• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 17 Agustus 2022

Keislaman

Menyongsong Bulan Ramadhan, Apa yang Harus Dipersiapkan?

Menyongsong Bulan Ramadhan, Apa yang Harus Dipersiapkan?
Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah turunnya Al-Qur'an dan lailatul qadar (Foto:NOJ/pcnukendal)
Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah turunnya Al-Qur'an dan lailatul qadar (Foto:NOJ/pcnukendal)

Oleh: M. Faiz Nasir, S.Ag, MA
 

Menjelang berakhirnya bulan Sya’ban persiapan untuk menyongsong Ramadhan semakin dekat. Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan keberkahan, salah satu redaksi yang dikutip dari Sahih Ibn Khuzaimah 3/191:
 

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتــْقٌ مِنَ النَّارِ
 

Artinya: Bulan Ramadhan permulaannya dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan dan maghfirah, pada periode terakhir merupakan pembebasan dari azab neraka
 

Dalam rangka untuk menyambutnya dibutuhkan beberapa persiapan yang dianggap sangat penting, di antaranya:
 

Persiapan pertama, komitmen Individual untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt sebagai wujud dari "Tahni'ah" atas  datangnya bulan mulia tersebut. Allah Swt berfirman : 
 

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ
 

Artinya: Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (QS. Yunus [10]: 58)
 

Persiapan kedua, komitmen sosial. Selain bergembira secara individu atas karunia dan rahmat Allah yang menciptakan bulan Ramadhan, kita juga harus mengingatkan saudara-saudara kita untuk menyambutnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada kaum muslimin : 
 

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ 
 

Artinya: Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di malam itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apapun. (Hadits Shahih, Riwayat al-Nasa`i: 2079 dan Ahmad: 8631 dengan redaksi hadits dari Al-Nasa’i).
 

Ibadah Ramadhan bukan hanya puasa dengan melatih kesabaran dalam menahan haus dan lapar, akan tetapi merasakan juga sebagaimana orang fakir miskin yang selalu kelaparan. Dengan itulah kepekaan sosial akan terbangun dan mendorong  untuk membantu dan bersedekah kepada sesama yang membutuhkan.
 

Selain itu, juga wajib menjauhi perbuatan yang merusak dan merugikan orang lain, disebutkan dalam hadits qudsi:
 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ


Artinya: Allah berfirman: Setiap amal seorang manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasan kepadanya. Puasa itu adalah perisai, karena itu apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah mengucapkan perkataan yang buruk dan keji, jangan membangkitkan syahwat dan jangan pula mendatangkan kekacauan. Apabila ia dimaki atau ditantang seseorang, maka katakanlah: Aku sedang berpuasa. (Hadits shahih, riwayat Al-Bukhari: 1771).
 

Persiapan ketiga, pematangan mental spiritual untuk menjadi insan yang  bersungguh-sungguh dalam ibadah. Hal ini bisa dilihat dari doa yang dibaca oleh para salafus shalih,
 

Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin al-Fadhl, seorang tabi’ tabiin yang mengatakan:
 

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم
 

Artinya: Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan, (Lathaif Al-Ma’arif, halaman. 264).
 

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika melihat hilal pertanda memasuki Ramadhan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
 

أَنَّ رَسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ عِنْدَ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ: اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلَالُ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
 

Artinya: Ya Allah, jadikanlah ini bulan ‘membawa’ keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, wahai bulan petunjuk dan kebaikan. (HR Ahmad)
 

Sebagai bentuk rasa syukur, marilah kita memperbanyak taubat sebelum memasuki bulan Ramadhan sebagai pematangan spiritual, menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus agar ketika memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan bersih dari dosa kepada Allah maupun kepada sesama manusia demi menumbuhkan kepekaan sosial, yang terakhir Tak lupa pula kita meningkatkan kecintaan  kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan memaksimalkan ibadah dan meninggalkan segala larangan-Nya, sebagai wujud komitmen individual. Wallahu a'lam.   


Pondok Pesantren Al-Majidi Selodakon Tanggul Jember,  dan aktif di Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jember.


Keislaman Terbaru