• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 22 April 2024

Madura

Rais PBNU: Teladani Keikhlasan Mbah Hasyim dalam Perjuangan-Pengabdian

Rais PBNU: Teladani Keikhlasan Mbah Hasyim dalam Perjuangan-Pengabdian
Rais PBNU KH Abd Ala Basyir (dua dari kanan) saat acara Tadarus Pemikiran Mbah Hasyim di Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Rais PBNU KH Abd Ala Basyir (dua dari kanan) saat acara Tadarus Pemikiran Mbah Hasyim di Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul A’la Basyir mengimbau kepada pengurus NU dan Nahdliyin agar tidak menghilangkan ikhlas. Karena pengabdian dan perjuangan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari kepada bangsa dan negara, serta jam’iyah didasari dengan keikhlasan dalam pengabdian dan perjuangannya kepada bangsa dan negara.

 

“Melalui ikhlas itulah nama beliau besar dan dikenal sebagai pahlawan nasional dan tokoh pemersatu umat Islam Indonesia,” ujarnya di acara Tadarus Pemikiran Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari yang dihelat oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep di Graha Al-Ikhlas Kemenag Sumenep.

 

Menurutnya, Indonesia berhutang pada pesantren, termasuk Kemenag RI yang tidak dilepaskan dari Mbah Hasyim. Di masa pemerintahan Jepang, perhatian besarnya adalah membentuk Jawatan Agama atau Shumubu sebagai siasat untuk mengumpulkan umat Islam dari lintas kelompok dalam wadah tersebut.

 

“Mbah Hasyim menerima itu, kendati berselang berikutnya ditahan. Gerakan itu bukan sebuah pemberontakan. Itu upaya melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia karena hak bangsa dirampas oleh penjajah,” katanya sebagaimana ditonton dari kanal Youtube TVNU Sumenep, diakses pada Jumat (02/02/2024).

 

Jika ditinjau dari sanad keilamuannya, lanjutnya, selain belajar kepada ayahnya dan berbagai pesanttren, seperti di pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Siwalan Pandji Sidoarjo, Langitan Tuban, Hijaz, hingga pada akhirnya menjadi ulama di Makkah. Ini membuktikan bahwa beliau kaya dengan ilmu, berwawasan luas, dan berkarya melalui kitab-kitabnya.

 

Selain mengajar, kata Kiai A’la, Mbah Hasyim bercocok tanam bersama masyarakat. Oleh karenanya, dirinya mengajak kepada pengurus NU dan Nahdliyin untuk bermuhasabah terhadap pemikiran yang disampaikan oleh KH Abdul Hakim Mahfudz di sesi pertama.

 

“Ada yang menarik pada pemikirannya Mbah Hasyim. Banyak yang tahu tentang profil beliau, tapi banyak tidak tahu catatan tang disampaikn Gus Kikin. Salah satunya adalah Mbah Hasyim sosok tokoh pemersatu bangsa. Beliau sangat diplomatis dan tidak mau tunduk kepada pemerintahan Belanda,” terangnya.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee Sumenep ini menyitir muqaddimah Qanun Asasi, NU organisasi sosial keagamaan yang berlandasakan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang memiliki sanad yang bersambung kepada Rasulullah. Secara secara teologis, ideologis dan historis, organisasi ini dapat dipertanggung jawabkan.

 

“Kata Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, NU merupakan masyarakat sipil yang kuat. Dalam kondisi apapun, ulama NU tidak gampang menafsirkan sesuatu. Mari kita teladani dan ikuti jejak Mbah Hasyim yang berdedikasi tinggi kepada agama, bangsa dan negara,” tandasnya.


Madura Terbaru