• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Matraman

Densus 88 Tangkap Mahasiswa di Malang, Ini Respons LPTNU Jatim

Densus 88 Tangkap Mahasiswa di Malang, Ini Respons LPTNU Jatim
Abdulloh Hamid, Wakil Sekretaris PW LPTNU Jawa Timur. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)
Abdulloh Hamid, Wakil Sekretaris PW LPTNU Jawa Timur. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)

Trenggalek, NU Online Jatim

 

Pekan ini masih heboh penangkapan mahasiswa di Malang oleh Detasemen Khusus (Densus) 88. Mahasiswa tersebut diduga ikut dalam jaringan radikalisme.

 

Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) mengambil langkah preventif kepada semua kampus di bawah naungannya.

 

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) LPTNU Jawa Timur, Abdulloh Hamid mengungkapkan, masing-masing kampus di bawah naungan NU ada pembelajaran mata kuliah tentang moderasi beragama. Mahasiswa dibimbing beragama dengan mengikuti ahlussunah wal jamaah an nahdliyah yang mempunyai nilai-nilai tawasuth, tawazun, ta'adul. 

 

"Juga memberikan materi baik di dalam kampus, di luar kampus untuk nilai-nilai moderasi beragama. Tidak lain untuk ajaran agama yang santun dan menyejukkan," ujar Gus Hamid saat dikonfirmasi, Jumat (27/05/2022).

 

Ia menyatakan, pihaknya mendukung upaya penegakan hokum yang dilakukan Densus 88, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, upaya pemerintah dalam rangka mencegah radikalisme dan terorisme sudah tepat. Terlebih, Densus 88 merupakan suatu lembaga yang diamanahi pemerintah di bidang tersebut.

 

Gus Hamid juga mengajak, pihak kampus harus peduli terhadap kegiatan mahasiswa. Sebab hingga kini masih terungkap masuknya radikalisme di lingkungan perguruan tinggi negeri.

 

"Maka, dari jajaran universitas juga perlu mempunyai effort lebih untuk memperhatikan kegiatan-kegiatan mahasiswa," ujar pria yang juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

 

Gus Hamid menambahkan, peran orang tua walaupun sudah memasukkan anak ke perguruan tinggi juga harus seimbang. Salah satunya  memantau anaknya supaya tidak mengikuti organisasi yang salah. Dengan demikian, orang tua menjadi kontrol bagi mahasiswa serta bantuan masyarakat sekitar. Khususnya yang berada di sekitar kampus.

 

"Masyarakat sekitar, khususnya di Malang juga mempunyai tanggungjawab sosial untuk menjadi kontrol para mahasiswa," terang Founder Dunia Santri Community tersebut.

 

Sebagai informasi, AI mahasiswa semester 6 salah satu perguruan tinggi negeri di Malang yang diduga kuat ikut menyebarkan paham radikal termasuk anak yang cerdas. Kendati demikian, Gus Hamid menuturkan masih debatable tentang kecerdasan dengan mudah diracuni doktrin paham radikal.

 

Menurutnya, di Indonesia banyak sekali orang yang secara intelektual cerdas, cuma masih minim tentang pemahaman agama. Mereka semangat dalam beragama, tapi belum dibarengi dengan semangat dalam mengejar untuk mencari ilmu agama. Sehingga bertemu dengan orang yang tidak tepat hingga akhirnya mudah dipengaruhi.

 

"Kalau masalah orang ini cerdas, bisa dipengaruhi. Orang yang mempengaruhi sudah mempunyai metode untuk menaklukkan berbagai macam orang. Termasuk mempengaruhi orang yang cerdas," tutup Penulis Buku Literasi Digital Santri Millenial tersebut.


Editor:

Matraman Terbaru