• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Matraman

Hari Kartini, Refleksi dan Tantangan Perempuan Milenial

Hari Kartini, Refleksi dan Tantangan Perempuan Milenial
Qariah Internasional Ning Dewi Yuskha Nida memaknai Hari Kartini. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)
Qariah Internasional Ning Dewi Yuskha Nida memaknai Hari Kartini. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)

Trenggalek, NU Online Jatim
Qari'ah Internasional Ning Dewi Yuskha Nida momentum Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April dimaknai sebagai ajang untuk refleksi kepada generasi milenial. Khususnya di tengah tantangan zaman yang kian mengerucut pada degradasi moral akibat perkembangan media sosial yang semakin maju.


"Ya Allah, sekarang itu ada media seperti ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Malah anak-anak perempuan tidak punya malu. Kadang, ngapunten (mohon maaf) perempuan video joget dan lainnya. Padahal, Allah dan Rasulullah mengangkat derajatnya sedemikian rupa, tetapi justru hina karena tindakannya sendiri," katanya saat dihubungi NU Online Jatim melalui perpesanan WhatsApp, Rabu (20/04/2022).


Ia menjelaskan, dalam ayat Al-Qur'an disebutkan bahwa ada lafadz Az-zaniyatu wazzani, azzaniyatu wazzani. Dari ayat itu menjelaskan bahwa ketika perempuan terjebak dalam perbuatan tercela akan berdampak pada generasi setelahnya.


"Kenapa kok mu’annas (perempuan) dulu ‘perempuan pezina, laki-laki pezina’, karena memang perempuan harus menjaga sendiri. Sementara laki-laki harus dibekali pengetahuan agar tidak berbuat zina," ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kedungbajul, Durenan, Trenggalek itu.


Tantangan selanjutnya menurut alumni Pondok Pesantren Walisongo Cukir, Jombang itu ialah seorang ibu dari generasi milenial harus bisa menyesuaikan dengan zaman. Yakni dapat menghadapi tantangan masa depan akibat perkembangan teknologi yang semakin pesat dan banyak menyajikan hal-hal baru.


"Pendidikan yang kita berikan untuk anak zaman dahulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang otomatis berbeda. Mungkin, dahulu ketika ada seorang anak berbuat nakal dihukum dengan dipukul sedemikian rupa tidak masalah, tapi hari ini justru sebaliknya,” ungkapnya.


Untuk itu, diperlukan cara-cara khusus dalam mendidik anak. Yakni, dengan memberi contoh dan menjadi tauladan yang baik bagi anak. Dimulai dari hal terkecil dalam mengajarkan anak hingga hal besar selanjutnya. Dengan demikian secara tidak langsung anak akan termotivasi.


"Jadi, apa yang dilihat (oleh anak) itu lebih mengena, dari pada hanya menasehati. Karena perbuatan itu lebih cepat ditiru," ujar perempuan pernah meraiah Harapan III MTQ se-Dunia di Jordania tahun 2017 itu.


Alumni Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak itu pun mempersilakan perempuan milenial untuk menggapai cita-cita masing-masing. Baginya, perempuan bebas berkiprah dimana pun dan tidak membatasi diri. Akan tetapi, ia tidak lupa menjadi perempuan seutuhnya yang bermanfaat bagi umat dan keluarga.


"Jadi, perempuan itu jangkauannya luas, tetapi tidak boleh melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan," jelas peraih Juara I MHQ Tafsir Bahasa Arab tingkat Nasional di Padang, Sumatera Barat tahun 2020 itu.


Sebagai informasi, Ning Nida pernah mewakili Indonesia dalam ajang MHQ Internasional di Dubai tahun 2019. Ia juga pernah ikut kompetisi Sheikha Fatima Bint Mubarak Internasional Holy Qur'an Competition 4th session pada tahun 2019.


Matraman Terbaru