• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 31 Januari 2023

Matraman

Meriahkan Hari Santri, Ratusan Santri di Pacitan Ikuti Sarasehan

Meriahkan Hari Santri, Ratusan Santri di Pacitan Ikuti Sarasehan
Sarasehan yang digelar Pesantren Nahdlatussubban Pacitan dalam memeriahkan Hari Santri 2022. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)
Sarasehan yang digelar Pesantren Nahdlatussubban Pacitan dalam memeriahkan Hari Santri 2022. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)

Pacitan, NU Online Jatim
Ratusan santri Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Desa Arjowinangun, Kecamatan/Kabupaten Pacitan memeriahkan Hari Santri 2022 dengan mengikuti sarasehan. Kegiatan bertajuk ‘Pendidikan Santri di Era Society 5.0’ itu dipusatkan di aula pesantren setempat, Kamis (20/10/2022).


Dalam kegiatan ini, Pesantren Nahdlatussubban mendatangkan dua narasumber sekaligus, yaitu, Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Pacitan Dr Mukodi dan Gus Farkhi Asna dari Perguruan Islam Pondok Tremas.


Ketua STKIP PGRI Pacitan Dr Mukodi menyampaikan, pada zaman perkembangan ini banyak orang yang percaya akan kebohongan-kebohongan yang telah diciptakan untuk merusak persatuan.


“Seperti yang disampaikan di media sosial, ada oknum yang meragukan bahkan menyatakan bahwa ijazah Presiden RI ke 7 Joko Widodo palsu. Hal tersebut banyak juga yang percaya dan bahkan turut menyertai oknum tersebut dalam gerakan menyingkirkan kepercayaan rakyat terhadap pimpinan tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,” katanya.


Ia menjelaskan, masyarakat tidak mau menelisik lebih dalam informasi yang muncul. Sehingga dapat mengakibatkan runtuhnya kepercayaan nasional yang mengakibatkan hancurnya suatu bangsa.


“Maka dari itu, kaum muda utamanya santri harus mampu menguasai ilmu pengetahuan agama serta informasi dan telekomunikasi guna dapat membendung aliran berita atau informasi yang tidak valid atau hoaks,” imbuhnya.


Sementara Gus Farkhi Asna dari Pondok Tremas mengatakan, santri pelajar Indonesia adalah mereka yang mampu bersekolah dan juga mengkaji ilmu agama. Seperti era sekarang ini banyak sekali pesantren yang tidak hanya menjanjikan hidup sederhana sebagai santri, namun juga hidup cerdas seperti para ilmuan.


“Biasanya santri itu tidak mau sekolah, hanya ngaji atau mondok. Sedangkan pelajar biasanya hanya sekadar berangkat pagi pulang sore untuk belajar di sekolah tapi tidak mondok,” kata alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir itu.


Gus Asna menyampaikan, saat ini sudah banyak yang dapat mengaji dan paham ilmu agama juga menguasai pengetahuan lainnya. Hal itu berbanding jauh dengan yang hanya paham di satu bidang saja.


“Banyak yang bisa membenahi motor rusak, tapi tidak tahu nama lengkap Imam Syafi'i. Banyak yang tahu kitab Fathul Mu'in, tapi tidak tahu segitiga sama kaki. Oleh karenanya, santri pelajar ini perlu dilanjutkan dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan dari salah satu cita-cita NKRI,” tandasnya.


Matraman Terbaru