syekh an-Nawawi menyatakan bahwa tekstual hadits menunjukkan bahwa bacaan subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing dibaca 33 kali secara terpisah (Syarh Shahih Muslim, 5: 84).

 

Apakah harus 33 kali? Tidak juga. Bila ada kesibukan yang sifatnya mendesak, membaca zikir tasbih, tahmid, dan takbir yang biasanya dibaca masing-masing 33 kali, bisa dibaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang sahih.

 

Untuk zikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat Muslim, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bertanya kepada para sahabat: Maukah aku ajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?

“Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat.

Lalu Nabi bersabda:

 

تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ

 

Artinya: Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat.

 

يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ

 

Artinya: Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR Muslim 1376).

 

Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda,

 

خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ

 

Artinya: Ada dua amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit.

 

“Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat…

 

Lalu Nabi bersabda:

 

أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا

 

Artinya: Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

 

Adapun zikir yang dipungkasi dengan doa, juga sifatnya variarif. Di antara doa yang biasa dibaca oleh Rasulullah adalah

 

رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ.

 

Artinya: Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau bangkitkan atau Engkau kumpulkan hamba-hamba-Mu.

 

Yang juga harus diingat adalah bahwa hendaknya ketika berzikir dan berdoa dengan hati yang terfokus, bukan hati yang lalai.

 

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

 

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

 

Artinya: Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. At-Tirmidzi 3816).

 

 

Ustadz Yusuf Suharto adalah Tim Narasumber Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jawa Timur. 


Editor:

Keislaman Terbaru