• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Tokoh

Ketika Kiai Sholeh Darat Meminta Saran dan Kritik

Ketika Kiai Sholeh Darat Meminta Saran dan Kritik
Kitab Minhajul Atqiya' milik Kiai Nawawi bin Abdul Aziz Bantul (Foto:NOJ/Istimewa)
Kitab Minhajul Atqiya' milik Kiai Nawawi bin Abdul Aziz Bantul (Foto:NOJ/Istimewa)

Nama lengkapnya adalah Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat, hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil bin Abdul Latif Bangkalan Madura. Beliau lahir di Jepara pada tahun 1235 H./1820 M., dan wafat di Semarang pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H. atau 18 Desember 1903 M.

 

Ketiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama dari Patani diantaranya adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani (Lahir 1233 H./1817 M., wafat 1325 H./1908 M.). Mereka juga seperguruan di Makkah dengan Syekh Amrullah (Datuknya Prof. Dr. Hamka) dari Minangkabau, Sumatera Barat.

 

Kiai Sholeh Darat selain sebagai guru dari para ulama Nusantara seperti KH. hasyim Asyari, KH M. Dahlan (Muhammadiyah), KH. Sholeh Blitar, KH Dahlan Termas, juga guru dari RA Kartini. Banyak tokoh penting yang lahir dari tangan dingin Kiai Sholeh Darat yang memang dikenal sebagai ulama yang memiliki sifat tegas, tawadlu, santun, dan wirai.

 

Sifat-sifat tersebut paling tidak, bisa dijumpai dalam salah satu kitabnya, seperti kitab Minhajul Atqiya' yang ditulis menggunakan bahasa Jawa Pegon:

 

 اويت نوليس جمادي الاول١٣١٦ دينا اربع نول ليرين عذر مرض فيراغ ايام لن عذور رمضان. موڬا-موڬا بيساها ختم سرتا  منفعة للانام بجاه سيد الانام سيدنا محمد

 

Awit nulis Jumadil awal 1316 H dino Rebo nuli leren udzur marod pirang dino lan udzur Romadlon. Mugo-mugo bisoho khatam serto manfaat kanggo manungso kelawan lantaran kanjeng Nabi Muhammad.

 

Ada yang menarik dalam kitab tasawuf ini, yakni bagaimana Kiai Sholeh Darat mengajak pembaca untuk ikut mengoreksi tulisan dan membenarkan bila ditemukan kesalahan. Dalam muqaddimah kitab tersebut, tepatnya halaman 12 secara gamblang Kiai Sholeh Darat berkata:

 

ماكا لامون نيڠالي سيرا يا اخواني اڠ ايكي كتاب ايكو بنر چوچوك ڤڠنديكاني ڤارا علمأ ماكا ايكو ساكيڠ فهامي علمأ محققين، ماكا لامون أنا اڠكڠ لوڤوت اورا بنر ماكا ايكو ساكيڠ ساكيڠ سالاهي فهامي اڠسون، ماكا اڠسون نوون ڠاڤورا لن ڤادا بنرنا سوڤايا اجا دادي ساسار اڠ اتاسي ووڠ كڠ بودوه-بودوه‌. اجا سيرا ڤويوكي لن استهزأ كرانا اڠسون ويس وروه كلاوان يقين ستوهوني اڠسون ايكو بودوه اورا ڠرتي علم عربية لن اڠسون مفلس من العلم والعمل

 

Moko lamun ningali siro ya ikhwani ing iki kitab iku bener cocok pengendikane poro ulama moko iku saking fahame Ulama Muhaqqiqin , moko lamun ono ingkang luput ora bener moko iku saking salahe faham ingsun, moko ingsun nuwun ngapuro lan podo benerno supoyo ojo dadi sasar ing atase wongkang bodoh2, ojo siro poyoki lan istihza'  krono ingsun wus weroh kelawan yaqin setuhune ingsun iku bodoh ora ngerti ilmu arabiyyah lan ingsun muflis minal ilmi wal amal.

 

Kurang lebih jika diindonesiakan begini:

 

Maka jika kalian lihat wahai saudaraku! dalam kitab ini benar dan cocok sesuai perkataan para ulama, maka itu berasal dari pemahaman ulama ahli hakikat. Jika dalam kitab terdapat kesalahan atau tidak benar, maka itu dari pemahaman saya yang salah, oleh karena itu saya minta maaf dan benarkanlah agar tidak menyesatkan terhadap orang-orang yang bodoh.

 

Jangan Kalian meledek dan tertawa mengejek, karena saya sudah tahu dengan yakin akan kebodohan saya yang tidak mengerti ilmu arabiyah dan saya miskin ilmu amal."

 

Teks yang ditulis Kiai Sholeh Darat ini secara tidak langsung menunjukkan betapa tawadlu' dan kehati-hatiannya dalam menulis kitab. Tak kalah penting pula respon audience, saran dan kritik. Sebab bagaimanapun juga Kiai Sholeh Darat memposisikan sebagai penulis yang memiliki keterbatasan, kealpaan. Tentu ungkapan tersebut sesungguhnya menjadi simbol kebeningan hatinya.

 

Apakah ada ulama yang merespon karyanya dan mengajak diskusi? ternyata ada. Dia adalah Kiai Sholeh Kuningan Blitar yang sowan ke Kiai Sholeh Darat untuk membahas persoalan tauhid.

 

Menurut keterangan Kiai Saiful Garum Blitar, ketika keduanya bertemu terjadilah diskusi hingga beberapa jam. Akhirnya Kiai Sholeh Kuningan mengakui kealiman Kiai Sholeh Darat dan ia berguru kepadanya. Konon dari diskusi tersebut yang melatarbelakangi Kiai Sholeh Kuningan menulis kitab berjudul Risalah Aqaid Tauhid.

 

Dari guratan tinta Kiai Sholeh Darat bisa diambil pelajaran bahwa menjadi penulis itu seyogyanya memiliki motivasi luhur, jujur, tidak anti saran dan kritik, ia tetap memiliki ruang untuk didiskusikan, dibedah, bukan malah mengganggap tulisannya paling benar dan hebat.


Editor:

Tokoh Terbaru