• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Keunggulan Memilih Beristri Santri

Keunggulan Memilih Beristri Santri
Sejumlah keunggulan dimiliki istri dari kalangan pesantren. (Foto: NOJ/PRt)
Sejumlah keunggulan dimiliki istri dari kalangan pesantren. (Foto: NOJ/PRt)

Menyambut Hari Santri 2021 pada tanggal 22 Oktober, saya ingin menuliskan rahasia keistimewaan memilih beristri seorang santri lulusan pondok pesantren putri. Yang kini semakin dicari dan didambakan banyak orang untuk menjadi pasangan hidup bersama mengayuh kebahagiaan dalam bahtera pernikahan. Juga mengarungi samudra kehidupan yang semakin penuh tantangan. 

 

Semua pria tentu mendambakan pasangan istri shalihah, bahkan lelaki yang sadar merasa dirinya tidak shalih pun tetap mendamba istri shalihah. Namun untuk mendapatkan istri shalihah, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih di zaman kemajuan medsos dan aplikasi yang serba liberal ini, dimana setiap orang setiap hari berinteraksi sosial secara luas dan pergaulan cenderung semakin bebas tanpa batas. Karenanya diperlukan perjuangan keras untuk mendapatkan pasangan berkualitas.

 

Pesantren kini menjadi salah satu tren alternatif untuk  mencari calon istri. Karena di sana sudah terkenal para santri dididik ilmu agama dan diajarkan hidup sederhana, mandiri, disiplin beribadah, serta patuh terhadap aturan dalam keseharian. Termasuk pergaulan yang hanya sejenis dan tidak bebas, bahkan membawa gawai umumnya dilarang bagi santri di berbagai pesantren.

 

Salah satu keunggulan beristri santri putri adalah kepatuhan mereka kepada suami. Umumnya karena mereka telah diajarkan Al-Qur'an dan sunah juga secara khusus diajarkan kitab nasihat perkawinan yang amat terkenal sejak zaman dahulu yaitu kitab Uqudullujain

 

Kendati kitab klasik tersebut dikritik kaum feminis, tapi terbukti telah membahagiakan jutaan pasangan dalam memelihara ikatan perkawinan. Dan kepatuhan inilah yang  menjadi salah satu pembeda antara istri lulusan pesantren dan sekolah lain. 

 

Di antara nasihat perkawinan yang disebutkan dalam kitab Uqudullujain adalah:
 “Wahai putriku, jaga dan pelihara serta perhatikanlah sepuluh perkara yang menjadi kewajibanmu terhadap suamimu. Yakinlah jika ini engkau laksanakan, akan menjadi kunci kebahagiaanmu dan simpanan pahalamu kelak di akhirat." 


1. Qanaah atau menerima dengan senang hati keadaan suami dan apa pun serta berapa pun pemberiannya.  

 

2. Dengarkan penuh adab ketika suami berbicara serta berusahalah untuk menaatinya (di luar perkara maksiat).

 

3. Jaga penampilan, bersikaplah yang menyenangkan. Jagalah mata suami agar ia senantiasa memandangmu penuh kemesraan dan kebahagiaan.

 

4. Jangan berlaku dan bersikap menyebalkan yang memancing kemarahan dan kemurkaan. Jaga dan perhatikan jangan sampai suami mencium aroma tidak sedap darimu. Beraroma wangilah ketika engkau bersamanya.

 

5. Perhatikan waktu makan suami, temani dia  makan setiap hari di rumah bersama anak-anak dengan sepenuh hati. Agar tercipta suasana hangat dalam keluarga. 

 

6. Jaga waktu tidur atau istirahat suami. Karena keadaan sangat lapar dan kurang tidur cenderung membuat emosi suami lebih sensitif (mudah emosi). 

 

7. Jagalah  dengan penuh amanah harta suami. Jangan bersikap boros dan belanjakan seperlunya sesuai kebutuhan, bukan hanya sesuai keinginan. 

 

8. Pelihara hubungan baik dengan keluarga suami.

 

9, Jangan membantah perintah dan keinginan suami. Ketika engkau membantah, itu akan membuat perasaan tidak nyaman dalam hatinya.

 

10. Jangan engkau sebarkan apa yang menjadi rahasianya. Jangan kau ceritakan urusan rumah tangga kepada orang lain. Karena jika engkau menyebarkan apa yang menjadi rahasia suami dan rumah tangga, itu sama saja dengan engkau mempermalukan dan memancing kemarahan suami. 

 

Demikianlah ajaran kepatuhan terhadap suami yang diajarkan di pesantren. Sehingga menjadikan santri putri umumnya lebih menyenangkan dan taat kepada suami. 

 

KH Ahmad Fahrur Rozi adalah Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang. Wakil Ketua PWNU Jatim, Wasekjen DPP MUI.
 


Editor:

Opini Terbaru