• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Madura

Wakil Rais NU Sumenep Ceritakan Awal Pendirian JQHNU

Wakil Rais NU Sumenep Ceritakan Awal Pendirian JQHNU
Wakil Rais PCNU Sumenep, KH Imam Hendriyadi. (Foto: NOJ/ Ist)
Wakil Rais PCNU Sumenep, KH Imam Hendriyadi. (Foto: NOJ/ Ist)

Sumenep, NU Online Jatim

Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Imam Hendriyadi menyebutkan, bahwa lahirnya Jam’iyyah Qurra wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) diinisiasi langsung oleh KH Abdul Wahid Hasyim, putra Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, muassis Nahdlatul Ulama. 

 

“Sepanjang yang saya tahu, JQHNU itu dilahirkan atas inisiatif KH Abdul Wahid Hasyim” ujarnya saat pembukaan Hari Lahir (Harlah) NU yang digelar PCNU setempat, dilansir pcnusumenep.or.id, Selasa (01/02/2022).

 

Menurut Kiai Imam, tepat pada malam Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1371 Hijriyah atau 15 Januari 1951 Masehi, JQHNU resmi didirikan di kediaman H Asmuni, Jakarta.

 

“Kala itu, Kiai Wahid Hasyim menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia era Presiden Soekarno,” terang alumni Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang ini.

 

Ia menjelaskan, bahwa berdirinya JQHNU diawali dengan kemunculan organisasi para ahli dan penghafal Al-Qur’an di berbagai daerah. Seperti Jam’iyyatul Huffazh di Kudus, Nahdlatul Qurra’ di Jombang, Wihdatul Qurra di Sulawesi Selatan, dan lain sebagainya.

 

“Beberapa ahli Al-Qur’an dari berbagai daerah di Indonesia dikumpulkan untuk musyawarah terkait pembentukan JQHNU. Pertemuan itu berlangsung di kediaman Kiai Wahid Hasyim dan menyepakati nama Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz,” imbuhnya.

 

Diceritakan Kiai Imam, bahwa dulu ada salah seorang santri hafidz bernama KH M Yusuf Masyhar yang menjadi santri kesayangan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Di beberapa kesempatan, tidak jarang Mbah Hasyim memerintahkan santri itu untuk menghatamkan Al-Qur’an.

 

“Setiap tahun Pondok Pesantren Tebuireng pasti menghatamkan Al-Qur’an yang langsung diperintahkan oleh Mbah Hasyim kepada Kiai M Yusuf Masyhar,” katanya.

 

Dari saking senangnya Mbah Hasyim kepada santri tersebut, sehingga ia dijadikan menantu, yakni dengan menjodohkan cucunya, Nyai Hj Ruqayyah dengan Kiai Yusuf Masyhar kala itu. 

 

“Dan, menantunya inilah yang menjadi pendiri Madrasatul Qur’an di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang,” pungkasnya.


Editor:

Madura Terbaru