• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 3 Desember 2022

Matraman

Lakpesdam NU Nganjuk Kisahkan Dakwah Sunan Bonang di Tepi Sungai Brantas

Lakpesdam NU Nganjuk Kisahkan Dakwah Sunan Bonang di Tepi Sungai Brantas
Burhan Abdul Lathief (Gus Burhan), Wakil Ketua Lakpesdam NU Prambon, Nganjuk. (Foto: NOJ/M Nazar Afandi)
Burhan Abdul Lathief (Gus Burhan), Wakil Ketua Lakpesdam NU Prambon, Nganjuk. (Foto: NOJ/M Nazar Afandi)

Nganjuk, NU Online Jatim

Wakil Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Prambon, Nganjuk, Burhan Abdul Lathief (Gus Burhan) menceritakan kisah Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang saat berdakwah di tepi Sungai Brantas.


“Perjalanan Sunan Bonang kala itu disebut-sebut melintasi wilayah Tanjungtani, Singkal, Combre dan Kertosono di Nganjuk,” ujar Gus Burhan, Selasa (29/03/2022).


Gus Burhan menjelaskan, bahwa Sunan Bonang sempat mendirikan langgar (mushala) di tepi barat Sungai Brantas atau tepatnya di Desa Singkal. Kala itu, Desa Singkal merupakan bagian dari wilayah pedalaman Kediri. Kini, wilayah yang dimaksud adalah Desa Singkal Anyar, Prambon, Nganjuk.


“Historiografi Serat Kalam Wadi dan Serat Babad Kedhiri menyebut kalau Sunan Bonang dan pengikutnya terlibat konflik perdebatan dan pertarungan fisik dengan penganut aliran Bhirawa Tantra pada abad-16,” katanya.


Dalam historiografi itu disebutkan bahwa perlawanan penduduk Bhirawa penganut aliran Bhirawa Tantra terhadap Sunan Bonang serta pengikutnya karena adanya kesalah pahaman. Aliran itu melakukan ritual untuk mendapatkan kesempurnaan spiritual, sampai moksa.


Kala itu, Sunan Bonang juga dikisahkan mengubah aliran Sungai Brantas. Sunan Bonang kemudian mendirikan langgar pertama di bagian barat Sungai Brantas, tepatnya di Desa Singkal.


“Pengikut Bhirawa-bhirawi lantas kewalahan melawan Sunan Bonang. Sehingga mereka melaporkan kekalahannya kepada Ki Buta Locaya penguasa di Gunung Klotok, Kediri,” sebutnya.


Gus Burhan mengatakan, bahwa Historiografi Jawa dalam tulisan Serat Babad Dhaha dan Serat Kalam Wadi cenderung memberikan cerita negatif dan kontras dengan dakwah Wali Songo. Di dalamnya, dakwah Sunan Bonan dikisahkan sebagai seseorang yang penyabar, ulet dan gigih.


“Berdasarkan historiografi pada periode lebih tua menggambarkan dakwah Wali Songo cenderung akomodatif terhadap seni, budaya dan kepercayaan lokal,” lanjutnya.


Meski ceritanya kontroversi, bukan berarti mengabaikan sumber informasi kesejarahan. “Setidaknya di sana diakui adanya dinamika dakwah Islam di Kertosono dan pedalaman Kediri saat itu (Tanjungtani, Singkal dan Combre) yang kini termasuk wilayah Prambon, Nganjuk,” ungkapnya.


Kisah Sunan Bonang saat di pedalaman Kediri, juga ditulis oleh alamarhum Agus Sunyoto dalam buku berjudul Atlas Wali Songo. Kisah Sunan Bonang di daerah setempat juga masih dijadikan cerita rakyat, atau folklor.


“Pak Agus Sunyoto menyebut paling tidak itu dihargai sebagai konstruksi budaya, seperti yang tertulis dalam Atlas Wali Songo,” imbuhnya.


Diketahui, selain membahas kisah Sunan Bonang, buku yang diterbitkan Lakpesdam MWCNU Prambon ini juga mengulas Kiai Ageng Ngabdul Mursyad, Laskar perang Jawa Tahun 1825-1830, sejarah pesantren, kelahiran dan perkembangan NU di Prambon Nganjuk.


Matraman Terbaru