• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Matraman

Tingkatkan Kualitas Pendidik, JQHNU Trenggalek Gelar Pelatihan Tahsinul Qur'an

Tingkatkan Kualitas Pendidik, JQHNU Trenggalek Gelar Pelatihan Tahsinul Qur'an
Pelatihan Tahsinul Qur'an oleh PC JQHNU Trenggalek. (Foto: NOJ/ Marisa Khoirila)
Pelatihan Tahsinul Qur'an oleh PC JQHNU Trenggalek. (Foto: NOJ/ Marisa Khoirila)

Trenggalek, NU Online Jatim
Pimpinan Cabang (PC) Jam'iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Trenggalek menggelar pelatihan Tahsinul Qur'an pada Ahad (17/04/2022). Kegiatan itu dipusatkan di Aula Pondok Pesantren Darussalam, Sumberingin, Karangan, Trenggalek.


"Dengan mengadakan acara Tahsinul Qur'an ini kami ingin meningkatkan kualitas para pendidik di bidang membaca Al-Qur'an agar menghasilkan peserta didik atau santri-santri yang benar-benar tahu dan paham mengenai ilmu membaca Al-Qur'an,” ungkap Ketua PC JQHNU Trenggalek, Rizal Furqan Ramadan, Ahad (17/04/2022).


Menurut Rizal, selain itu dilakukan karena jarang adanya pelatihan Tahsinul Qur'an di wilayah Trenggalek. Menurutnya, dengan adanya pelatihan ini para guru akan mampu memberikan contoh yang benar bagi para santrinya.


"Karena rata-rata guru agama Islam di Trenggalek beberapa belum benar-benar mengetahui cara membaca Al-Qur'an yang benar," tambahnya.


Ia menjelaskan, terdapat dua jenis materi yang diberikan pada pelatihan ini. Pertama melalui teori dan yang kedua adalah praktik. Disebutkan, pelatihan membaca Al-Qur'an jika tidak melalui praktik hasilnya sama saja dengan tanpa pelatihan.


“Dengan praktik akan diketahui dimana kekurangan dan kesalahan dalam membaca Al-Qur’an,” terang Rizal.


Dijelaskan, bahwa tahsin berbeda dengan tilawah. Bila tilawah adalah seni baca Al-Qur'an dengan lagu, maka tahsin adalah cara mempelajari makharijul huruf dan tajwidnya. Bagi dirinya, tilawah memiliki keterbatasan peserta, sedangkan tahsinul Qur'an pesertanya bisa lebih luas.


“Jika ingin jadi qori harus benar dulu bacaan Al-Qur'annya, baik tajwid dan yang lainnya. Namun, pada Tahsinul Qur'an tidak harus benar atau tahu tajwid, karena itu merupakan isi dari teori Tahsinul Qur'an,” tandasnya.


Diketahui, antusiasme peserta pelatihan Tahsinul Qur’an cukup banyak meski bulan Ramadhan. Tercatat ada sekitar 100 peserta usia 11-50 tahun mengikuti kegiatan ini.


Matraman Terbaru