• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Matraman

Kepala Kemenag Nganjuk Ajak Perkuat Moderasi Beragama di Masyarakat

Kepala Kemenag Nganjuk Ajak Perkuat Moderasi Beragama di Masyarakat
Kepala Kemenag Nganjuk, Moh Afif Fauzi. (Foto: NOJ/ Haafidh NS Yusuf)
Kepala Kemenag Nganjuk, Moh Afif Fauzi. (Foto: NOJ/ Haafidh NS Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk, Moh Afif Fauzi mengajak berbagai elemen untuk memperkuat moderasi agama di masyarakat. Sebab menurutnya, moderasi beragama merupakan proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebihan.


Hal itu ia sampaikan saat memberikan materi Penguatan Moderasi Beragama kepada Penyuluh Agama Islam se-Kabupaten Nganjuk. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nganjuk pada Senin (30/05/2022).


"Maka dari itu perlunya memiliki cara pandang dan sikap moderat dalam beragama, karena hanya dengan cara itulah keragaman dapat disikapi secara bijak. Sehingga toleransi dan keadilan dapat terwujud di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini," tutur Afif.


Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini menyebutkan, penguatan moderasi beragama adalah bagian upaya mewujudkan salah satu program prioritas Menteri Agama. Sejak itu, Ditjen Bimas Islam terus menyosialisasikan moderasi beragama kepada seluruh ASN Bimas Islam hingga tahun 2023, baik dari tingkat pusat maupun daerah.


"Kami berharap usai pelatihan ini para peserta mampu mengaplikasikan ilmunya di masyarakat, sehingga kerukunan antar suku, golongan dan umat beragama menjadi semakin baik," lanjutnya.


​​​​​​​Afif melanjutkan, kerukunan dan toleransi di Indonesia tidak terlepas dari nilai-nilai yang ada dalam dasar negara Pancasila. Menurutnya, pancasila dapat menyatukan kemajemukan bangsa Indonesia dengan tetap menghormati nilai-nilai dan praktik beragama yang dianut masyarakat.


Terdapat satu contoh kasus dimana sebagian orang menganggap gamis sebagai busana Muslim atau pakaian yang disunnahkan Rasulullah. Padahal, itu adalah pakaian sebagian masyarakat arab kontemporer.


“Melihat hal ini, artinya sikap Rasulullah tetap menghormati adat dan budaya masyarakat Arab waktu itu, dan itulah moderasi beragama,” sambung Afif.


Maka dari itu, Afif berpesan untuk selalu menjaga diri, keluarga dan berkontribusi kepada lingkungan untuk selalu berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja. Sebab, melalui ajaran tersebut moderasi beragama dapat bterwujud.


​​​​​​​“Dengan sikap moderat inilah Indonesia akan menjadi negara yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur,” pungkasnya.


Matraman Terbaru