• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Metropolis

Ngaji Pasanan, Kiai Marzuki Sampaikan Amalan Usai Terima Gaji

Ngaji Pasanan, Kiai Marzuki Sampaikan Amalan Usai Terima Gaji
Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar saat Ngaji Pasanan. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)
Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar saat Ngaji Pasanan. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)

Surabaya, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Marzuki Mustamar menyampaikan amalan setelah mendapat gaji dari hasil kerja yang diperoleh dari KH Masduqi Mahfudz. Hal itu disampaikan Kiai Marzuki saat Ngaji Pasanan di aula KH Bisri Syansuri, kompleks Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Senin (11/04/2022).


“Kata Kiai Masduqi, jangan langsung dimasukkan ke kantong baju atau celana. Terlebih dahulul menghadap kiblat lalu mengucapkan La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim dengan posisi tangan berdoa. Lalu, amplop yang berisi uang gaji itu diusap ke wajah dan ditarik ke bawah sampai dada. Baru dimasukkan ke kantong,” ujarnya.


Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Rosyad Gasek, Malang itu, hal tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Selain itu, diharapkan agar sebelum uang gaji habis, sudah mendapat rezeki lagi untuk digunakan dalam kebutuhan sehari-hari.


Setelah menguraikan amalan Kiai Masduqi itu, ia lantas menjelaskan kelompok-kelompok yang sulit dirongrong dan teguh pendidirian. Ia adalah kelompok yang paling sering berkomunikasi dengan jamaahnya.


“Sulit dibubarkan, karena selalu menyatu dengan jamaah,” terang dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.


Kiai Marzuki mengatakan, NU secara konsisten menyatu dengan umat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kegiatan keagamaan atau sosial di masyarakat yang selalu melibatkan tokoh NU sekitar. Seperti talqin mayit, tahlilan, hajatan, maulid nabi, ruah desa dan lain-lain.


“Seringnya Kiai NU berinteraksi ini menjadikan umat sulit menerima kabar hoaks terkait tokoh-tokoh NU. Begitu ada hoaks, kiai kampung segera menjelaskan dan memberikan klarifikasi,” ungkapnya.


Kendati demikian, upaya-upaya untuk mengoyak soliditas Nahdliyin di akar rumput kerap dilakukan kelompok tertentu. Salah satunya dengan memakai strategi membid’ahkan amalan-amalan di atas, untuk menjauhkan interaksi kiai NU dengan masyarakat.


“Alhamdulillah, sejauh ini umat itu istiqamah tahlilan, yasinan dan lain-lain meski terus saja dibid’ahkan oleh beberapa kelompok,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru