• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Matraman

Saat Haul di Pacitan, Katib PBNU Minta Santri Jadi Generasi Emas

Saat Haul di Pacitan, Katib PBNU Minta Santri Jadi Generasi Emas
Tangkapan Layar Suasana Doa Bersama Virtual Haul ke-2 Kiai Imam Fahrurrozi (Foto: Miftahul Mukhlis for NOJ).
Tangkapan Layar Suasana Doa Bersama Virtual Haul ke-2 Kiai Imam Fahrurrozi (Foto: Miftahul Mukhlis for NOJ).

Pacitan, NU Online Jatim

Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlangsung. Namun demikian, doa-doa harus tetap dilantunkan. Seperti halnya peringatan wafatnya Kiai Imam Fahrurrozi yang merupakan anak dari pendiri Pondok Pesantren Nurudh Dholam, Kebonagung, Kabupaten Pacitan yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting, Kamis (15/07/2021) petang.

 

Turut Hadir dalam kegiatan ini KH Luqman Harits Dimyathi selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tremas Pacitan sekaligus Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), serta puluhan partisipan baik dari santri maupun alumni. Dalam kesempatan itu, KH Luqman Harits Dimyathi meminta para santri untuk menjadi generasi emas.

 

Ketua Yayasan Pesantren Nurudh Dholam Kiai Ismail mengungkapkan, sosok Imam Fahrurrozi telah banyak berkiprah untuk kemajuan pesantren. Sosok ketua yayasan pada masanya yang mampu mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di lingkup pondok, sehingga mampu melahirkan santri yang memiliki skill mumpuni.

 

“Kiai Imam Fahrurrozi adalah sosok yang memiliki jasa sangat besar dalam pesantren. Dikenal banyak orang, di lingkup nasional beliau juga dikenal kalangan ulama,” ungkapnya di hadapan puluhan partisipan Zoom Meeting.

 

Sementara itu, Katib Syuriah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya sosok Imam Fahrurrozi dua tahun yang lalu. Sosok yang memiliki pandangan luas, sederhana, dan berani mengambil resiko.

 

“Beliau adalah seorang sosok yang berani mengambil terobosan, tidak neko-neko dan visioner,” katanya.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Tremas tersebut menambahkan, seorang santri selayaknya mampu mengambil ibrah atas wafatnya seorang kiai. Sehingga mampu meneladani sikapnya. “Santri dan alumni harus mengikuti jalan dari almarhum, jadilah Golden Generation NU dan Islam,” terangnya.

 

Ia pun mengimbau kepada santri dan alumni agar nantinya mampu mengembangkan dan  menjaga sinergi lembaga-lembaga di bawah naungan Pondok Pesantren Nurudh Dholam. Seperti halnya sinergi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Aliyah (MA), SMK, Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) dan lainnya.

 

“Kalian harus ingat dan terus menghidupkan pondok pesantren. Sebesar apapun jabatan kalian, tidak akan bisa mengalahkan ilmu yang sudah beliau berikan,” tegasnya.

 

 

Setelah mauidlah hasanah selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil dan Doa Bersama yang dipimpin oleh Mukodi selaku Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kebonagung.

 

Penulis: Miftahul Mukhlis

Editor: Romza


Editor:

Matraman Terbaru