• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Matraman

Lakpesdam NU Nganjuk Harap Pesantren Tidak Tergerus Disrupsi

Lakpesdam NU Nganjuk Harap Pesantren Tidak Tergerus Disrupsi
Wakil Ketua PC Lakpesdam NU Nganjuk, Kiai Moh Burhan. (Foto: NOJ/ Hafidz Yusuf)
Wakil Ketua PC Lakpesdam NU Nganjuk, Kiai Moh Burhan. (Foto: NOJ/ Hafidz Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim

Wakil Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Nganjuk, Kiai Moh Burhan mengatakan di era digital pesantren diharapkan dapat beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini perlu dilakukan agar tidak tergerus gelombang disrupsi.

 

“Namun demikian, hal tersebut dilakukan dengan tetap mengacu pada kaidah al-muhafadhatu 'ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang masih relevan dan mengambil terobosan baru yang lebih baik,” ujarnya saat ditemui NU Online Jatim, Ahad (17/10).

 

Menurut Gus Burhan, sapaan akrabnya, cara pertama yang bisa dilakukan ialah dengan mengintegrasikan pendidikan klasik pesantren dengan sekolah formal. Pola integrasi antara pesantren dan sekolah formal ini sudah dilakukan oleh berbagai pondok pesantren

 

Disebutkan, salah satu bentuk integrasi pendidikan tersebut ialah dengan mewajibkan bertempat tinggal di pondok pesantren ketika siswa telah menginjak kelas 6 Sekolah Dasar (SD).

 

“Tujuannya adalah untuk menggembleng para siswa agar memiliki pondasi ketakwaan yang kuat. Selain itu, penekanan pada pendidikan moralitas turut menjadi basis pengajaran,” tutur pria yang beralamat di Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambon tersebut.

 

Kedua, lanjut Gus Burhan, pesantren harus menciptakan desiain kurikulum baru dalam konteks pembelajaran. Hal ini dibutuhkan setelah para santri yang belajar di pesantren menguasai keilmuan Islam dengan basis moralitas. Sementara kurikulum yang dibutuhkan ialah spesifikasi ahli dalam bidang keilmuan tertentu.

 

“Bisa dalam bidang teknologi, kedokteran, astronomi, ahli fikih, ahli pendidikan, ilmu tasawuf, ahli bahasa, ahli kimia, dan rumpun ilmu lainnya. Seperti Ibnu Sina yang ahli dalam bidang ilmu kedokteran atau Aljabar yang ahli matematika,” ungkapnya.

 

Ketiga, saatnya pesantren mendidik santri agar mampu menguasai berbagai bahasa, terutama bahasa asing. Sebab, bahasa adalah kunci ilmu pengetahuan. Ia menilai, ilmu pengetahuan yang kini tersebar luas tersedia dalam berbagai bahasa.

 

“Dengan menguasai berbagai bahasa asing tersebut diharapkan para santri mampu menguasai spesifikasi keilmuan yang ditekuninya, sebab tidak semua naskah-naskah keilmuan dapat diakses dengan Bahasa Indonesia,” terangnya.

 

 

Dengan pola inovasi yang demikian, Gus Burhan berharap dapat menjadi acuan pesantren untuk melakukan terobosan baru tanpa meninggalkan tradisi lama yang masih relevan.

 

“Tradisi lama yang sekiranya masih dianggap  baik, tidak perlu ditinggalkan,” pungkasnya.

 

Penulis: Hafidz Yusuf


Matraman Terbaru