• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Madura

Penyebar Hoaks Banjir Darah di Sampang Diburu Polisi

Penyebar Hoaks Banjir Darah di Sampang Diburu Polisi
Polisi mendatangi rumah keluarga yang diduga menyebar hoaks banjir darah di Sampang. (Foto: NOJ/PMm)
Polisi mendatangi rumah keluarga yang diduga menyebar hoaks banjir darah di Sampang. (Foto: NOJ/PMm)

Sampang, NU Online Jatim

Warga hendaknya ekstra waspada dan harus menahan diri dari menyebar kabar bohong. Apapun motivasinya, tindakan tersebut tentu saja meresahkan dan akan berakibat hukum bagi yang melakukan.

 

Berkali-kali sejumlah kiai, ulama dan tokoh masyarakat memberikan peringatan ini kepada warga. Namun tidak sedikit juga yang masih gemar berbagi kabar bohong alias hoaks, seperti yang kini meresahkan warga Sampang. Yang terbaru adalah kabar adanya banjir darah.

 

"Itu sebenarnya saat terjadi banjir di Sampang, pertengahan Desember lalu," kata H Moch Syamsuddin Abd Muin, Selasa (16/02/2021) pagi.

 

Disampaikan Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang tersebut bahwa video itu sempat beredar di media sosial bahwa kondisi banjir terjadi di Sampang.

 

"Tapi alhamdulillah warga tidak terpengaruh dengan video itu karena penduduk Sampang yakin kalau itu bukan di daerah kami," ungkapnya.

 

Namun dirinya tidak menampik bahwa yang justru sering bertanya dan penasaran adalah warga dari luar Sampang terkait kebenaran video itu.

 

"Dan alhamdulillah sudah terjawab dengan sendirinya bahwa itu bukan di Sampang," jelasnya.

 

Karena itu, di tengah kemudahan akses informasi saat ini, maka PCNU Sampang berharap kepada Nahdliyin atau warga NU dan masyarakat secara umum untuk tidak mudah menebar kabar bohong.

 

"Maka mohon dengan hormat untuk tidak menyebarkan kabar hoaks semacam itu biar tidak meresahkan warga," harapnya.

 

Respons Bupati dan Polisi

Sedangkan aparat kepolisian Polres Sampang tengah memburu pelaku penyebaran hoaks ‘banjir darah’ oleh warga asal Kecamatan Banyuates, melalui media sosial Youtube dan Facebook.

 

Menurut AKP Dody Pratama Kapolsek Banyuates, warga yang diduga menjadi pelaku penyebar kabar bohong di media sosial itu bernama Abdullah, asal Desa Lar-Lar, Kecamatan Banyuates, Sampang.

 

“Anggota kami sudah mendatangi rumahnya di Desa Lar-Lar, akan tetapi yang bersangkutan sudah tidak tinggal di rumahnya. Ia sudah berada di Surabaya,” katanya, seperti dilaporkan Antara, Ahad (14/02/2021).

 

Sebelum mendatangi rumah Abdullah, polisi terlebih dahulu mendatangi lokasi ‘banjir darah’ sebagaimana disebutkan di media sosial Youtube dan Facebook milik pelaku.

 

“Faktanya tidak ada yang gambar yang diunggah ke akun media sosial itu hanya rekayasa saja, dan kasus ini meresahkan warganet lainnya, termasuk masyarakat Sampang,” ujar Kapolsek.

 

Berdasarkan catatan Polsek Banyuates, kabar bohong yang disebar oleh pelaku bernama Abdullah di akun Youtobe dan Facebook miliknya bukan kali ini saja.

 

Sebelumnya yang bersangkutan pernah merekam adegan penyiksaan hewan dengan menggunakan sepeda motor, hingga ia ditangkap polisi. Rekaman penyiksaan hewan itu untuk kebutuhan isi akun media sosial, yakni Youtube dan Facebook.

 

Kala itu, Abdullah ditangkap oleh Satuan Lalu Lintas Polres Sampang, karena memperagakan adegan penyiksaan hewan itu di tempat umum, dengan cara menyeret binatang biawak dengan sepeda motor miliknya.

 

“Tapi si Abdullah ini waktu itu langsung dilepas, dan hanya diberi peringatan dan ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saat ini malah membuat unggahan sensasional dengan yang menyebutkan bahwa di Sampang telah terjadi banjir darah,” kata Kapolsek.

 

Pihak kepolisian mengimbau kepada keluarga penyebar hoaks agar tidak mengulangi lagi dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi.

 

Sementara itu, meski tidak bertemu, polisi meminta kepada keluarga pelaku, agar menyerahkan diri ke Polsek Banyuates, karena kabar bohong yang diunggah di akun media sosial miliknya sudah berulang kali dan meresahkan banyak orang.

 

Secara terpisah Slamet Junaidi, Bupati Sampang menyatakan kabar bohong yang banyak menyebar di media sosial akhir-akhir ini memang perlu menjadi perhatian serius semua pihak.

 

Bupati juga mengapresiasi upaya aparat keamanan mengusut tuntas para pelaku penyebar kabar bohong di media sosial, karena selain meresahkan, tindakan seperti juga masuk kategori tindak pidana kriminal melalui dunia maya.

 

“Ini tugas kita semua. Ayo kita lawan kabar bohong yang beredar di media sosial secara bersama-sama. Polisi bertugas memberi sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” tandas bupati.


Editor:

Madura Terbaru