• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Metropolis

Pengumpul Donasi Boleh Ambil 20 Persen Dana, Benarkah?

Pengumpul Donasi Boleh Ambil 20 Persen Dana, Benarkah?
Lora Muhammad Ismael Al Kholilie. Foto: Istimewa
Lora Muhammad Ismael Al Kholilie. Foto: Istimewa

Surabaya, NU Online Jatim

Lora Muhammad Ismael Al Kholilie yang merupakan keturunan kelima dari sang Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan memberikan pandangannya tentang hak pengumpul donasi sosial atau kemanusiaan bila mengambil hak 20 persen dari hasil uang donasi. Lora Ismail memaparkan perihal tersebut dari perspektif fiqih serta pandangan ulama.


Pandangan Lora Ismail ini dituangkannya di akun facebooknya. Lora muda ini menuliskan bahwa dirinya menanggapi sebuah tulisan yang menyatakan menyebutkan bahwa seorang amil atau penghimpun dana zakat atau uang amal memiliki hak 12,5 persen sampai 20 persen.


“Saya lalu bertanya-tanya, menurut ilmu imam siapa yayasan atau organisasi sosial boleh mengambil persenan dari uang donasi bahkan sampai 20 persen?,” kata Lora Ismail dalam tulisannya di facebook seperti dilihat NU Online Jatim, Rabu (06/07/2022).


Menurutnya, jika dibahas dari sudut pandang fiqh, organisasi yang sedang menjadi perbincangan publik karena diduga melakukan penyimpangan dalam pengelolaan donasi tidak tepat dikategorikan sebagai amil.


“Karena amil itu harus ditentukan oleh pemerintah atau kepanjangan tangan pemerintah. Itupun hanya dalam BAB zakat, bukan BAB donasi bencana, donasi untuk dhuafa’ dan lainnya. Jadi dari mana dasar hukum boleh ambil persenan lebih dari 13 persen dengan alasan karena bukan badan amil zakat?,” demikian Lora Ismail mempertanyakan.


Ia kemudian menyebutkan data Kementerian Agama (Kemenag) tentang lembaga amil. “Menurut data Kemenag lembaga amil yang resmi ditunjuk pemerintah ada 91 lembaga, dan organisasi tertuduh bukan termasuk di dalamnya,” ujarnya.


Lora Ismail menjelaskan, yayasan atau organisasi kemanusiaan lebih tepat dikatakan sebagai “wakil”, sedangkan para donatur adalah “muwakkil”. Konsekuensinya adalah yayasan tidak boleh mengalokasikan dana di luar hal-hal yang diizinkan oleh muwakkiliin, yaitu para donatur.


“Termasuk untuk gaji karyawan, fasilitas pengurus dan lain-lain, kecuali jika hal tersebut sudah diketahui oleh para donatur dan mereka ridha dan memberi izin,” ungkapnya.


Ia kemudian menuliskan komentar Syaikh Abu Ishaq Asshirazi dalam kitab Al-Muhaddzab :

‎وَلاَ يَمْلِكُ الْوَكِيْلُ مِنَ التَّصَرُّفِ اِلاَّ مَا يَقْـتَضِيْهِ اِذْنُ الْمُوَكِّلُ مِنْ جِهَةِ النُّطْقِ اَوْ مِنْ جِهَةِ الْعُرْفِ لأَنَّ تَصَرُّفَهُ بِاْلاِذْنِ فَلاَ يَمْلِكُ اِلاَّ مَا يَقْتَـضِيْهِ اْلاِذْنُ وَاْلاِذْنُ يُعْرَفُ بِالنُّطْقِ وَبِالْعُرْفِ اهـ.


Selain itu, Lora Ismail menguktip Darul Ifta’ Jordania yang memberi fatwa terkait pertanyaan: apakah boleh yayasan Sosial-kemanusiaan mengambil persenan dari uang donasi?


 Adapun jawaban Darul Ifta:

“Uang donasi adalah amanah yang wajib dijaga dan disampaikan oleh wakil (pengumpul donasi) kepada mereka yang berhak. Jika tidak, maka ia akan mendapat dosa khianat. Selain itu, karena hukum asal dari uang donasi adalah harus dialokasikan pada hal yang telah diniati dan dimaksud oleh para donatur, dan bisa saja para donatur akan menarik kembali uangnya jika mereka tahu bahwa uang donasi mereka akan dipotong sekian persen. Majlis Ifta Jordania telah memutuskan dalam fatwa nomor 202 bahwa tidak boleh hukumnya mengambil sepersenpun dari uang donasi bagi orang atau yayasan yang mengumpulkannya untuk dialokasikan pada hal-hal yang tidak disepakati dari awal oleh para donatur“.


Berikut redaksi fatwa lengkapnya:

السؤال :

هل يجوز للقائمين على جمعية خيرية أخذ نسبة من التبرعات؟

الجواب :

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

الوكيل مؤتمن وما يدفع إليه من أموال الصدقات أمانة عنده يجب عليه أن يحفظها ويؤديها، وإلا كتب عليه وزر الخيانة، وإن تصرف فيها بغير الوجه المحدد له أو قصر في حفظها فقد تعدى وأثم، ويكون ضامناً لذلك المال، ولا تبرأ ذمته منه إلا بدفعه، يقول الله عز وجل: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ) الأنفال/ 98.

وعلى الوكيل أن يوصل الصدقة لمستحقيها، ولا يحاول الاستفادة من هذا المال لمصلحته الخاصة حتى لو كان أحد الأصناف الثمانية، كأن يكون فقيراً أو مسكيناً؛ لأن الوكيل لا يتصرف لنفسه، ولأن الأصل في صرف التبرعات أن يكون حسب نية المتبرع وشرطه؛ فالمتبرع بمنزلة الواقف، والأصل التزام شرط الواقف؛ فلا يُصرف المال إلا حيث أراد، وقد لا يتبرع إن علم أن الشخص الذي يجمع له حصة من هذه الأموال.

فضلاً عن أن الوكيل في الصدقات ليس من العاملين عليها حتى يستحق الثمن، فالعاملون عليها هم المعينون من قبل ولي الأمر، وليس كل من يتولى توزيع الصدقات، فإذا أراد أن يأخذ من الصدقات فعليه أن يستأذن المتبرعين بذلك، فإن لم يفعل فقد خان الأمانة، واستجاب لما يلبسه الشيطان عليه، ويجب عليه التوبة والاستغفار.

وقد صدر قرار مجلس الإفتاء الأردني رقم (202) بعدم جواز أخذ أي نسبة من أموال الزكاة التي يتم جمعها، والصدقة مثلها. والله تعالى أعلم.

 

Dalam Al-Fiqh Al-Islami Syaikh Wahbah Zuhaily juga menyinggung masalah persenan donasi ini:

ولا يصح إعطاء جباة الأموال للجمعيات والمساجد ونحوها جزءاً مما يجبونه من الأموال، ولا إعطاء سماسرة الدور جزءاً من قيمة ما يبيعونه كاثنين في المئة، لجهالة الأجرة، كما أن ما يأخذه هؤلاء الجباة بحجة كونهم من العاملين على الصدقات يعد كسباً خبيثاً غير مشروع؛ لأن المتبرع إنما يتصدق للفقراء والمساكين أوللمساجد ونحوها، لا إلى جيوب هؤلاء العاملين، فإذا أخذوا غير تكاليف السفر وحدها عدّ ذلك ظلماً وزوراً.

الفقه الاسلامي ٥/٣٨٣٥


“Meskipun memang ada ibarot yang memperbolehkan mengambil sekedar uang capek atau ujroh mitsil ( النفقة أو أجرة المثل ), tapi menurut saya ke-wira-ian dan kehati-hatian dalam masalah donasi ini seharusnya lebih kita utamakan, agak tidak diremehkan dan diselewengkan (dalam Fatwa Darul Ifta Jordania diatas disebutkan: meskipun pengumpul dana adalah fakir atau miskin tetap tidak boleh mengambil persenan, dan perlu diketahui Darul Ifta Jordania adalah lembaga fatwa yang berasaskan Madzhab Syafii “ أساسا و منطلقا " ),” ulasnya.


Pemaparan Sayyidina Abdullah Bin Umar:

‎لو صليتم حتى تكونوا كالحنايا، و صمتم حتى تكونوا كالأوتار، لم يقبل اللّه ذلك منكم إلا بورع حاجز

“Jika kalian banyak shalat sehingga mirip seperti tiang, dan setiap hari kalian puasa sehingga tubuh kalian kurus seperti gitar, maka Allah tidak akan menerima semua itu kecuali jika kalian memiliki sifat wara’ (kehati-hatian dalam urusan halal-haram)”.


Editor:

Metropolis Terbaru