• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 22 April 2024

Keislaman

Mengapa Orang berilmu Mendapatkan Kemuliaan?

Mengapa Orang berilmu Mendapatkan Kemuliaan?
Ilustrasi santri menuntut ilmu kepada ustadznya (Foto:NOJ/nupinggiran)
Ilustrasi santri menuntut ilmu kepada ustadznya (Foto:NOJ/nupinggiran)

Oleh: Thoha Abil Qasim*


Islam merupakan agama yang mengedepankan pentingnya menuntut ilmu dan menghormati orang berilmu, sehingga sangat jelas betapa istimewanya orang yang berilmu. Dalam Al-Quran surat Ali Imran, 18 disebutkan:


.شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَ الْمَلَائِكَة ُوَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ 


Artinya: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana


Dari potongan ayat tersebut, bisa diambil pemahaman bahwa orang yang memiliki ilmu adalah orang yang dimuliakan. Kenapa sebab? Lihatlah bagaimana Allah SWT. memposisikan urutan kepada para ahli ilmu di dalam ayat tersebut, dari Allah sendiri yang menempati pertama kemudian Malaikat baru Ulul Ilmi.


Rasulullah pernah bersabda kepada sahabat Abdullah yang dikenal Ibnu Mas’ud:


 ياَ ابْنَ مَسْعُوْدٍ, جُلُوْسُكَ سَاعَةً فِي مَجْلِسِ الْعِلْمِ لَا تَمَسُّ قَلَمًا وَ لَا تَكْتُبُ حَرْفًا, خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِتْقِ أَلْفِ رَقَبَةٍ وَنَظَرُكَ إِلَى وَجْهِ الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِي سَبِيْلِ اللهِ وَ سَلَامُكَ عَلَى الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ


Artinya: Wahai Ibnu Mas’ud, dudukmu sebentar di majelis ilmu, sementara kamu tidak mencatat satu hurufpun, itu lebih baik daripada kamu memerdekakan budak. Dan memandangmu terhadap wajah orang alim, itu lebih baik dari engkau bersedekah seribu kuda di jalan Allah. Dan salammu kepada orang alim itu lebih baik daripada engkau ibadah sunnah selama seribu tahun.


Hadis tersebut disebutkan oleh Al-hafidz Al-Mundziri di kitab al-Dzurrah al-Yatimah. Benang merah di dalam Hadis tersebut adalah Rasulullah memberi gambaran terhadap Ibnu Mas’ud bahwa betapa mulia dan istimewanya ilmu dan orang yang berilmu. 


Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Harits bin Abi Usamah dari Abi Said al-Khudri Rasulullah saw bersabda: فضل العالم على العابد كفضلي على أمتي. Dengan demikian orang yang memiliki ilmu derajatnya pasti diangkat. Sehingga barakah dan manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain. Kenapa tidak! Umar bin Khattab pernah berkata: 


سمعت رسول الله يقول: من مشى إلى حلقة عالم كان له بكل خطوة مائة حسنة, فإذا جلس عنده واستمع ما يقول كان له بكل كلمة حسنة


Jadi, Umar bin Khattab menjelaskan apa yang pernah didengar dari Rasulullah bahwa, barang siapa yang pergi ke perkumpulan orang berilmu, maka setiap langkahnya dihitung seratus kebaikan, dan jika dia sampai duduk lalu mendengarkan kalam-kalamnya, maka setiap kalimat itu memiliki nilai kebaikan”.


Sejatinya orang yang berilmu (alim) pasti akan mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmu pastinya akan lebih berhati-hati, misalnya dengan meninggalkan barang yang syubhat lebih-lebih dengan yang haram. Seseorang kalau sudah mengamalkan ilmunya maka ia lebih ditakuti oleh syetan daripada orang yang taat ibadah tapi bodoh. Rasulullah bersabda:


فقيه واحد متورع أشد على الشيطان من ألف عابد مجتهد جاهل وارع 


Artinya: satu orang yang menguasai ilmu syariat yang wara’ maka ia lebih ditakuti oleh syetan dari pada orang yang ahli ibadah tapi bodoh.


Al-Azizi menukil dari al-Thayyibi bahwasanya orang yang memiliki pemahaman agama lalu diamalkan maka dia akan dapan menghancurkan pintu-pintu nafsu dan syahwat yang di buka oleh syetan. Sementara orang yang sibuk dalam ibadah ia kadang terjerat dalam tipu daya syetan, dan ia tidak menyadarinya.


Pada kesempatan lain Nabi Muhammad menerangkan kelebihan orang yang mengamalkan ilmunya yang diriwayatkan oleh Abu Naim dari Muadz bin Jabal bahwa: keutamaan orang Alim yang mengamalkan ilmunya samahalnya dengan bulan purnama beserta planet-planetnya. Menurut syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, yang dimaksud dengan keutamaan di situ adalah banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada para hambanya di akhirat yang sederajat dengan kelezatan di syurga, baik itu dari makanan, minum, sampai pernikahannya.


Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang memuliakan orang alim, maka dia sungguh telah memuliakanku karena ia adalah kekasihku, dan barang siapa yang memuliakanku maka ia sungguh memulikan Allah SWT, dan barang siapa yang memuliakan Allah maka tanahnya nanti adalah syurga.  
Sudah tidak heran lagi kenapa orang alim  itu begitu diistimewakan. Yang pasti karena di dalam diri orang alim terdapat sesuatu yang sangat istimewa (ilmu). Rasulullah bersabda: 


من تعلم بابا من العلم يعمل به أو لم يعمل به, كان أفضل من أن يصلي ألف ركعة تطوعا 


Artinya: Barang siapa yang belajar satu bab ilmu baik itu nanti diamalkan ataupun tidak maka dia lebih utama dari orang yang shalat sunnah sebanyak seribu rakaat.


Hadis ini menunjukkan bahwasanya ilmu itu lebih mulia semulia permata daripada ibadah sunnah yang lain. Maka dari itu seharusnya seorang hamba ketika melaksanakan ibadah seharusnya disertai dengan ilmu agar ilmunya tidak sama dengan debu yang kocar kacir (sia-sia). Wallahu A’lam
 

*Mahasantri Ma'had Aly Sukorejo Situbondo


Keislaman Terbaru