• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Madura

Nahdliyin di Bangkalan Ngaji Perjumpaan Nabi dengan Allah di Sidratul Muntaha

Nahdliyin di Bangkalan Ngaji Perjumpaan Nabi dengan Allah di Sidratul Muntaha
KH Muqtafi Aschal, Pengasuh Pondok Pesantren Sirrul Cholil, Geger, Bangkalan. (Foto: NOJ/ Sa'dullah)
KH Muqtafi Aschal, Pengasuh Pondok Pesantren Sirrul Cholil, Geger, Bangkalan. (Foto: NOJ/ Sa'dullah)

Bangkalan, NU Online Jatim

Pengasuh Pondok Pesantren Sirrul Cholil, Geger, Bangkalan, KH Muqtafi Aschal menegaskan, bahwa Allah SWT tidak menempati Sidratul Muntaha ketika Nabi Muhammad SAW bertemu dengan-Nya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

 

Hal itu ia sampaikan saat mengisi ceramah pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Darussalam, Dusun Manglang, Desa Lantek Timur, Kecamatan Galis, Bangkalan, Sabtu (12/02/2022).

 

“Kita sering mendengar bahwa dalam peristiwa isra’ mi’raj, Rasulullah bertemu dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha. Cuma jangan keliru akidahnya, kita Ahlussunnah wal Jamaah mempunyai akidah yang memercayai bahwa Allah itu tidak tinggal di suatu tempat, kalau kita percaya waktu itu Allah ada di Sidratul Muntaha maka sama saja kita menyamakan Allah dengan makhluk-Nya,” kata Kiai Muqtafi.

 

Menurutnya, pemahaman seperti itu merupakan kepercayaan yang tidak sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut oleh Nahdlatul Ulama.

 

“Kalau kita percaya bahwa Allah ketika isra’ mi’raj ada di Sidratul Muntaha, maka itu adalah anggapan yang keliru. Apalagi percaya bahwa Allah duduk di singgasana di Arsy,” tegasnya.

 

Ia menyebutkan, bahwa memang benar Rasulullah bertemu dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, hanya saja bukan berarti waktu itu Allah ada di Sidratul Muntaha. Pemahaman yang sebenarnya adalah waktu itu Rasulullah baru dapat melihat Allah ketika ia berada di titik Sidratul Muntaha.

 

“Analoginya seperti kalau kita sedang ada di Masjid pada siang hari kemudian melihat ke langit, kalau kita melihat langit pada waktu normal, tidak ada mendung, yang terlihat adalah matahari, tapi apakah matahari tersebut ada di masjid? Tentu saja tidak. Kita tetap bisa melihat matahari meskipun mataharinya tidak ada di masjid. Sama halnya ketika Rasulullah dapat melihat Allah dari tempat Sidratul Muntaha, waktu itu Allah tidak berada di sana, tapi Nabi bisa melihat Allah dari situ,” jelasnya.

 

Cicit keempat Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan itu berharap, agar Nahdliyin dapat mendalami ilmu akidah agar tidak terpengaruh dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah.

  

“Pentingya ngaji akidah agar kita bisa memahami hal yang seperti ini. Sera agar kita tidak dirasuki pemahaman lain yang tidak sesuai dengan Aswaja,” pungkasnya.


Madura Terbaru